Duka Aleppo

0
218

By: Ust Arief B. Iskandar:

Duka Aleppo

Air mata darah
Luka-luka parah
Runtuhnya rumah demi rumah
Rontoknya gedung-gedung sekolah
Luluh-lantaknya ratusan madrasah
Ratusan kepala terbelah
Ribuan jenazah bergelimang darah
Sungguh teramat lumrah
Bukan di negeri antah-berantah
Tapi di Suriah nan berkah

Para Muslimah shalihah
Bunuh diri dengan gagah
Tak rela diperkosa para bedebah
Itulah aksi berani mati
Melawan para anjing tak bernyali
Demi harga diri
Dan melindungi lambang suci

O, Aleppo
Anak-anak bermain-main dg mesiu
Tak ada lagi tawa lucu
Tak ada lagi aksi melemparkan dadu
Semua direbut serdadu bergincu
Yang tak tahu masa lalu
dan tak kenal rasa malu

O, Aleppo
Tak ada boneka atau tamiya
Yang ada adalah luka di dada
Tak ada game atau main bola
Yang ada adalah moncong senjata yang siap ledakkan isi kepala
Anak-anak tak berdosa

O, Aleppo
Kaupasti tak mau kepo
Kenapa para penguasa petro
Hanya asyik berfoto-foto
Berselfie di samping volvo
Dan singgah dari resto ke resto
Menikmati aneka presto
Saat kau sekarat disembelih para algojo

O, Aleppo
Dukamu di dada
Lukamu di kepala
hanya jadi bahan berita nista
Tangis bayimu yang tak berdosa
hanya jadi tontonan hampa
Para wanitamu yang diperkosa hanya jadi akhir cerita biasa
Ribuan nyawa direnggut paksa
hanya jadi wacana demi wacana

O, Aleppo
Tak ada sedikitpun simpati
kecuali dari para penguasa banci
Tak ada secuil pun empati
kecuali dari PBB yang sangat ahli bersandiwara dan berbasa-basi
Tak ada fatwa dari para ulama
kecuali agar melafalkan doa-doa
Bukan fatwa yang menghujat para penguasa
Yang hanya membariskan para tentara
di barak-barak mereka
Sambil terus mengoleksi basoka
di gudang-gudang senjata

O, Aleppo
Tuhan mungkin tak kan pernah sudi maafkan kami
Yang hanya pintar dan sangat ahli
merafalkan doa dan jampi-jampi
Sambil menabur bubuk roti
atau menebar sekardus indomi
Sekadar agar kau tak mati berdiri

O, Aleppo
Tuhan mungkin tlah lama murka
Sebab tak ada pasukan bertopi baja
Yang cinta mati dan benci dunia
Berani maju ke Medan laga
Demi menyelamatkanmu dari marabahaya
Dari kekejian para kafir durjana

O, Aleppo
Kamilah yang lebih layak bunuh diri
Sebab hanya pintar dan sangat ahli
beretorika dan berdiskusi
Sambil menikmati secangkir kopi ditemani sari roti
Dan tontonan berita basi
di metrotivi setiap pagi

Comments

comments

LEAVE A REPLY