MENGAPA PERLU MENULISKAN RESOLUSI HIDUP?

0
634

Menulis sejatinya fitrah manusia. Peradaban manusia sejak dibangun kembali oleh Nabi Nuh a.s hingga sekarang selalu diwarnai oleh tulisan sebagai cirinya. Sehingga hal yang wajar bila Allah swt menurunkan kitab suci-Nya secara tertulis yang dibaca oleh seluruh umat manusia dari sejak ia diturunkan hingga sekarang. Al-Quran menjadi kitab suci yang terus ditelaah, dikaji dan ditafsirkan berjaman-jaman sebagai solusi atas permasalahan yang muncul pada umat manusia. Pasangannya menulis adalah membaca. Baca dan tulis akhirnya menjadi kemampuan literasi yang harus dimiliki oleh siapapun bila ia ingin mengarungi jaman, menjadi bagian dari masyarakat beradab (civilized people).

Dalam sebuah penelitian di Harvard University bahwa lulusan yang menuliskan visi secara rinci memiliki penghasilan hingga sepuluh kali lipat dibandingkan yang tidak ditulis (D Kodrat,  2016). Visi merupakan mimpi atau cita-cita yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu. Manusia yang beradab memiliki visi yang jelas tentang peta hidup (road map) dan inilah yang sesungguhnya menjadikan visi sebagai aset termahal dalam diri manusia.

Meme yang sering muncul mewarnai akhir tahun adalah kata-kata seperti, “Resolusi 2018: Melanjutkan Resolusi 2017 yang Belum Tercapai, Yang Dibuat Tahun 2016 Yang Direncanakan Tahun 2015 yang Dicita-citakan Tahun 2014”. Intinya adalah tidak ada resolusi kecuali menjalankan aktivitas as business as usual. Jangankan evaluasi atau muhasabah diri, menyiapkan apa yang akan dilakukan, barangkali tidak terpikirkan. Lagi-lagi, zona nyaman (comfort zone) menjadi kambing hitam, padahal bisa jadi absennya visi ini disebabkan dua hal, yaitu (1). Tidak menganggap visi adalah suatu yang penting; dan (2). Keinginan untuk berubah ada, tetapi keinginan (baca: visi) ini tidak dituliskan, sehingga terlupakan, terkubur oleh rutinitas lainnya.

Alternatif yang perlu dicoba dalam mengawali tahun 2018 ini adalah cobalah menuliskan visi, mimpi dan keinginan yang akan dicapai. Mengapa perlu dituliskan keinginan tersebut, berikut alasannya:

  1. Sejatinya menuliskan keinginan itu adalah doa yang terus dapat diingat kapanpun dan dimanapun. Bila kita menuliskan keinginan tersebut dalam kertas tempel (sticky paper) dan menempatkannya pada tempat-tempat yang biasa kita lewati, duduki atau lihat, maka hal itu akan memberikan kekuatan (strong belief) pada diri kita. Kekuatan keyakinan dalam diri ini akan menstimulasi otak dan memberikan sugesti pada diri bahwa semua itu dapat tercapai dengan ijin Allah Swt.
  2. Menuliskan keinginan merupakan bentuk memprioritaskan hal yang urgent dan sekaligus penting (important) untuk dicapai. Dengan menulis, maka kita mampu memetakan keinginan mana yang dipandang urgent dan important dan mana yang tidak urgent dan tidak important. Urgent memiliki arti mendesak dan harus segera dituntaskan, sementara important adalah penting dan dapat dituntaskan secara jangka panjang.
  3. Menuliskan visi dan keinginan yang akan dicapai selama 2018 dapat dilakukan sambil bermuhasabah (evaluasi). Lingkup keinginan pun tidak hanya berbicara urusan dunia an sich, namun harus berperspektif jauh, yaitu akhirat. Bila perlu, keinginan untuk akhirat harus diberikan porsi lebih besar dibandingkan dunia, mengingat selama ini dunia selalu menjadi prioritas lebih dan mengalahkan kepentingan akhirat. Benar, bahwa dunia penting dan menjadi sarana untuk kehidupan akhirat. Namun tidak jarang, keindahan dunia, senantiasa memalingkan orientasi kita. Seringkali kita lupa, doa yang dirapalkan hampir semuanya berorientasi dunia, seperti kesehatan, rizki materi, anak yang sukses, dst. Dengan menuliskan visi ini, setidaknya kita bisa melihat berapa besar porsi dunia dibandingkan akhirat.
  4. Menuliskan keinginan adalah wujud komitmen yang meninggalkan bekas (footprint) bagi yang menuliskan dan sekaligus dapat dibaca oleh orang-orang terdekat. Orang-orang terdekat ini dapat memberikan kontribusi berbentuk spirit, energi positif yang menjadi daya ungkit (leverage) untuk mewujudkannya. Motivasi apakah itu internal maupun eksternal pada dasarnya menjadi pendorong utama untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.

Mungkin sebagian pembaca ada yang bertanya, mengapa harus di tahun baru masehi atau Gregorian? Kenapa tidak saat tahun baru Islam (hijriyyah). Maka jawabannya adalah bila yang menjadi momentum pembuatan resolusi itu adalah tahun baru Islam, maka setiap bertemu dengan bulan Muharram, resolusi itu dapat dievaluasi dan dibuat resolusi baru. Bila tidak sempat atau terlewat, maka tahun baru masehi dapat dijadikan sebagai momen saja. Yang terpenting adalah kita harus memiliki visi hidup dunia dan akhirat. Memiliki target yang hendak dicapai sebagai bentuk tidak menyia-nyiakan waktu yang Allah Swt berikan kepada kita. Waktu tidak bersifat circular (melingkar), melainkan linear (garis lurus). Selasa, tanggal dua tahun 2018 tidak akan berulang, sebagaimana usia manusia, tidak akan pernah kembali. Karenanya kita semua diingatkan oleh Allah Swt dalam memanfaatkan waktu ini dalam Al-Quran Surat Al-Asyr 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” Wallahu’alam bishawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleMEMBANGUN MENTAL KAYA
Next articleAku Mengaguminya
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.