Sesungguhnya Allah bersama kita La Tahzan

0
394

Aku dapat mengetahui.
Bagaimana rasanya ditinggalkan.
Bagaimana rasanya kehilangan.
Bagaimana rasanya bergelut dengan rindu yang tak pernah disangka-sangka.
Semua itu adalah hal yang hanya membuat diriku terluka.

Walaupun ada engkau yang hadir dihadapanku.
Bercerita tentang hal-hal diluar sana yang mungkin kau akan menganggap bahwa aku sedang mendengarkannya.
Apa yang kau lakukan itu.
Semuanya sia-sia.
Aku masih belum bisa beradaptasi dengan keramaian.

Keramaian yang menurut mereka itu adalah suatu cara untuk keluar dari zona menyendiri.
Namun bagiku.
Aku tetap sama.
Rasa sepi itu masih ada untukku.

Jika aku sedang diam.
Bukan berarti aku baik-baik saja.
Jika aku sedang tersenyum.
Bukan berarti aku merasa bahagia.
Jika aku sedang menutup mata.
Bukan berarti aku ingin tertidur.
Jika aku sedang mengeluarkan air mata?

Itu sudah jelas.
Aku sudah terlalu jatuh dalam ruang yang begitu sunyi.
Aku seketika tuli.
Bisu.
Buta.
Bahkan menjadi batu.

Dengan menyendiri.
Aku sudah lupa apa itu cinta.
Yang mereka katakan cinta dapat membuat hati bergetar saat merasakannya.
Aku ingin tertawa saat membahas tentang cinta terhadap hambaNya.

Bagaimana definisi cinta dari orang-orang yang masih terjebak dengan statusnya yang tak akan pernah dimaklumi olehNya.
Aku juga merasa hidupku begitu penuh dengan hal-hal yang menurut mereka diriku begitu aneh.
Yang sudah terlalu merasa hidup ini hanya diduduki oleh diriku seorang.

Tetapi mereka terlalu cepat mengambil sebuah asumsi tentang diriku.
Justru, aku menganggap dengan apa yang ku lakukan ini.
Adalah sebuah cara untuk menggapai apa itu bahagia yang sebenarnya.

Maka, biarkan aku menetap dengan kesendirian.
Yang telah membuatku begitu betah.
Untuk hidup dengan cara yang seadanya.
Karena aku yakin.
Bahwa ada DIA yang tak akan meninggalkanku untuk terus menyendiri.

Comments

comments

LEAVE A REPLY