MEMBIASAKAN KEBAIKAN “KECIL”

0
546

Pada dasarnya, kebaikan adalah kebaikan. Ia tidak dilihat secara ukuran (size). Manusialah yang mengklasifikasikan adanya kebaikan besar dan kebaikan kecil menurut ukuran atau standar yang mungkin berbeda-beda. Menolong rekan dengan meminjamkan uang Rp. 50.000, menjadi kebaikan kecil bila dibandingkan menolong yang memiliki utang Rp. 5 juta. Begitupula, membantu menunjukkan jalan, dianggap kebaikan kecil dibandingkan menolong yang kecelakaan. Ukuran ini kembali lagi pada diri manusia. Padahal, sesungguhnya Allah Swt tidak mengklasifikasikan kebaikan kecil atau besar. Semuanya adalah amal shalih yang bertujuan untuk taqarrub illallah (mendekatkan diri kepada Allah Swt). Bahkan kebaikan-kebaikan yang tadi kita sebut kebaikan kecil, dalam sebuah hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim, digolongkan sebagai sedekah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.”(HR.al-Bukhari ,no.2989 dan Muslim, no 1009).

Seringkali kita memikirkan kebaikan “besar” yang membutuhkan banyak pengorbanan, apakah itu harta maupun nyawa, lalu melupakan atau menganggap sepele kebaikan yang tidak sebanding dengan itu. Sementara kita lupa kepada siapakah kebaikan ini seharusnya dipersembahkan. Seringkali kita lelah dengan aktivitas mencari nafkah, menjalankan kewajiban rutinitas sebagai seorang suami atau istri, karena kita mengalami disorientasi tujuan. Lelah akan hilang bila lillah. Bila semua aktivitas ditujukan untuk ibadah, untuk kebaikan. Inilah pentingnya pemahaman bahwa kebaikan, terlepas itu besar atau kecil menurut pandangan manusia, harus hanya ditujukan untuk mencari ridlo Allah Swt, tanpa lagi memandang kebaikan itu sepele, mudah ataukah berat.

Coba kita lihat sekeliling kita, betapa banyak peluang berbuat kebaikan. Aktivitas ini perlu dilatih bahkan sejak kecil. Bisa terjadwal, setiap Jumat mengalokasikan untuk bersedekah. Bila sedekah uang belum memungkinkan, maka membersihkan tempat ibadah seperti mushalla, masjid, menjadi pilihan yang luar biasa. Mengalokasikan uang sebesar Rp. 15.000 untuk alat mandi, minyak goreng, telor bagi para marbot sesungguhnya menjadi pilihan cerdas untuk berbuat baik. Mencucikan sejadah, mukena dan sarung yang tergeletak di masjid atau mushalla, bahkan mengganti atau menambahkan alat shalat tersebut dengan yang lebih baru, merupakan kebaikan yang setiap orang bisa melakukan. Menuliskan pengumuman di kertas putih yang dilaminasi dengan kata-kata santun, termasuk kata-kata tausyiah kutipan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist, lalu ditempel ditempat-tempat strategis tempat ibadah, menjadi kebaikan yang akan terus mengalir.

Bila kebaikan-kebaikan “kecil” ini rutin dilakukan, maka ia akan membentuk kebiasaan (habit). Kebiasaan ini akan mendorong seseorang untuk terus berpikir berbuat baik. Ia tidak akan segan pula untuk mengorbankan apapun untuk kebaikan yang lebih besar. Bukankah kebaikan “besar” tidak akan ujug-ujug terwujud tanpa sebelumnya dimulai dari hal-hal kecil? Kita semua tidak akan mengetahui kebaikan mana yang Allah Swt akan nilai dan turunkan rahmatNya untuk menyelamatkan diri kita dari siksa api neraka. Wallahu’alam bishshawab

 

 

 

Comments

comments

SHARE
Previous articleBIARLAH ALLAH URUS HIDUPMU
Next articleMEMILIKI KEHILANGAN
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.