YAKIN SERATUS PERSEN!

0
1089

Keyakinan (belief) merupakan modal terbesar yang harus dimiliki manusia. Allah Swt meminjamkan nyawa dan waktu secara sama ke seluruh makhlukNya. Ia tambahkan pula akal agar manusia dapat berpikir, tumbuh dan berkembang. Potensi akal seyogyanya menghasilkan keyakinan yang kuat (strong belief). Saat manusia bertumbuh secara usia, seharusnya keyakinannya pun membesar, menguat. Pendidikan formal yang dienyam, ilmu dan pengetahuan yang didapatkan, alih-alih memperkuat keyakinannya, malah seringkali gagal dalam menggenapkan kekuatan keyakinan ini. Lihat saja, saat pertanyaan sederhana, “Apa cita-citamu Nak?” maka jawaban lugas keluar dari mulut anak usia TK, “Ingin jadi pilot, ingin jadi dokter, ingin jadi presiden.” Coba pertanyaan serupa diberikan pada mahasiswa atau pada mereka yang baru lulus kuliah. Jawaban kegalauan dan realistis yang hadir. “Yang penting kerja cari pengalaman”, lupa bahwa dulu ia pernah bermimpi menjadi jutawan, Presiden dan profesi. Bahkan saat mencari kerja pun, yang ia katakan malah mencari pengalaman. Seolah-olah membenarkan ketidakpercayaan diri dan ketidakmauan untuk berkompetisi.

Manusia di drive dengan keyakinan. Sejarah para Nabi dan Rasul dan orang-orang besar dalam sejarah membuktikan itu. Mereka dapat meraih apa yang mereka cita-citakan. Rasulullah saw mencontohkan secara nyata. Beliau Saw dalam hidupnya terus menanamkan nilai-nilai keyakinan Islam kepada umatnya dan menularkan ke seluruh alam. Mengikis keyakinan dan nilai-nilai jahili. Islam yang hanya dipeluk dan diyakini oleh segelintir orang di Mekkah, selama 23 tahun terus didakwahkan, dan akhirnya mendunia, menjadi salah satu peradaban terbesar dan terlama yang pernah ada di planet ini. Nabi Muhammad Saw mewariskan keyakinan seratus persen kepada para shahabat r.a bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Al-quran dan Sunnah menjadi solusi atas seluruh problematika manusia yang semakin kompleks. Meski berbeda jaman dan generasi, namun Al-quran dan Sunnah tidak akan pernah kuno (obsolete) dan tertinggal.

Seharusnya, kita pun demikian dalam menghadapi segala masalah dan tantangan. Kita harus yakin bahwa Allah Swt pasti menolong orang-orang yang shalih. Karenanya, janganlah lelah berbuat baik, memperbaiki dan menshalihkan diri. Dikala ada masalah tak terduga datang, kita sulit menghadapinya, maka berhusnuzhan-lah bahwa ini adalah cara Allah untuk mendewasakan kita. Tiba-tiba bisnis kita bangkrut, usaha tutup, diberhentikan dari tempat kerja, maka yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan rizki yang berkah dan lapang. Bukankah manusia sesungguhnya makhluk tak berdaya yang harus diingatkan dengan kesulitan-kesulitan, untuk membangunkan dirinya bahwa ia adalah lemah tak berdaya. Tidak layak untuk sombong.

Sakit yang tidak kunjung sembuh. Sesungguhnya terkandung hikmah dan pelajaran yang sangat besar. Dengan sakit, ada pahala sabar, pengobatan dan membuka kebaikan bagi yang menjenguk. Disamping itu, bagi yang sakit, ia memiliki waktu luang untuk merenung, berhenti sejenak dari kesibukan aktivitas rutinnya. Sedikit peluang baginya untuk berbuat maksiat. Tidak mungkin bagi yang tengah demam berbelanja ke sana kemari yang memerlukan banyak energi. Singkatnya, ia dapat memanfaatkan waktu penyembuhannya itu untuk berdzikir kepada Allah.

Keyakinan kuat akan muncul bila dipupuk dengan perbuatan-perbuatan baik. Lingkungan pun mengkondisikan dirinya untuk berbuat baik. Perpaduan antara perbuatan dan lingkungan yang positif semakin memantapkan keyakinan kuat yang dimiliki. Oleh karena itu, keyakinan seratus persen bahwa Allah Swt pasti menolong hambaNya yang menolong agama Allah, mendakwahkan ajaranNya dan sekaligus terikat secara totalitas dengan syariahNya, harus dimiliki oleh seluruh muslim dimanapun. Mari kita tengok firman Allah Swt:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240). Sementara itu, Al Alusi berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah orang yang berdakwah untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya. Ayat ini mencakup setiap orang yang mengajak ke jalan Allah (termasuk da’i dan muadzin). Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Maqotil dan mayoritas ulama.” (Ruhul Ma’ani, 18: 198 – Asy Syamilah).

Demikian pula, dalam Q.S Muhammad ayat 7, Allah berfirman:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Menyampaikan kebenaran Islam sekaligus menolong agama Allah adalah perbuatan baik. Orang yang melakukan itu, akan ditolong Allah dan sekaligus Allah kokohkan kedudukannya di depan makhluk-makhlukNya. Para Nabi dan Rasul, tidak tampak risau saat ia dihadang dengan masalah besar. Mereka yakin masalah besar itu sesungguhnya kecil karena kita memiliki Dzat Yang Maha Besar. Kita tidak takut miskin, karena Dzat yang menciptakan kita adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Selalu gagal dalam bisnis, bisa jadi bukan karena ikhtiar yang tidak optimal, namun karena doa yang kurang maksimal. Ditolak bekerja oleh banyak perusahaan dan rekan bisnis, bisa jadi bukan karena kurangnya upaya dan belajar, melainkan karena tidak disertai keyakinan bahwa Allah Maha Memudahkan segala urusan. Bahkan bila cobaan begitu datang bertubi-tubi, maka yakinlah bahwa itu adalah cara Allah Swt menajamkan kepribadian kita, menghaluskan budi dan ego kita dan sekaligus memuliakan kita.

Untuk memantapkan keyakinan yang harus seratus persen ini, kita harus membuka secara lebar ilmu, informasi dan feedback yang positif. Seandainya informasi tersebut bersifat negatif, yang cenderung melemahkan kita, maka jangan terlalu disimpan dalam perasaan. Segera tumpahkan dan adukan kepada Allah. Hamparkan sajadah, shalat dan komunikasikan kepada Allah di sepertiga malam, segala sesuatu yang melemahkan keyakinan kita ini. Yakinlah bahwa di ujung sana, Allah Swt tengah menyiapkan akhir cerita yang indah. Kebahagiaan yang hakiki. Insyaallah. Wallahu’alam bishshawwab.

Comments

comments

SHARE
Previous articleMENGEJA IKHLAS
Next articleSampai Kapan Aku Harus Menunggumu
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.