BIARLAH ALLAH URUS HIDUPMU

0
595

Nabi Muhammad Saw berhasil mendidik  para shahabat r.a dengan penanaman akidah yang kuat. Islam tidak semata-mata diajarkan sebagai teori, kajian dan konsep. Namun lebih dari itu, Islam terinternal dalam seluruh gerak pikir dan perilaku. Mindset dan heartset telah total diubah. Revolusi mental terjadi dari kegelapan menjadi penuh cahaya. Tidak salah apabila Islam menjadi mabda’ (ideologi, jalan hidup) bagi para shahabat. Ini yang terus dibangun dan dibina oleh Rasulullah Saw selama 22 tahun baik saat dakwah di Mekkah dan juga pascahijrah di Madinah.

Rasulullah Saw tidak mewariskan bangunan fisik yang mewah, sebagaimana Nabi Daud a.s atau Nabi Sulaiman a.s. Tidak juga membangun jalan tol, atau artefak yang mungkin dapat diakui oleh Unesco sebagai salah satu keajaiban dunia. Beliau mewariskan pola pikir dan pola perilaku yang harus senantiasa terikat dengan pedoman hidup yang beliau tinggalkan agar tidak tersesat hidup, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Rasulullah Saw bersabda:

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya, selama berpegang teguh dengan keduanya, Al-Quran dan Kitabullah (HR. Malik)

Saking menginternalnya keyakinan bahwa Allah Swt selalu dekat dengan hamba yang bertakwa, para sahabat benar-benar menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah. Konsep tawakal selalu disimpan di awal perbuatan. Karena sesungguhnya tawakkal adalah mewakilkan seluruh urusan kepada Allah Swt. Para shahabat tidak menyelisihi antara doa dan usaha. Mereka lakukan secara terintegrasi. Usaha tanpa doa adalah kesombongan, semantara doa tanpa usaha adalah keputusasaan.

Adalah  shahabat Rasulullah Saw yang terkaya, Abdurrahman bin Auf. Allah menciptakan Abdurrahaman bin Auf ini sebagai manusia ber-DNA sukses dan kaya. Ia salah satu konglomerat saat Rasulullah berdakwah di Mekkah, lalu ia tinggalkan seluruh hartanya tersebut karena memilih hijrah ke Madinah. Hidup dari nol kembali di kota tersebut, namun dalam waktu yang tidak begitu lama, ia dapat kembali menjadi konglomerat terkemuka.

Suatu saat, Abdurrahman bin Auf bosan menjadi orang kaya. Ingin miskin harta. Ia lalu membeli seluruh kurma busuk dengan harga kurma terbaik. Seketika itu hartanya habis, Abdurrahman bin Auf bernafas lega. Ia senang menjadi orang miskin. Beberapa hari kemudian, tersebar berita bahwa Penduduk Mesir terjangkit wabah yang hanya dapat disembuhkan oleh satu obat. Dan obatnya itu adalah kurma busuk. Penguasa Mesir lalu mengumumkan kebijakan bahwa ia akan membeli kurma busuk seharga sepuluh kali lipat dari harga kurma terbaik untuk menyembuhkan warganya di Mesir. Berita ini sampai ke telinga Abdurrahman bin Auf. Lalu ia jual kurma busuk yang ia beli dari warga. Maka seketika kekayaan Abduurahman balik kembali, bahkan sepuluh kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Abdurrahman gagal menjadi orang miskin.

Ini salah satu contoh pola pikir yang mungkin dianggap aneh bila terjadi pada jaman sekarang. Tidak ada manusia jaman sekarang yang barangkali bertindak seperti Abdurrahman yang ingin miskin, namun gagal. Yang ada sebaliknya, ingin kaya, lalu ia lakukan dengan cara instan, dan diakhir, jatuh miskin. Demikian juga, kebiasaan para shahabat dalam berbagi (infak, wakaf atau sedekah). Bila saat ini, mental kita membatasi bahwa sedekah cukup 2,5 persen, itupun dengan embel-embel “yang penting ikhlas”, jaman shahabat dahulu, mereka menginfakkan hartanya bukan 2,5 persen, melainkan 20 persen, 50 persen bahkan hingga 100 persen dari kekayaannya. Dengan tulus mengatakan, “Cukuplah Allah dan RasulNya untuk Istri dan keluarga”. Mungkin akan terdengar sangat aneh saat ini bila ada manusia jaman sekarang menginfakkan seluruh hartanya untuk kepentingan umat. Yang ada malah terbalik. Seratus ribu rupiah merasa sedikit bila dibawa ke pasar, supermarket, namun terasa banyak bila dimasukkan ke kencleng masjid. Sementara doa dan keinginan dirapalkan tak terhenti. Ingin sehat, ingin kaya, ingin jodoh yang cantik/tampan, kaya dan shalih, ingin khusnul khatimah, ingin masuk surga Firdaus tanpa hisab. Sementara infak di kencleng masjid dua ribu rupiah, seharga buang air kecil di WC umum, Subhanallah.

Mental manusia-manusia jaman Rasulullah Saw inilah yang sejatinya mental kaya dan juara. Ia begitu yakin dan sadar bahwa Allah Swt pasti mengurus hidup mereka dengan syarat mematuhi aturan main yang telah Allah Swt gariskan kepada mereka. Seluruh larangan Allah Swt dan perintahNya disadari sebagai hal yang baik untuk kepentingan mereka. Takut miskin saat kita akan berbagi adalah bisikan setan, sementara pada faktanya, sedekah dan infak menyuburkan dan melapangkan rizki mereka.

Mengambil pelajaran dari pola hidup para shahabat r.a, bila hidup kita selalu sulit, maka perbaikilah hubungan kita dengan Allah Swt. Gunakanlah aturan-aturan Allah Swt secara totalitas (kaffah) dan menyeluruh (syumul). Lalu, biarlah Allah Swt nanti yang mengatur kehidupan kita. Wallahu’alam bishshawab

Comments

comments

SHARE
Previous articleSampai Kapan Aku Harus Menunggumu
Next articleMEMBIASAKAN KEBAIKAN “KECIL”
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.