Belajar dari Ketegaran Zaenab, Putri Ulama Al-Azhar

0
862

Jika ada akhwat yang amat pemberani menentang pemerintahan yang keliru dengan jiwa dan raganya, maka ia adalah Zaenab Muhammad Al-Ghazali Al-Jibili.

Seorang akhwat mesir yang lahir di desa Mayyet Ghamar disebuah provinsi yang bernama Daqahliyah pada tahun 1917 Masehi. Putri dari ulama Al-Azhar. Seorang akhwat yang tidak hanya memperlajari Ilmu hadist, tapi juga Tafsir dan Fiqih.

Usia 19 tahun, tahun 1937, ia mendirikan sebuah komunitas wanita-wanita muslim di Kairo. Tujuan pembentukan komunitas ini ialah untuk mengembalikan kekhalifan islam pada masa itu.

Zaenab, selain menjadi pendiri, ia juga merupakan pemimpin dari delegasi-delegasi yang ia kirimkan pada musim Haji untuk berdakwah membahas problematika dalam islam. Dengan kecerdikan dan semangatnya dalam berdakwah, Zaenab berusaha memantikan bara api ke dalam jiwa muslimin untuk bergerak mengembalikan kejayaan islam. Membuat Islam kembali berkembang.

Zaenab bertemu dengan Imam Syahid Hasan AL-Bana pada tahun 1941Masehi. Dan ia pun berbaiat kemudian bergabung bersama Ikhwanul Muslimin untuk menegakkan panji-panji islam. Ia memimpin salah satu divisi yang ada dalam organisasi Ikhwanul Muslimin di saat kelompok ini diintimidasi oleh pemerintah pada tahun 1954, dan perkumpulan itu pun di bubarkan tahun 1964 oleh tentara dengan menyita harta dan kepemilikan mereka.

Mengetahui pesatnya peran media di masa itu, tahun 1980 Zaenab mendirikan perkumpulan wanita-wanita muslim ( majalah Sayyidah Muslimah) dan dibubarkan pada tahun 1985.

Prestasi terbesarnya adalah saat ia berani menjadi “Tertuduh” pada peristiwa bersitegangnya Ikhwanul Muslimin pada pemerintah di masa itu untuk menegakkan kembali kekhalifahan  dan mengembalikan masa keemasan islam pada tahun 1965. Hingga membuatnya di jebloskan dalam penjara.

Zaenab diperlakukan keji di dalam penjara. Ia melakukan berbagai pekerjaan berat di dalam penjara. Hari-hari penuh kesengsaraannya ini di tulis dalam karya tulisnya yang berjudul “Ayyam min Hayyati” (Hari-hari dalam kehidupanku)

Pada bulan Agustus tahun 1971 Masehi, Zaenab dibebaskan dari penjara melalui bantuan Raja Faisal dari Arab Saudi. Pada saat itu, keluarlah ketetapan dari pemerintah Anwar Sadat untuk membebaskan Zaenab. Ia telah diampuni atas tindakkan yang dinilai telah merugikan negara. Kejadian ini terjadi saat Zaenab telah melalui kesengsaraanya di dalam penjara selama 6 tahun.

Apakah perjuangan Zaenab berhenti saat ia di bebaskan dari penjara? Tidak ! Perjuangan itu tetap berlanjut. Namun lagi-lagi musuh-musuh Allah berusaha melemahkan geraknya. Zaenab dianjurkan menghidupkan lagi majalah Sayyidah Muslimah dengan ia sebagai direkturnya. Dana sebesar 300 pounds akan mengalir untuknya setiap bulan, dengan catatan ia harus menyajikan kepentingan-kepentingan pihak donatur. Apa Zaenab menerimanya? Tidak! ia menolak segala kemungkaran itu dengan tegas! Ia mengatakan bahwa mustahil baginya mendirikan sebuah penerbitan untuk mengusung pemikiran-pemikiran sekuler.

Zaenab tetap tegar di jalan dakwah. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia meneruskan berjalan di jalan dakwah dengan mengikuti seminar-seminar di Mesir maupun di luar Mesir.

Zaenab adalah tokoh Muslimah yang sangat memfigurkan sosok Hasan Al-Bana. Zaenab tidak memiliki anak bersama suaminya, H. Muhammad Salim. Tapi baginya, semua ana-anak muslim adalah anaknya.

Karya tulisnya yang terkenal ialah “Ayyam min Hayyati”, Nahwa Ba ‘su Jadid, Maa Kitabullah, Muskilatu Sabab wa Fatayat.”

post by: @cahayaaksara

 

Comments

comments