Bila Cinta Tak Lagi Ada

0
624

Cinta adalah salah satu dari sekian kenyataan. Bahkan merupakan kekayaan yang paling besar yang diletakkan di dalam hati manusia. Tidak ada jalan bagi pencuri untuk mengambilnya. Jika memang demikian, akankah cinta bisa hilang, sementara tak ada seorangpun yang bisa mencuri cinta dari dalam hati?

Ketauhialah, sesungguhnya cinta itu Allah letakkan di dalam hati setiap manusia. Kecintaan akan hilang manakala sesuatu yang kita cintai, hati tak lagi cenderung terhadapnya. Maka hendaklah setiap diri memperhatikan terhadap apa ia cinta.

Hati mempunyai watak mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat buruk padanya. Manakala ada orang yang berbuat baik terhadap kita, tentu kita akan balik memberikan balasan kebaikan padanya, dan tentu saja rasa cintapun bisa hadir kepadanya yang datang dari kebaikan-kebaikan.

Kita tidak sedang membicarakan tentang cinta kepada makhluk, melainkan cinta kepada Allah. Dan tidak ada satupun yang lebih besar perbuatan baiknya daripada Allah, karena kebaikan Allah pada hamba-Nya terjadi setiap saat. Hamba menerima kebaikan Allah pada hamba-Nya dalam semua keadaan.

Kiranya cukup bahwa salah satu jenis kebaikan itu adalah nafas yang hampir-hampir tidak terbesit dalam hati seorang hamba. Ini baru nafas, belum kita melihat dan menghitung kebaikan-kebaikan yang sekiranya jika kita menghitungnya, sesungguhnya kita tidak akan mampu.

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka kalian tidak dapat menghitungnya” (QS Ibrahim: 34)

Belum lagi nikmat Allah yang dari-Nya kita terjaga dan terpelihara di waktu siang dan malam, menjaga dan memelihara serta menghindarkan kita dari hal-hal yang membahayakan. Namun kebanyakan dari kita tidak merasakannya sama sekali.

Katakanlah, Siapakah yang dapat memelihara kalian di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” (Al-Anbiya: 42)

Siapakah yang lebih besar kemurahannya daripada Allah? Semalaman Allah pelihara kita, hamba-hamba-Nya di tempat tidur kita, sedangkan kita menghadap-Nya dengan tulang-belulang.

Sedikit sekali dari kita yang merenung akan hal ini. Betapa sering kita lupa, tidak berusaha berpikir dan memahami, hampir-hampir tidak terbesit, darimana datangnya semua kebaikan yang ada pada diri kita. Sungguh sering kita lalai, bahkan untuk tahu dan sadar kepada siapa cinta ini pantasnya diberikan, sungguh kita tidak memahami. Seluruh anugerah, seluruh nikmat, dan seluruh kebaikan hanyalah dari-Nya, awal dan akhir.

Hamba adalah milik-Nya, harta adalah milik-Nya, dan pahala berasal dari-Nya. Dialah Yang Maha Memberi awal dan akhir. Lalu bagaimana Dzat yang seperti ini tidak dicintai?

Tidakkah diri ini malu? Bagaimana mungkin seorang hamba tidak malu jika mengalihkan sedikit dari rasa cintanya kepada selain-Nya? Siapakah yang lebih berhak dipuji dan dicintai daripada-Nya? Siapakah yang lebih berhak mendapat kemurahan dan kebaikan daripada-Nya? Maha Suci Dia dan dengan Memuji-Nya. Tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Mari kita lihat pertolongan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang dan kecintaan Allah yang sempurna ini kepada hamba-hamba-Nya. Bersamaan ini semua, setelah Allah mengutus kepada kita seorang Rasul yang mulia, menurunkan pada kita kitab paling mulia (Al Qur’an) dan mengenalkan pada kita nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang indah dan mulia, masih saja Allah turun setiap malam ke langit dunia, bertanya kepada kita, menawarkan kebutuhan-kebutuhan kita secara langsung dan mendorong  kita untuk meminta pada-Nya, Dia mendorong yang berbuat buruk untuk bertaubat, mendorong yang sakit untuk meminta kesempuhan pada-Nya, mendorong yang fakir untuk meminta kekayaan-Nya dan mendorong yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan untuk meminta pada-Nya agar terpenuhi. Itu terjadi setiap malam!  Lalu bagaimana Dzat yang seperti ini masih tidak dicinta?

Dalam salah satu atsar disebutkan, “Allah berkata, hai Anak Adam, kebaikan-Ku turun kepadamu dan keburukanmu naik kepada-Ku. Betapa sering Aku berusaha mencintaimu dengan memberikan nikmat-nikmat padahal Aku tidak membutuhkanmu. Dan betapa sering kalian membuatku-Ku marah dengan maksiat-maksiat padahal kamu membutuhkan Aku. Tidak henti-henti malaikat yang mulai itu naik pada-Ku darimu dengan membawa amal keburukan.”

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan, “Cintailah Allah karena nikmat yang telah Dia berikan pada kalian dan cintailah aku dengan mencintai Allah.” (HR At-Tirmidzi)

“Dan orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah.” (QS Al-Baqarah: 165)

Cinta seperti ini adalah cinta yang tumbuh dari memperhatikan pemberian, kebaikan dan melihat nikmat-nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada kita. Setiap kali hati beranjak memperhatikan dan memahaminya, maka bertambah kuatlah cinta. Disana tidak ada akhir dimana perjalan hati berhenti. Sebab cinta kepada Allah kekal selamanya.

 

Ketika Hati Terlanjur Cinta

Ia Mendorong Diri Untuk Melakukan Ketaatan pada-Nya

Mendekat Kepada-Nya

Memohon Belas Kasih-Nya

Ketika Hati Terlanjur Cinta

Kecintaan pada-Nya Mengalahkan Kecintaan Kepada Selain-Nya

Beranjak Menuju Pintu Kebaikan-Nya

Tak Berharap Ada Pintu Selain Pintu-Nya

Duhai Hati . . .

Allahlah Dzat Yang Dicinta Dan Terpuji

Bagaimanakah Mungkin Diri Akan Merujuk Kepada-Nya

Tenang Dengan Mengingat-Nya, Tenteram Ketika Bersama-Nya

Bila Cinta Tak Lagi Ada

 

Comments

comments

SHARE
Previous articleKau adalah orang yang layak untuk di perjuangkan
Next articleCukup lama kita tidak lagi berjumpa
mm
Seseorang yang seringkali melangkah tanpa arah. Tujuan dan harapan kadang kala tak sependapat. Niat dan amalan seringkali tak sejiwa. Dari sekian banyak jalan, berharap menemukan jalan yang benar dan diteguhkan diatas Iman dan Islam.