LISENSI HATI (Karna cinta bukan semata milik kita, tapi Dia)

0
694

Tidak ada yang berhak mematahkan hatimu kecuali Dia.
Sungguh, pengaguman yang selama ini kau perjuangkan hanyalah fana belaka.
Dia yang kau sebut dalam doa, bisa jadi milik orang lain yang sudah tertulis oleh-Nya.
Lantas, bagaimana cinta bisa tumbuh tanpa tahu apa yang di mau ?
Bukankah ada Dzat yang maha membolak-balikan hati ?
Segala ketidakmungkinan akan menjadi mungkin karena kehendak-Nya.

Perihal cinta, ada hal yang tak bisa diterka.
Ada hati yang entah sampai kapan takkan lelah menanti.
Hingga jarak tak lagi berarti.
Dan segala rindu yang di tunggu akan sampai pada diri.

Aku adalah bayangan hitammu.
Selalu gagah berdiri di belakangmu.
Mengikuti setiap jejak yang kau jajaki.
Dan sampai kapan pun tak kan bisa meraihmu.

Definisi terberat dalam menunggu adalah rindu.
Aku harus mati-matian membunuh ego untuk tak mengusikmu.
Berpura-pura bahwa tak lagi menghiraumu adalah baik-baik saja bagiku.
Berat. Tapi dengan segala hormat, aku harus berusaha untuk kuat.

Mencintai dalam ketidakhalalan adalah ujian.
Teramat sakit ketika suatu saat cinta harus salah alamat.
Tidakkah itu sia-sia ?

Cinta selalu tahu kemana ia harus pulang.
Entah menjemput senang, atau hanya merajut kenang.
Padamu, kuharap engkau tahu tanpa perlu kuberitahu tentang itu.

Dan melepasmu pada akhirnya adalah pilihan.
Bahwasannya kepemilikan yang hakiki ada pada Rabbi.
Tak patut rasanya jika ada rasa yang tersimpan cukup lama tanpa lisensi.
Bukan hakku memaksamu melirik sedikit pinta dalam hati.
Tersebab ada hati yang semestinya harus terjaga suci.

Tenanglah, Tuan.
Mencintaimu pada saatnya bukan lagi suatu kemubaziran.
Ia akan berubah menjadi keberkahan.
Tapi nanti, ketika segala doaku telah terealisasi.
Pada saat sang pemilik cinta mengijabahi pinta diri.

Comments

comments