TAKUT, ANTARA MITOS DAN REALITA

0
305

Takut sejatinya fitrah yang ada dalam diri manusia, sebagaimana perasaan cinta, kasih, sayang. Ia merupakan manifestasi naluri mempertahankan diri (al gharizal al baqa’). Ia diciptakan hadir secara taken for granted. Manusia takut terhadap setiap cobaan yang menerpanya, miskin, tidak memiliki rizki, tidak mendapatkan jodoh, menghadapi kematian. Allah menerangkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 155 bagaimana takut digolongkan sebagai ujian yang akan Allah beri cobaan. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Dalam ayat di atas, nyata sekali Allah menyebut rasa takut (al-khauf) sebagai bagian dari ujian kehidupan untuk menggolongkan manusia yang tetap bersabar dan tidak. Namun dalam ayat tersebut, Allah mengujinya secara sedikit saja, tidak banyak. Bahkan di balik kesulitan tersebut terkandung pula kemudahan sebagaimana yang Allah isyaratkan dalam Q.S. Al-Insyirah, ayat 5-6, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Allah memberikan paket kemudahan secara sekaligus disaat terdapat kesulitan. Namun terkadang, kita tetap saja membesarkan rasa takut padahal disaat bersamaan ada Dzat Yang Maha Besar yang pasti memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi.
Lalu bagaimana mengelola perasaan takut sementara ia memang akan senantiasa ada dalam diri manusia. Pertama, tumbuhkan pola pikir (mindset) bahwa setiap masalah dan cobaan yang mendera pasti terdapat jalan keluarnya, selalu ada akhirnya. Pada setiap ujian tersebut, hakikatnya memupuk rasa keyakinan bahwa Allah Swt pasti menolong.
Kedua, tumbuhkan keyakinan bahwa setiap masalah yang menakutkan hanya dapat diselesaikan dengan sikap menghadapinya. Katakanlah pada masalah tersebut bahwa “Tuhanku lebih besar dari masalahku.” Lakukanlah seluruh amal shalih secara konsisten dan terus menerus. Tidak meninggalkan shalat wajib, bahkan selalu digenapkan dengan shalat sunnah rawatib, sunnah-sunnah yang lain, seperti dhuha, tahajud, shaum, membaca al-quran, infak, berdzikir setiap saat. Inilah cara Allah untuk mendekatkan hambaNya saat ia diberikan cobaan. Rasa takut akan semakin menipis seiring menebalnya keyakinan kita bahwa Allah pasti akan menolong hambaNya.
Ketiga, jangan terlalu memikirkan berbagai hal yang belum terjadi. Memikirkan hal-hal negatif sejujurnya malah mengundang peristiwa tersebut. Justru sebaliknya, pikirkanlah hal positif dan kemungkinan-kemungkinan solusi yang bisa diterapkan dalam masalah tersebut. Lakukanlah yang bisa dilakukan, jangan terfokus kepada hasil, tapi perbanyaklah berbagai upaya untuk mendatangkan pertolongan Allah. Kisah Sayyidatina Hajjar berlarian antara bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air, secara logika adalah sesuatu yang sia-sia (useless) disaat tidak pernah ditemukan mata air pada hamparan gurun pasir. Namun upaya Hajjar sejatinya melayakkan dirinya untuk ditolong Allah Swt saat mata air zam-zam muncul di dekat kedua kaki Ismail a.s. Memaknai peristiwa tersebut adalah Allah memberikan pertolongan di saat yang tepat, dengan cara yang bisa jadi di luar nalar manusia dan berakhir dengan indah.
Keempat, menghindari penyakit al-wahn. Penyakit ini pernah disitir oleh nabi Muhammad saw sebagai cinta dunia (al-hub al dunya) dan takut mati. Mencegah cinta dunia dapat dilakukan dengan meniru perkataan Abu Bakar r.a yaitu “Letakkanlah dunia di tangan, tidak di hati”. Seluruh harta yang kita miliki, seperti rumah, uang, kendaraan, pekerjaan, bahkan anak, suami/istri, pada hakikatnya bukanlah milik kita. Itu semua hanyalah pinjaman untuk mendatangkan amal pahala di dunia. Maka kesalahan fatal saat kita merasa memiliki secara utuh seluruh harta tersebut padahal semua itu bersifat sementara (fana), tidak kekal. Banyaknya ketakutan yang menghampiri kita bisa jadi karena benih-benih penyakit al wahn ini, maka cara mengatasinya adalah dengan memupuk keyakinan bahwa seluruh harta yang dimiliki sejatinya merupakan pemberian Allah, maka cara lain untuk harta tersebut adalah dengan membelanjakannya pada jalan Allah serta menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Swt.
Kelima, dari keseluruhan rasa takut itu bermuara pada satu hal, yaitu kematian. Sementara kematian adalah sesuatu yang mutlak pasti terjadi. Setiap awal pasti ada akhir. Setiap kehidupan pasti berjodoh dengan kematian. Rasa takut yang sangat tidak akan memperlambat kematian, sebagaimana rasa berani tidak akan mempercepat kematian. Maka cara pengelolaannya adalah dengan memperbanyak amal shalih, mengingat kematian (adzikrul maut) setiap saat dan menjadikan kematian orang-orang terdekat sebagai nasihat terbaik untuk diri kita. Tidak lain itu. Wallahu’alam bishshawab

Comments

comments

SHARE
Previous articleDipisahkan Untuk Dipersatukan
Next articleMEMBANGUN MENTAL KAYA
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.