Untukmu yang datang sendiri ke resepsi pernikahan , mohon bersabar, ini ujian

0
577

Kepadamu yang datangnya selalu kutunggu

Jemu tak lagi memilu

Sesayuan sendiri tanpa peri di pundak kiri

Dan angin yang terhembus tanpa arti

Tak lagi mengiri

Gadis berbalut sucinya gaun suci

Seputih putih bersih

Dan aroma katsuri bak permaisuri

Binarmu dan segala restu Ibu Suri

Tak lagi mengiri

Lengkingan sajak pinta

Dan orang-orang yang menyebutku satria

Merapalkan cinta pada semesta

Itupun tak lagi tereja

Lalu mereka bertanya

Bagaimana cinta bisa terikat tanpa mengikat

Merasa tanpa memaksa

Suka dengan cita

Duka tanpa luka

Ada tanpa pernah mengada-ada

Benci tanpa menghakimi

Syukur tanpa kufur

Satu tanpa beribu

Aku diam

Membungkam

Kuhampiri wali gadisku

Dan itu jawabku

(Love And Memories-Janji Suci-Diera As-siena)

 

Apa yang pertama kali ada di benak kita jika mendengar kata pernikahan ?

Terharu, ikut berbahagia, pasti.

Kadang terbesit, kapan aku dan kamu bisa menjadi satu sepeti mereka ?

Duduk mesra di atas pelaminan. Dunia dan orang-orang menjadi saksi penyatuan cinta yang Allah ridhoi.

Ketika usia sudah memasuki episode baru untuk melangkah ke jenjang pernikahan,

ketika teman-teman sudah mulai menyebar lembaran-lembaran undangan,

ketika orangtua dan keluarga mulai menyinggung soal “kapan”,

sudahkah engkau sediakan jawaban atas jeritan-jeritan tersebut ?

Buat para single khususnya, menghadiri pernikahan dengan status ‘masih sendiri’ seakan menjadi hal yang berat untuk di jalani.

Datang sendiri ke resepei pernikahan, melihat tamu undangan lainnya datang bersama pasangan, sembari menyaksikan kedua mempelai bergandengan tangan di atas pelaminan, mungkin ini ujian, bersabarlah.

Tingkat ke-baper-an akan semakin memuncak ketika satu per satu teman-teman kita sudah berani melangkah menuju ke jenjang pernikahan. Sementara diri, masih saja di penuhi hopeless tentang sosok pasangan nantinya.

Worry ? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Segala sesuatunya sudah tertulis di lauhul mahfudz.

Yakinlah, suatu saat nanti, akan Allah pertemukan seseorang yang akan menyempurnakan separuh agamamu, dengan cinta, dengan keimanan yang akan membimbingmu menuju surga.

Dia, seseorang yang tidak hanya meretas status singlemu menjadi ‘double, tapi juga bersedia mengarungi suka duka dalam menjalani kehidupan, menerima segala kekurangan, dan menjadikan kelebihan sebagai ladang rizki dan pahala untuk bekal nantinnya.

Dia, yang akan menggandeng tanganmu dan berbisik pada dunia “dialah bidadariku”.

Persiapkan saja apa yang semestinya engkau persiapkan. Siapa tau, jodohmu juga sedang bersiap-siap untuk menjemputmu. Bersabarlah 🙂

Comments

comments