ENSIKLOPEDIA CINTA ( Kisah Cinta Si Penemu Apel)

0
485

Hi… waktu
Entah apa yang akan aku tulis senja ini, tetapi kali ini seperti ada sebuah catatan pendek yang menelisik pikiranku sebuah kisah panjang tentang cinta yang hendak aku ceritakan. Kisah cinta ini begitu benar-benar membuatku ingin menjatuhkan cinta dan melabuhkannya karena allah. Kerena ini adalah sebuah kisah cinta yang mengukir ilmu dengan tumbuh di atas hamparan ketaatan, Cinta yang begitu syahdu diniatkan untuk meraih keridhoan allah ta’ala. Marilah akan aku mulai kisah cinta ini untuk kuceritakan…

Alkisah ada seorang pemuda tampan yang hendak pergi menuntut ilmu ke sebuah tempat yang teramat jauh untuk di tempuh. Pemuda itu tidak hanya tampan ia pun cerdas dan sangat taat pada allah ta’ala, ia begitu menjaga sikapnya dari semua yang telah di larang agama. Suatu ketika dalam perjalanan dia merasa kehausan kemudian ia memutuskan untuk singgah sebentar di tepi sungai yang berair sangat jernih, tanpa berpikir panjang dia langsung mengambil air jernih itu dan meminumnya.

Tak berapa lama di hadapannya ada sebuah apel merah yang terbawa arus sungai, pemuda itu menatapi apel yang hendak melewatinya tanpa berpikir panjang dia pun meraihnya, ia tersenyum memandangi apel yang ada dalam gemgamannya, ia berpikir allah begitu baik, allah tidak hanya menyediakan air yang jernih untuk di minum namun allah juga telah menyiapkan sebuah apel merah yang nampak lezat sekali untuk ia makan yang sedang kelaparan, dengan membaca basmallah terlebih dahulu ia segera melahap buah apel itu.

Hanya satu gigitan dia memakan apel itu rupanya ada sesuatu yang dia ingat dan sangat mengagetkan dirinya, dengan kencang ia berkata yang seketika menghentikannya untuk memakan buah apel itu “Astagfirullah…”
Wajah tampannya memerah dan senyumnya seketika menghilang karena ia merasa bersalah telah memakan apelnyang bukan miliknya. Meski apel ini ia temukan karena terbawa air sungai namun tetap saja apel ini adalah milik orang lain yang telah menanamnya.

“Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini”. Pekiknya menyesal.
Dengan berani karena ingin bertanggung jawab ia memutuskan untuk menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi mencari sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel.

Berhari-hari berlalu tanpa lelah ia mencari dengan berjalan kaki. Tanpa menyerah pemuda itu terus melangkah sampai di kemudian hari dia menemukan sebuah rumah kecil dan di sampingnya terletak ada sebuah kebun pohon apel yang sedang berbuah lebat, pikirnya rumah ini pasti pemilik buah apel yang ia makan sampai ke rumah pemilik apel. Dengan segera ia menuju rumah itu.

Dengan pelan ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“Tok..tokk..tok…”
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam wr.wb.” Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumah.
Pemuda itu di sambut senyuman hangat oleh lelaki tua pemilik rumah, tanpa bertanya siapa dan ada apa ia mempersilahkan duduk di pelataran rumah. Meski nampak gugup dan sedikit takut pemuda itu pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi.
“ begini pak, saya telah memakan buah apel yang terbawa arus di sungai. Saya sudah lancang memakan satu gigit buah apel itu tanpa meminta izin terlebih dahulu dari pemiliknya, maksud kedatangan saya ke sini saya ingin menghalalkan buah apel yang saya makan.”
Lelaki tua itu terdiam mendengar pengakuan pemuda muda yang ada di hadapannya.
“Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua?”. tanya pemuda itu.
Lalu pak tua itu menjawab. “Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berpikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, ia mempertimbangkan akan perjalanannya untuk menuntut ilmu tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha untuk segigit apelnya yang sudah ia makan.
“Baiklah pak, saya mau. Saya ikhlas jika tenaga saya akan menjadi penebus keridhoan dari bapak atas segigit apel yang saya makan. Saya tidak ingin segigit apel itu menjadi penghalang untuk di akhirat nanti” Tegunnya dengan tersenyum.

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa di berikan upah sepeserpun. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun. Dengan wajah semeringah pemuda tampan itu menemui pak tua pemilik kebun apel.

“Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?”
Pak tua itu diam sejenak. “Belum.”
Pemuda itu terhenyak. “Kenapa pak tua? bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu?.”
“Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi.”
“Apa itu pak tua?”
“Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?”
“Ya, aku mau.” jawab pemuda itu.
Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. “Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berfikir kembali, wajahnya memerah menahan kebimbangan dalam hatinya. bagaimana tidak bimbang itu ada, dia akan menikahi gadis yang sama sekali tidak pernah dikenalnya, bahkan selama tiga tahun ini ia tidak pernah sedetikpun melihat putri dari pak tua yang akan di nikahinya .

Gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Bagaimana rumah tangga yang akan di binanya nanti?bagaimana dengan tujuannya untuk menuntut ilmu? Dan bagaimana dengan nasib keluarga yang ia tinggalkan untuk menuntut ilmu?.

Dalam hati ia pun memanjatkan doa “Ya allah tuntunlah aku pada keputusan yang baik, Aku hendak menuntut ilmu kuniatkan karenamu, perjalanan jauh kutempuh. Hingga waktu tiga tahun kuhabiskan untuk menebus keridhoan darimu, sungguh aku tidak ingin enkau membenciku akan kulakukan hal yang sama pula karenamu, bantulah aku untuk membimbing wanita itu di jalanmu meski aku masih tidak berkucupan dengan ilmu”

Dia mengingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Apel itu belum juga halal Karena pak tua itu masih tidak ridha meski ia telah bekerja di kebun apel tanpa di beri upah sepeserpun.
Pemuda itu tidak ingin allah membencinya hanya karena segigit apel yang tidak halan telah ia makan, ia begitu mencintai allah sampai-sampai ia rela mengorbankan apa yang akan di cita-citakannya. Dengan ikhlas dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.
Tanpa menunggu lama pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

“Ayahanda…siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”
Pak tua itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu.”
wajahnya terlihat kebingungan. “Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku? Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia buta, buta dari segala pandangan yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari pendengaran yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari ucapan yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena kakinya tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat.”
Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: “Subhanallah…..”
“Temuilah dia, aku halalkan buah apelku untukmu dan aku halalkan buah hatiku untukmu”
Pemuda itu tersenyum kemudian ia mencium tangan pak tua dengan melinangkan air mata.

Selesai…
Indah sekali bukan kisah cinta yang tertulis dari naskah yang telah Allah buat. Terkadang untuk memberikan sesuatu yang indah, Allah ta’ala selalu membungkusnya dengan perkara yang tak mudah, melelahkan dan bisa jadi sesuatu yang kamu benci. Bukan tanpa alasan? Akan tetapi dengan seperti itu kamu akan tahu betapa besar Allah sangat mencintaimu.

Sri Dewi- 05/02/17

Comments

comments