Goodbye, Valentine!

0
371

Hari Valentine yang diidentikkan sebagai hari kasih sayang itu kian mewabah dikalangan remaja masa kini yang kerap aktif di media sosial. Bahkan mungkin ada yang dengan sangat konsisten menabung untuk mempersiapkan datangnya “Hari” itu. WOW

Sebagai seorang muslimah, kita hendaknya berhenti memiliki mindset sebagai “Si Pengikut Arus” muslimah harus jadi “Si Pencipta Arus!”

Disini saya tidak akan membahas tentang bagaimana definisi atau hakikat valentine. Tapi di sini saya ingin berbagi tips kepada sahabat muslimah, untuk merubah  kebiasaan buruk “ikut-ikutan” dan bermetamorfosa menjadi “MUSLIMAH INSPIRATIF” yang perlu di perhatikan, tips ini hanya membutuhkan dua modal utama, yaitu niat tulus karena Allah dan semangat! Mudah kan?

  1. MEMBACA

Kenapa membaca? Karena ayat yang pertama turun adalah perintah untuk membaca. Sahabat muslimah, kegiatan membaca bukan hanya untuk orang yang mampu beli buku, membaca bukanlah jenis hobi untuk para kutu buku. tapi kegiatan membaca sungguh-sungguh bermakna luas. Untuk siapapun! Orang kaya, orang miskin, orang gaul, orang gak gaul, yang berhijab, yang engga berhijab, semuanya punya hak untuk membaca! Maka bacalah. Mulai dari bacaan yang kau suka, kita tidak perlu berat-berat menabung untuk bisa membaca, karena kau bisa meminjamnya. Dan ada satu lagi rahasia untuk para pembaca yang baik. Bahwa ketika kita membaca banyak buku, maka sebenarnya kita sedang melanglang buana keliling dunia, melalui fantasinya para penulis. Apabila kita tinggal di indonesia, kemudian membaca banyak hal tentang turki, boleh jadi kita bisa memiliki banyak pengetahuan tentang turki. Begitulah. Kau tak perlu menunggu esok untuk memulai menjadi muslimah inspiratif, mulailah dengan membaca banyak buku HARI INI. Ganti kebiasaan membaca status galau dengan status-status yang positif. InsyaAllah, akan Allah bukakan pintu-pintu pengetahuan untukmu.

 

  1. MENULIS

Kenapa menulis menjadi sumber inspirasi? Tentu saja bisa. Saya tidak akan mengambil contoh dari penulis-penulis yang sudah melejit karya-karyanya. Karena otomatis, kalian akan minder “Yaiyalah, dia kan penulis buku” “Dia kan ini dan itu” dsb. Saya akan ambil contoh dari pengalaman saya pribadi. Dan insyaAllah ini akan menjadi alasan kuat bahwa ‘menulis’ adalah salah satu cara untuk menjadi muslimah inspiratif.

Qadarullah, saya mengenalnya dari sosial media beberapa bulan yang lalu. beliau adalah akhwat bercadar. Beliau ini sering sekali memposting hal-hal yang positif. Padahal beliau hanya memposting sajak-sajak yang indah. Begitulah setiap hari postingannya. Tapi siapa sangka? Postingannya menjadi pintu gerbang inspirasi untuk seseorang. Ya, sejak mengikuti postingannya setiap hari di sosial media. Saya tertarik ikut nulis juga. Tertarik mendalami dunia menulis. Perhatikanlah, beliau tidak perlu naik panggung dan di sambut ribuan orang kemudian terkenal untuk mendapat gelar ‘muslimah inspiratif’. Beliau hanya MENULIS. Iya, menulis. Tapi dari tulisannya yang posistif itulah ia mampu membuat seseorang seperti saya menjadi terinspirasi untuk menulis yang positif. Lalu bagaimana cara kita supaya mampu menulis ? Jawabanya kembali ke tips yang pertama. Kita harus banyak membaca, agar akal kita terisi dengan ilmu pengetahuan. Jadi sudah siapkah ukhti untuk memulai menjadi inspiratif dengan menulis?

