Dompet Dhuafa Lanjutkan Program School For Refugees bagi Pengungsi Rohingya

0
132
A Rohingya Muslim woman and her son cry after being caught by Border Guard Bangladesh (BGB) while illegally crossing at a border check point in Cox’s Bazar , Bangladesh, November 21, 2016. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain TPX IMAGES OF THE DAY

A Rohingya Muslim woman and her son cry after being caught by Border Guard Bangladesh (BGB) while illegally crossing at a border check point in Cox’s Bazar  , Bangladesh, November 21, 2016. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain     TPX IMAGES OF THE DAY

Selama konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun, ribuan etnis Rohingya memilih untuk melarikan diri dari Tanah Airnya.

Mereka keluar dengan menumpang perahu kayu sederhana ke negara-negara di sekitar Myanmar. Hal tersebut terpaksa mereka lakukan karena persekusi terhadap mereka sudah di luar batas kewajaran.

Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan mengatakan, selama ini negara yang menjadi tujuan para pengungsi Rohingya adalah Bangladesh, Malaysia dan Indonesia.

Dengan kondisi keamanan daerah tempat tinggal mereka yang mencekam saat ini, bukan tidak mungkin gelombang pengungsi Rohingya akan kembali berdatangan ke Indonesia.

“Mengenai kondisi etnis Rohingya saat ini, Dompet Dhuafa akan menggalang dana dan bantuan untuk mereka. Selain itu, dengan kondisi demikian, bukan tidak mungkin mereka akan keluar dari daerahnya dan mengungsi,” kata Imam kepada Republika, kemarin.

Ia menerangkan, Dompet Dhuafa akan mempersiapkan kemungkinan datangnya pengungsi Rohingya. Selain itu, Dompet Dhuafa juga akan meneruskan program-program bantuan untuk pengungsi yang selama ini dijalankan. Salah satunya adalah program School For Refugees.

Selama ini, kamp pengungsi Rohingya di Indonesia berada di daerah Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam. Menanggapi kemungkinan adanya kembali gelombang pengungsi, Dompet Dhuafa mulai bersiap untuk menangani hal itu. Saat ini Dompet Dhuafa sedang menyiapkan bantuan untuk mereka.

Dikatakan Imam, beberapa waktu lalu operasi militer dilancarkan secara membabi-buta ke wilayah etnis Rohingya. Human Rights Watch merilis kondisi Myanmar yang sangat mencekam. “Tak kurang dari 900 rumah penduduk hancur, foto citra satelit dengan jelas menunjukkan,” ujarnya.

Comments

comments

LEAVE A REPLY