DICARI, SOSOK NEGARAWAN

0
521

Hampir mendekati dua dekade selepas reformasi digulirkan, krisis kepemimpinan pasca tumbangnya Orde Baru belum usai. Pejabat datang dan pergi silih berganti. Sosok baru menggantikan yang lama. Namun, nampaknya sosok baru tetap tidak membawa kebiasaan baru, tetap melestarikan tradisi lama saat menjabat. Buktinya, para pejabat yang datang, apakah ia pejabat tinggi negara selevel presiden, menteri, hakim agung atau hakim pada mahkamah konstitusi, hingga pejabat karir, semuanya enggan melepaskan atribut politik dan/atau kepentingan pribadinya saat mengurus negara. Memang jabatan tersebut berkaitan erat dengan karir politik, tetapi bukankah saat menjadi seorang pejabat publik, atau pemimpin nasional, ia sejatinya harus mengurus rakyat tanpa lagi melihat afiliasi politik rakyat tersebut. Tidak perlu menanyakan apakah rakyat yang dipimpinnya merupakan basis konstituennya ataukah bukan. Rakyat adalah rakyat yang wajib diperlakukan secara layak dan adil.
Korupsi yang menjerat pejabat publik semakin mempertegas cerita dihadapan kita bahwa dunia masih menjadi orientasi utama para pejabat. Padahal, fasilitas yang dimiliki oleh pejabat tinggi di negeri ini sudah lebih dari memadai bila dibandingkan dengan 200 juta lebih rakyat yang dipimpinnya. Lalu mengapa pejabat publik ini senantiasa tergoda dan tidak mampu mengendalikan hasrat dunianya saaat berinteraksi dengan uang, berhubungan dengan suap, gratifikasi atau yang sejenisnya?
Adalah benar bahwa krisis jiwa kepemimpinan masih terjadi. Banyak kandidat pemimpin negeri ini yang siap menjadi pejabat, namun miskin dengan sikap kenegarawanan. Jabatan hanya dimaknai dengan memegang kekuasaan, uang dan kewenangan, tidak pernah bersentuhan dengan aspek tanggung jawab transendental (Illahiyyah). Jika seorang pejabat terpilih di negeri ini, ucapan syukur mengalir deras dari mulut pejabat tersebut. Bukan musibah. Padahal konsekuensi jabatan harus dipertanggungjawabkan kepada langit. Titipan amanah dalam jabatannya sesungguhnya bukanlah perkara sepele yang akan mudah untuk dipertanggungjawabkan. Amanah dalam mengurus rakyat dengan segenap kerumitan dan kompleksitasnya, bisa menjadi pedang bermata dua. Bila pejabat ini sanggup mengelola dengan jiwa kenegarawanannya, tidak haus dunia, dapat mengendalikan syahwat terhadap harta yang bukan haknya, ia akan selamat. Seluruh jerih payah dalam mengurus rakyat akan dibayar dengan pahala yang melimpah. Seorang pemimpin adil adalah salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Swt di padang Mahsyar dihari yang sangat panas tanpa busana dan tanpa alas kaki dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah. Rasulullah Saw bersabda, “Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala yaitu, (1). Pemimpin yang adil; (2). Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala; (3) Seorang yang hatinya senantiasa bergantun di masjid; (4). Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala; (5). Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, ‘Sungguh aku takut kepada Allah’; (6). Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; (7). Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.
Seharusnya kita malu saat menyusuri manusia-manusia teladan sekian abad lalu yang menyuguhkan sikap sejati seorang negawaran. Seorang Umar bin Khathathab menolak keras saat anaknya Abdullah bin Umar dicalonkan menjadi khalifah menggantikan Umar. Bukan karena Ibnu Umar dipandang tidak mampu, namun Umar sadar betapa beratnya amanah yang akan dipertanggungjawabkan di depan Sang Khalik kelak. “Cukup seorang dari keluarga Khathathab yang menanggung amanah menjadi khalifah.” Fenomena ini sangat jarang ditemukan di negeri ini. Bila bapaknya menjabat menjadi menteri, maka berbondong-bondong anaknya, sanak saudaranya, rekan-rekan dari partai politiknya, turut serta mencicipi kue jabatan dengan menjadi pemenang tender dan proyek APBN. Sementara rakyat hanya mencicipi remah-remah sisa, itupun jika masih ada.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak henti-hentinya menangis setiap malam, khawatir ada warganya yang terzhalimi dengan kebijakannya atau warganya menuntutnya di hari akhir kelak karena sikap abainya sebagai seorang penguasa. Tidak hanya itu, Umar bin Abdul Aziz patut menjadi teladan saat ia mematikan penerangan di istananya saat malam hari saat anaknya datang untuk urusan keluarga. Umar berkata, “Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga”. Bandingkan dengan pejabat di negeri ini. Fasilitas negara bisa digunakan untuk kepentingan yang bukan peruntukkannya.
Tradisi Islam menekankan bahwa bila seseorang menjadi pejabat negara, maka ia telah mewakafkan dirinya untuk mengurusi masyarakat. Ia tidak menjadi milik keluarga atau partai politik. Ia menjadi milik negara. Mengabdi kepada rakyat. Ia pun senantiasa menjaga tutur kata dan sikapnya. Ia bertutur lembut kepada rakyatnya, tidak menghardik atau berkata-kata kasar. Baik kepada rakyat biasa apalagi terhadap ulama dan orang shalih. Wajar pulalah bila seorang khalifah Umar bin Abdul Aziz selain mematikan lampu istana saat membahas masalah pribadi, disaat hari ini para pejabat tiba-tiba buta tidak dapat membedakan mana urusan pribadi, kelompok dengan urusan negara. Juga sangat dekat dengan rakyatnya. Bandingkan dengan hari ini. Fasilitas negara bisa berubah fungsi menjadi fasilitas pribadi, keluarga dan partai politik di negeri ini, sementara publik hanya bisa menonton dari kejauhan. Pejabat seolah-olah membuat jarak dengan rakyatnya karena ingin dihormati dan dijaga kewibawaannya. Mudah-mudahan saja tidak ada doa terkutuk keluar dari mulut rakyat yang terzhalimi. Bila itu ada, jauhlah berkah dari langit kepada pejabat dan jabatannya tersebut. Wallahu’alam

Comments

comments

SHARE
Previous articleHanya aku dan amal
Next articlePerasaan kita yang sangatlah berbeda
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.