Saat rindu menyapa di persimpangan

0
624

Saat aku sudah berada di persimpangan jalan, jalan yang mana aku pilih untuk meninggalkan masa kelam itu, jalan yang mana aku pilih untuk terus melangkahkan mata hatiku, dan jalan yang mana aku pilih untuk petualangan selanjutnya .

Dengan tiba-tiba kau melintas di hadapanku, kau bersembunyi diam-diam di belakangku, dan kau menikamku secara tiba-tiba untuk terus menerus mengenang apa yang telah berlalu .

Sungguh, sebenarnya aku sudah tak heran jika hal ini terjadi kembali. Aku hanya merasa bahwa diri ini terlalu berat jika harus membawa kenangan dalam luka untuk melanjutkan perjalanan. .

Salah satu cara untuk aku terus melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti di persimpangan karena rindu yang menyapa adalah aku harus dengan tega membunuh, meninggalkan, dan melepaskan rindu yang menyapa .

Memang sulit, sulit sekali rasanya membunuh rindu secara paksaan, tapi aku tak akan bisa melanjutkan perjalanan jika rindu akan terus bersemayam dalam diri. Tidak, itu tidak akan mungkin terjadi .

Bagiku, rindu itu hanya sebuah rasa yang melintas hanya sementara dan itu tak lama. Untuk apa rindu hadir jika hanya membawa luka?
Sudahlah, sekarang kita mempunyai jalan masing-masing. Aku harap kau tetap dalam posisimu, kembalilah pulang pada tempatmu .

Jangan hinggap di hati seseorang yang sudah mempunyai niat untuk melanjutkan perjalanannya, karena dirimu telah membawa beban yang berat baginya jika terus menerus menikam secara tiba-tiba . . . 📝@nilam.tikasari

Comments

comments

LEAVE A REPLY