Melihat Peluang Industri Film Islami

0
251

sutradara-film-dani-sapawie-pakar-paham-konstelasi-worldview-dan-_161117171536-211Film dan serial televisi Islami telah mengalami pertumbuhan pesat beberapa tahun terakhir ini. Terbukti film Kingdom of Solomon (2010) mendapat sambutan yang baik di Iran.

Film lainnya Shajarat al-Duur (2013) yang bercerita tentang ratu Muslim pertama Mesir, Harat al-Sheikh dan Imam Ahmed ibn Hanbal (2016). Film-film tersebut  bercerita tentang awal sejarah Islam.

Dilansir dari economist.com, Selasa (22/11), pertumbuhan industri dan serial televisi Islami ini tidak disertai dengan minat yang besar dari penontonnya. Bahkan penonton yang berasal dari dunia Muslim sendiri. Konflik sekterian membatasi peluang untuk film dan serial televisi Islami merambah pasar di dunia Muslim. Seperti konflik Syiah Sunni dan lain sebagainya.

Masalah lain yakni adanya pembatasan dalam pembuatan film Islam oleh negara-negara mereka sendiri. Para pelaku industri menganggap  setiap pemimpin tidak menunjukan dukungannya atas perkembangan industri film ini. Dengan alasan bahwa film yang diproduksi mempromosikan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip Islam.  Hal ini membuat industri film sulit berkembang.

Padahal, film Islami diyakini memiliki daya beli. Proses pembuatan film ini pun menelan biaya yang tak kecil. Sebuah film Iran tentang Pertempuran Karbala (bentrokan Sunni-Syiah di 680AD) yang berjudul He Who Said No” (2015) menghabiskan biaya $ 70m. Film ini diedit oleh Tariq Anwar, pemenang Oscar.

Pada 2012, Qatar dan Arab Saudi mengeluarkan dana $ 53m untuk memproduksi  “Omar”, sebuah serial televisi tentang Omar Ibn al-Khattab, khalifah kedua Islam. “Muhammad: The Messenger of Allah” (2015), juga dibuat di Iran, menelan biaya  sebesar $ 40 juta.

Sutradara film Muhammad: The Messenger of God,  Majid Majidi mengatakan film-film yang dibuat haruslah harus mempromosikan budaya Islam. Pembuat  serial “Omar” bahkan mengklaim bahwa mereka tidak mencoba untuk memperoleh keuntungan.

Para pelaku mencoba menyasar penonton di pasar Barat. Namun melihat iklim politik saat ini, maka peluang untuk membuat film Islami menjadi populer di Barat menjadi kecil.  Dalam jajak pendapat 2016, 46 persen orang Amerika menyatakan pandangan yang tidak menguntungkan umat Islam.

Populasi Muslim hanya sebagian kecil dari populasi Barat. Di Amerika populasi Muslim  hanya 1 persen. Bahkan jika film itu diputar, maka peluang untuk memperoleh penonton yang banyak di negara-negara Barat begitu kecil.

Karena itu, tetap tidak mungkin film Islami masuk ke pasar Barat, meskipun film diproduksi dengan anggaran besar. Hal ini sungguh disayangkan mengingat begitu banyak film-film Hollywood yang menggunakan Timur Tengah sebagai bahan ceritanya. Padahal mereka tidak mengetahui wilayah dan kondisi warganya.

Film Timur Tengah dapat berhasil di luar negeri, asalkan mampu  mengekang antusiasme agama. Sutrada Ayman Jamal telah mengambil pelajaran atas hal ini. Ia memproduksi film”Bilal”yang  akan rilis akhir tahun ini. Jamal mengaku bersemangat untuk mempromosikan pesan universal yang terdapat di film Bilal. Film ini memiliki cerita sederhana tentang seorang anak 7 tahun yang telah menghadapi ketidakadilan dan tirani.

Menururnya, penyampaian pesan universal merupakan satu-satunya cara agar film Islami dapat masuk ke pasar-pasar Barat. Film yang berkaitan dengan konten agama apalagi mengandung masalah sekterian akan mengisi kursi di Timur Tengah saja. [rol]

Comments

comments

LEAVE A REPLY