Menanti Temu

0
638

Sepenggal salam tak bertuan, datang menyapa atas nama cinta.

Tuan, aksara kesekian yang kutulis untukmu seakan tak pernah bosan menyambangi empunya.

Berharap segala kata yang ada, tak akan menjadi sia-sia.

Rinduku rancu. Bagaimana mungkin aku merindui sosok yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Sedangkan hati begitu yakin bahwa rasa akan terbalas pada saatnya.

Tuan, Puanmu ini seolah kalut dalam balutan penantian.

Ketika satu per satu dari sekawanan mulai mendaki tangga pelaminan.

Dan beberapa di antaranya sudah memposting foto momongan.

Ya, janji Tuhan adalah kepastian.

Namun, layaknya rizki yang sudah pasti dijamin oleh-Nya saja, masih harus diikhtiarkan untuk bisa memilikinya.

Pun cinta, dan segala seluk-beluk kisah di dalamnya.

Haramkah jika rindu ini masih tersemat untukmu ?

Atau halalkan saja ! Karna dengannya, istana surga bersiap menanti kita.

-Menjelang fajar, Puan yang merindukan Tuan-

Adakah hal menjenuhkan selain menunggu ?

Adalah menanti temu.

Sebuah harap masih bergeming dalam rentetan waktu.

Menunggu dan menunggu.

Mereka bertanya tentang apa yang kutunggu.

Mereka menerka bahwa tungguku adalah sia-sia belaka.

Tahukah ? Menyertakan proposal tentangmu dalam doa-doaku tak pernah semenjenuhkan itu.

Purnama berganti, namun tunggu selalu bergeming dalam hati.

Berharap sebuah pertemuan akan indah pada waktunya.

Kita tak pernah tahu siapa yang terlebih dahulu bertamu.

Pelaminan atau kematian.

Teruntuk sebuah pertemuan, pada akhirnya kita memang harus saling menunggu.

Entah untuk menanti, atau sekedar meyakinkan diri bahwa rindu tak pernah berdiam diri.

Bu, jika menunggu itu menjenuhkan, apakah menanti jauh lebih mengasyikan ?

-Diera As-siena-

Comments

comments