 

  1. MENGAJI

Boleh jadi, inilah tips yang cukup berat di lakukan. Kebanyakan remaja telah dikelabui mindsetnya oleh zaman. Sehingga pemikiran-pemikiran yang keliru sering kali diucapkan oleh para remaja. Seperti misalnya “Hari gini ngaji? Udah telat kalii, ngaji mah waktu kecil noh!” atau seperti “Buang-buang waktu aja, hati-hati loh ajaran sesat!” by the way untuk menjawab lontaran hujatan seperti itu ada satu kisah menarik tentang mengaji ini.

Suatu hari ada seorang akhwat yang sebal sekali dengan guru mengajinya karena ia di minta datang ke masjid di tengah gerimis manis. Maka dengan malas ia pun datang ke masjid dengan perasaan marah dan sebal, terpaksa menuruti permintaan guru mengajinya karena tidak enak. Setelah tiba di masjid apa yang terjadi? guru mengajinya justru tidak bisa sempurna memberikan pelajaran karena suaranya patah-patah menghilang dan batuk-batuk. Maka dengan sisa-sisa suaranya, sang guru mulai  menyampaikan perihal menuntut ilmu. Dari pertama kali melihat guru mengajinya, akhwat tersebut telah merasakan kegetiran dalam hatinya. “Udah tahu sakit, kenapa tetap nyuruh ngaji?” begitulah kata si akhwat dalam hatinya. Hingga sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat si akhwat ini bahkan bertekat dalam hatinya untuk tidak meninggalkan kegiatan mengaji.

Apa yang sebenarnya terjadi? sang guru dengan susah payah menyampaikan materi yang begitu indah tentang menuntut ilmu, apa kata sang guru? “Dek, hidayah itu tak ternilai harganya. Tidak semua orang Allah kasihkan hidayah. Andai hidayah bisa di beli, maka akan kakak beli berkeranjang-keranjang untuk kakak bagikan kepada adek-adek. Tapi sayangnya tidak, hidayah itu mutlak milik Allah. Tidak di jual, tidak di warisi. Harus dicari, diambil, dipertahankan ! Sama seperti ketika kita hendak berangkat menuntut ilmu. Berapa banyak cobaan yang mendera untuk sampai ke masjid ini? maka sungguh, Allah telah memilih kalian yang hadir di sini sebagai orang yang terpilih. Karena orang-orang yang menuntut ilmu, akan senantiasa dinaungi oleh sayap malaikat. Sayangnya kita tidak bisa melihat sayap malaikat itu, kalau kita bisa melihatnya, maka sungguh kalian akan berlomba-lomba untuk sampai ke majelis ilmu dek. Kakak tahu ini sungguh berat, karena memang  harga surga itu sangat mahal, dan hanya bisa di beli dengan pengorbanan untuk meninggalkan fatamorgana dunia” itulah yang di katakan sang guru di sisa-sisa suaranya. Kalimat indah yang pada akhirnya dapat mengubah jalan hidup si akhwat, dan membuat si akhwat tersebut menjadi inspirasi di lingkungan tempat tinggalnya karena ia senantiasa menerapkan apa yang diajarkan gurunya. Kisah di atas adalah kisah nyata. Saya selalu tertarik membahas ini, karena begitu dalamnya pesan sang guru kepada akhwat tersebut.

Tidak ada kata terlambat untuk mengaji. Bahkan zaman sekarang lebih banyak nenek-nenek yang membanjiri masjid untuk mengaji. Lalu bagaimana dengan kita wahai muslimah muda? Mulai hari ini, datangi masjid, datangi majelis ilmu, sekaligus minta petunjuk Allah dan meminta pertolongan agar senantiasa dimasukkanNya ke dalam golongan orang-orang yang di ridhoi.

Demikianlah tips menjadi “Muslimah Inspiratif”. Saya sengaja membaginya menjadi tiga point saja, agar tips ini dapat mudah dipahami  dan dilakukan oleh siapapun. Jadi, sudah siapkan anda untuk menjadikan “perayaan valentine” yang biasa kita geluti menjadi “Valentine yang terakhir” ? dan bermetamorfosa menjadi “Muslimah Inspiratif” ? -CA

 

Comments

comments