Cinta dalam do’a

0
818

Apa kabar, Tuan ?
Lelaki yang selalu kusemogakan dalam meniti masa depan.
Tak ada perkenalan, sapaan, bahkan bualan.
Pertemuan pun hanya sebatas ketidaksengajaan.
Mungkin semesta sengaja menuntun rasa menuju kita.
Bagaimana bisa Puan sepertiku jatuh cinta kepadamu ?
Kata orang, jatuh itu sakit. Dan cinta adalah rasa bahagia yang teraba lewat hati.
Bisakah dua hal yang kontradiktif berpadu menjadi satu ?

Abusy-Syaish berkata dalam syairnya :
Hawa nafsu mengikuti keinginanmu
Tak sanggup aku mendahului atau meninggalkannya
Engkau taklukan aku dan jiwaku
Tidak seorang pun yang menghinakannya
Engkau laksana musuh, sehingga aku mencintai mereka
Engkau pun tak ubahnya seperti mereka
Mencintaimu adalah kenikmatan
Tak kuhirau lagi segala celaan

Dunia seakan surga, bagi kita yang tengah dilanda cinta.
Adalah hal tabu, ketika cinta jatuh pada waktu yang tak semestinya.
Hidup adalah pilihan. Dan diamku adalah sebuah pilihan untuk menjaga kemuliaan atas hak-Nya.
Tersebab ada hati yang perlu di jaga hingga nanti.
Ada rasa yang menuntut untuk tak dihakimi pada segala sepi.
Entah menujumu atau bukan, pintaku hanya untuk mengharap ridho Ilahi.
Aku tidak ingin terperdaya oleh hasutan nafsu belaka.
Mengumbar cinta yang semestinya tetap terjaga.
Cukup bagiku mencintaimu dalam diamku.
Dalam rapalan doa-doa yang kuaminkan.
Dalam balutan rindu untuk tetap menanti temu.
Sampai tangan Tuhan yang menyatukan.
Hingga waktu lupa akan sebuah pengharapan yang teracuhkan.

Comments

comments