THE POWER OF NOW: JIKA SEKARANG BISA BERIBADAH, KENAPA MENUNGGU NANTI?

0
864

Sering kita dengar ungkapan, “Masa muda foya-foya, senang-senang. Masa tua taubat dan masuk surga.” Atau ungkapan semisal, “Nantilah setelah pensiun untuk fokus ibadah itu. Sekarang sibuk kerja” Sekilas tidak ada yang salah dengan pernyataan-pernyataan di atas. Di usia produktif, seluruh potensi tubuh kita, dihabiskan untuk bekerja. Pergi pagi pulang petang. Rapat di sana dan di sini. Belum lagi, disela-sela itu, training pengembangan diri. Seluruhnya untuk menunjang karir, pangkat, jabatan dan dunia. Seluruhnya disederhanakan dengan alasan penghidupan (maisyah). Syukur bila terbersit ditujukan untuk ibadah. Maka seluruh aktivitasnya tidak sia-sia. Namun sayang bila niat ibadah ini terlupakan. Hilang ditengah-tengah gegap gempita semangat produktivitas kerja.

Namun, ungkapan di atas seolah-olah menjadi pembenar bahwa porsi ibadah yang khusu’, fokus dengan kuantitas yang banyak nanti dilakukan saat usia tidak produktif. Setelah pensiun. Usia 60 tahun. Ini yang harus menjadi renungan.

Ada yang perlu dibenahi dari cara berpikir kita bahwa ibadah itu untuk kalangan tua, bukan muda. Seharusnya dibalik. Usia muda, disaat emosi meledak-ledak. Syahwat lebih berat untuk dikendalikan, maka seharusnya kuantitas dan kualitas ibadah lebih diperhatikan. Apalagi menyangkut prinsip hidup di dunia. Bila ia memiliki prinsip hidup, “Hidup untuk Yang Maha Hidup”, maka porsi amal untuk akhirat harusnya lebih besar. Seluruh aktivitas dan kreativitas di dunia seharusnya diorientasikan untuk akhirat.

Bisa dibayangkan bila saat produktif, kita minus amal ibadah. Lalu, ajal kita ternyata tidak sampai hingga pensiun. Maka betapa meruginya kita. Atau bisa juga, usia kita sampai pada batas pensiun, namun kondisi kesehatan kita ringkih, terserang penyakit berat yang membuat fisik tidak berdaya. Betapa ibadah yang tuma’ninah sulit untuk dilakukan. Semuanya dilakukan penuh keterbatasan. Tentunya, kita akan lebih memilih beribadah saat fisik kita sehat. Bukankah ibadah itu tidak hanya ibadah mahdah ke hadapan Allah. Ada ibadah ghair mahdah yang barangkali sulit dilakukan bila kita terserang stroke, lumpuh, dan penyakit yang menyerang fisik secara nyata.

Oleh karenanya, saat kita malas beribadah. Baik ibadah ritual maupun sosial, maka ingatlah dan lihatlah mereka yang sudah tua, sakit parah yang tidak mampu melakukan amal. Karena itulah yang akan menguatkan kita untuk bersegera beribadah. Itu pula yang dimimpikan oleh manusia yang telah wafat. Mereka meminta kepada Allah Swt untuk dihidupkan kembali agar mereka dapat diberi kesempatan untuk beribadah. Penyesalan hanya tinggal penyesalan.

Manusia yang cerdas oleh Rasulullah saw digambarkan sebagai manusia yang mampu berhitung dengan ajalnya. Ia mengkalkulasikan amal ibadah saat ia hidup. Tidak ingin kehidupannya hanya berakhir sia-sia. Karenanya, ia senantiasa memperbanyak ibadah sunnah dan wajib. Meminimalkan aktivitas mubah, menjauhi yang makruh dan meninggalkan yang haram. Para shahabat adalah gambaran dari sosok manusia yang cerdas. Mereka menangis bila tertinggal melaksanakan ibadah sunnah. Sangat menyesal bila tidak shalat berjamaah. Bersemangat saat panggilan jihad dikumandangkan. Bersegera saat berdakwah dan menuntut ilmu. Semuanya dilakukan dalam bingkai ibadah. Mencari penghidupan bagi keluarganya pun tidak luput dari orientasi akhirat. Mereka berjuang untuk kehidupan dunia, tetapi tidak mencintai dunia. Perjuangan mereka di dunia untuk bekal kehidupan akhirat. Itu semua mereka lakukan saat usia-usia produktif.

Barangkali Q.S Al-Ahqaf ayat 15 mengingatkan kepada kita bahwa usia 40 tahun harus diberi perhatian khusus untuk bertaubat. Allah Swt berfirman,

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Maka, bagi kita yang sudah berusia 40 tahun atau lebih, maka segeralah bertaubat. Hentikan aktivitas yang penuh dengan sia-sia. Perbanyak aktivitas ibadah mumpung Allah memberikan kesehatan fisik. Bagi yang belum berusia 40 tahun, maka lakukanlah hal yang sama. Tingkatkan aktivitas ibadah. Tidak perlu menunggu hingga usia 40 tahun atau bahkan menunggu usia pensiun. Karena ajal tidak menunggu kesiapan kita. Ia bisa datang setiap saat. Wallahu’alam bishshawab

Comments

comments

SHARE
Previous articleMENJADI MUSLIMAH CERDAS
Next articleJANGAN JADI MUSLIM ZOMBIE
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.