GAGAL HIJRAH, LALU?

0
736

Kita semua bersepakat bahwa hakikat manusia adalah lemah, mudah terperdaya, muara dari khilaf dan dosa. Sementara itu, dunia, sebagaimana Allah sampaikan dalam QS. Muhammad ayat 36, adalah permainan dan senda gurau semata. Manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai permainan dan senda gurau tersebut, sehingga tidak jarang seluruh jatah usianya dihabiskan untuk menikmati setiap kesenangan dunia.

Namun disamping memiliki kecenderungan kepada nafsu duniawi, sejatinya manusia diberikan fitrah oleh Allah Swt untuk menerima kebenaran (Al-haq) dan sekaligus kebaikan. Saat manusia mengikuti fitrahnya itu, berbuat baik dan sekaligus mengikuti kebenaran, ia akan merasakan sensasi yang luar biasa. Hidup dalam ketenangan dan ketenteraman. Bahkan kebahagian dunia yang ia peroleh melalui berbagai hiburan dan kesenangan, kalah jauh dengan ketenangan dan ketenteraman yang didapat saat ia mengikuti fitrah.
Di jaman sekarang yang serba instan, penuh hiruk pikuk demi mengejar materi. Jaman yang mengedapankan akal, rasional dan sekaligus nafsu, tak jarang semua hal di takar dengan rasionalitas yang sangat mungkin menabrak sendi-sendi fitrah. Tidak punya uang, lalu manusia menghalalkan cara untuk mendapatkan uang. Lupa pada Sang Pemberi rizki. Melihat masa depan. Yang dijadikan sandaran adalah sekolah, kompetensi, koneksi, hingga suap sana dan sini, agar diterima kerja. Lupa bahwa sandaran tersebut tidaklah kekal. Ada Dzat yang seharusnya dijadikan sandaran satu-satunya, yaitu Allah Swt.
Tidak mustahil pencarian untuk kembali kepada fitrah memerlukan waktu yang sangat lama. Setelah sekian banyak menyangkal, menolak, mendebat dan bahkan menggugat kebenaran yang hakiki. Namun, Allah tetap menunggu hambaNya untuk taubat, hijrah pada kebenaran dan kebaikan. Realitas dunia bukanlah kenyataan yang linear, serba teratur dan terkendali. Tidak demikian. Banyak hal di luar nalar manusia. Tidak selalu manusia baik mengakhiri masa hidupnya dengan kebaikan. Tidak otomatis juga, manusia yang salah, akan selalu berakhir dengan kesalahan. Rumus kepastian, barangkali hanya ada dalam hitungan aljabar, tetapi tidak dalam perhitungan realitas dunia. Sinyal hidayah selalu memancar kepada siapapun, selama ia manusia dan masih bernyawa, ia berkesampatan mendapatkan hidayah. Lebih jauh Imam Ibnu Rajab al-Hambali menyatakan bahwa hidayah itu adalah Islam dan iman. Seseorang yang memeluk Islam berarti ia mendapatkan limpahan karunia yang sangat besar.
Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda satu sama lain. Diuji oleh Allah Swt dengan ujian yang sangat bervariasi, lagi-lagi berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain. Dengan ujian ini, tidak sedikit yang merenung dan kembali mendekat kepada Allah. Mencoba taat kepada seluruh aturan-aturan Allah yang sesuai dengan fitrah kemanusian. Bahkan sampai ia merasakan nikmat dan lezatnya iman. Mencintai seluruh proses ibadah dan pertaubatan. Memahami hakikat makhluk yang sangat kecil dan tak berdaya. Bercita-cita mengakhiri rangkaian episode hidupnya dengan khusnul khatimah.
Sinyal kuat hidayah inilah yang mampu membuka relung-relung hati, mengubah secara revolusioner cara berpikir manusia. Mengangkat harkat manusia, dari sosok yang berkubang dosa menjadi sosok baru yang penuh dengan kemuliaan. Sosok-sosok para sahabat Rasulullah Saw Radiyallahu anhum banyak berasal dari manusia-manusia kejam, pendosa dan berkelakuan layaknya kaum barbar, tanpa aturan dan peradaban. Serta merta berubah menjadi manusia-manusia terbaik yang pernah Allah ciptakan.
Hijrah, membersamai dalam kebaikan, membutuhkan konsistensi. Ujian selalu datang saat seseorang sudah mengazamkan untuk berhijrah. Tidak jarang, seseorang yang bertekad untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk, tiba-tiba mencoba lagi, larut dalam kesenangan dan hingar bingar dunia. Seseorang yang awalnya terjatuh, kemudian bangkit, lalu tiba-tiba terjatuh dan tidak mau bangkit kembali. Bahkan terjatuhnya makin dalam dan makin kelam, sehingga sukar diselamatkan, mustahil dibangkitkan. Bisa jadi kita yang sekarang mengalami ini. Berniat menjadi manusia baik, mengikuti kaidah-kaidah Islam dalam kehidupan, namun dalam beberapa kesempatan mengendor kembali lalu terjatuh, lupa bangkit dan terkubur dalam pasir kemaksiatan yang lebih dalam dari sebelumnya. Bisa jadi itu kita. Lalu apakah itu akhir cerita kita? The end of the world, the end of story? Ataukah mungkin ada episode baru? Hijrah jilid kedua, ketiga, keempat dan seterusnya?
Gagal dalam berhijrah sejatinya bukanlah akhir dari segalanya. Selama ajal belum menjemput, maka pintu taubat masih terbuka. Allah senantiasa menunggu pertaubatan manusia. Maka, cobalah untuk memulai kembali langkah pertama untuk kebaikan. Bertaubat kembali dengan taubat yang sebenar-benarnya. Berupaya untuk konsisten terhadap proses kebaikan ini. Terus lakukan kebaikan, setiap saat, waktu dan kesempatan. Kejar target kita sebagai muslim, yaitu derajat takwa. Seseorang yang berhijrah, sejatinya baru memulai proses menuju takwa. Mencintai proses menjadi takwa itulah yang akan memperkuat konsistensi kita. Lakukan introspeksi di penghujung malam. Wallahu’alam bishawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleBerdamai Dengan Perasaan
Next articleNASIHAT CINTA UNTUK PARA PEMIMPIN
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.