Rindu

0
469

rinduAku tak memaksanya untuk hadir.
Namun, ketika tiba saatnya aku merasakannya?
Ada luka.
Ada derita.
Ada air mata.
Hingga lupa, dimana letak kebahagiaan saat aku merindu?

Tentangmu.
Yang telah berusaha mengetuk pintu hatiku.
Walau aku tak tahu.
Apa ini hanya sekedar sandiwara ataukah keseriusan yang justru membawaku ke bahligai kebahagiaan?
Aku ingin semuanya bukanlah ujian untukku.
Untuk hatiku yang telah lama tersakiti oleh harapan.

Tetapi, semenjak aku telah ceroboh.
Melakukan hal yang seharusnya tak terjadi.
Aku kehilangan jejak dimana aku harus mencari kabarmu.
Walau aku memahami posisiku ini belum mengizinkanku untuk menghantarkan isi hatiku yang kini mulai mengkhawatirkan dirimu.
Ini mungkin rindu.
Jika memang benar ini ada untukmu?
Aku masih belum berani dan yakin.
Karena aku baru saja merasa bebas dari jangkauanmu.

Aku telah mencoba menjadi seperti yang seharusnya.
Dimana aku harus memandangi bagaimana cara merindu yang semestinya?
Aku tahu ini hanya langkah agar aku bisa percaya diri ketika aku betul-betul bisa melangkahkan kaki seorang diri.
Tanpa seseorang yang ingin menggenggam tanganku untuk menemani tiap waktu yang kadang tak begitu mengerti dengan impianku.

Aku sadar.
Berkat rindu.
Kesiapanku untuk merasakannya.
Harus diuji.
Tak peduli seberapa besar aku tertatih untuk itu.
Namun, ketika aku menyerah?
Mungkin aku telah terbangun dari proses penyiksaan yang tak tahu kapan ia kembali untuk membawa luka.
Yang jelas, akan ada kecemburuan dariNya.
Dan aku belum siap kehilangan segala nikmatNya hanya karena aku merasakan rindu yang terlalu larut di dalamnya.

Ku coba untuk lebih bersabar.
Bersabar untuk merindukanmu entah aku harus melakukannya seperti apa.
Merindukanmu sewajarnya?
Ataukah.
Melanjutkan segalanya yang terlanjur ku lewati tanpa ada sangkut paut darimu?
Jujur, ini terlalu rumit.
Tapi tak serumit saat aku merindukanmu.
Maafkan aku jika rindu ini pernah menyeret namamu di dalam untaian do’aku.

Aku pergi.

Comments

comments

LEAVE A REPLY