Seperti biasa aku larutkan hari-hariku untuk menulis dan membaca buku, mencari sesuatu untuk aku ingat, mencari cerita bisu untuk aku dengar dan untuk aku ceritakan nantinya.  Bukan tanpa ada alasan aku melakukan itu. Selain karena saat ini aku masih bodoh maka dari itu aku ingin menjadi  sosok perempuan yang cukup cerdas untuk orang yang sekelilingku. Kenapa? Alasannya sangat sederhana  untuk di katakan namun itu cukup rumit untuk kulakukan ternyata, aku ingin  menjadikan dirimu beruntung memilikiku, hanya itu.

Aku memang tidak rupawan seperti wanita lain, style fhasionku biasa saja dan kecantikanku teramat sangat sederhana. Maka dari itu, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk membuatmu jatuh cinta jika hanya mengandalkan wajah nan rupawan saja. Cukuplah aku yang menjadi diriku,  biarkan aku indah dengan caraku sendiri tanpa perlu memaksakan diri untuk menjadi indah dengan menjadi orang lain. Kamu tidak usah tahu betapa berat usaha keras yang kulakukan hanya untuk terlihat indah dimatamu kelak. Biarkan hasil yang menceritakan nanti tentang kesusahan yang aku alami saat ini.

Indah rupa bagiku itu hal yang biasa maka wajar jika banyak mata yang menyukainya tapi bagaimana jika yang sangat indah itu sebuah hati? Hati adalah  hal yang sangat sulit untuk dilihat dan tidak ada satu pun yang mampu untuk menjangkaunya bukan? kecuali diriku sendiri dan sang pemilik hati. Sadar akan keterbatasan rupaku maka dari itu aku berharap tuhan akan mencantikan hatiku. Lalu bagaimana caranya? Dengan menyimpan kerinduan ini dalam barisan doa, menitipkan cinta ini dalam ketaatan dan melabuhkan hati untuk berjalan dengan keistiqomahan.

Sampai saat ini aku tidak memberanikan diri untuk memastikan bahwa hati ini cantik, namun dirimulah yang akan memastikannya, mamastikan dengan cara yang benar dan baik. Suatu saat nanti aku dan hatiku akan kamu ajak untuk meniti jalan bersamamu di masa depan. Maka dari itulah aku persiapkan hati ini sedari sekarang agar di saat kamu datang hatiku sudah tidak dalam keadaan penuh kebimbangan.

Tidak perlu tergesa-gesa meminta kita untuk dipertemukan dan dipersatukan. Biarkan takdir itu mengalir seperti air. Sebelum kita benar-benar bertemu biarkan terlebih dahulu doa-doa kita yang bertemu. Mungkin nanti akan indah sekali jika kita mendengarkan mereka bercerita tentang usaha kita berdua.

Tak kupungkiri bahwa rindu ini tidak berhujung untukmu, tidak hanya sebatas rindu ada rasa yang menggebu ketika aku menyemai doa tentangmu, calon imamku. Entah siapa dirimu dan dari mana asalmu? Wajah yang sering kulihat dan kutemui atau wajah asing yang belum pernah kukenali. Bisa jadi kita sering bertemu, tertawa gila bahkan menangis bersama dan bisa jadi pula kita sama sekali tida pernah di pertemukan. Namun siapapun dirimu kelak, aku hanya berharap hatiku akan kamu miliki dengan utuh, karena aku sangat bersusah payah untuk  menjaganya.

Sepanjang waktu akan kuhabiskan untuk menunt ilmu, hal ini aku lakukan bukan untuk menyaingi dirimu atau ingin melebihi kepintaranmu. Sepintar apapun diriku nanti tetaplah dirimu yang melebihi. Kamu harus tau, ada tugas lain untukku selain menjadi istrimu yaitu dengan menjadi seorang guru. Guru untuk anak-anak kita nanti.

Aku akan merangkai ilmu. Semua yang kulakukan haruslah menjadi ilmu, baik itu perkataan, pendengaran dan penglihatanku sendiri. Karena aku adalah pengajar sejati dari anak-anak kita nanti. Jika aku tak punya ilmu? Apa yang akan aku ajarkan pada mereka. aku tidak akan membiarkan mereka bodoh sepertiku dan tindak tanduknya akan kacau karena melihatku yang tidak memiliki ilmu.  Jadi sebelum aku mencerdaskan mereka terlebih dahulu akan kucerdaskan diriku

Awalnya memang terasa sangat aneh setelah waktu ke waktu ada rindu yang menunggumu, Ada yang berubah dariku setelah mengenal rindu itu. Bukan berubah karena berdandan di saat nanti hendak berjumpa denganmu. Akan tetapi,  akhir-akhir ini aku lebih suka berdiam diri melelapkan dengan mencari ilmu, merias diriku dengan ketaatan, dan berbenah dalam sikap yang tidak baik merubahnya untuk menjadi baik. Mengapa? Karena aku malu, malu ketika kelak aku menemukan sosok imamku, dia akan menyaksikan kekacawan sikapku, kekotoran bahasaku dan ketidak taatanku.

Bersamamu nanti hari-hariku akan terisi dengan sangat indah, ada telinga yang akan mendengarkan ketika aku berkeluh kesah, ada suara yang selalu menasehati, ada tangan yang selalu mengarahkan dan ada pundak yang menjadi sandaran.

Pada akhirnya aku hanya perlu mensyukuri siapa yang menjadi miliku nanti dan yang harus aku lakukan saat ini adalah menikmati setiap hal yang aku tempuh tanpa terlalu banyak berkeluh kesah. Sesuatu yang pasti akan datang perlahan, aku hanya membutuhkan ruang untuk bersabar dengan hati yang istiqomah padanya dan jiwa yang selalu taat untuknya agar di masa depan aku tidak menuai hambatan ketika meniti jalan kebaikan.

Sri Dewi | 31/01/17

Comments

comments