MEMILIKI KEHILANGAN

0
1246
Detail of man hiking

Allah Swt meminjamkan nyawa, akal dan waktu kepada manusia. Itu semuanya Dia pinjamkan untuk mempertegas tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah (Q.S Adz-Dzariyat: 56). Karena itu pulalah Allah mengutus para nabi dan rasul sepanjang peradaban manusia. Dengan misi yang sama, yaitu memerintahkan manusia hanya melakukan penyembahan kepada Allah Swt semata, tidak pada yang lain. Tidak ada tuhan-tuhan yang lain. Laa Illaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah). Ajaran ini terus secara konsisten disampaikan oleh setiap nabi dan rasul, hingga nabi terakhir, Muhammad Saw.

Merenungi diri yang terlahir lemah, tidak membawa apapun, kecuali nyawa, akal dan waktu, yang itupun sejatinya adalah pinjaman Allah, lalu mengapa kita memiliki rasa kehilangan atas semua yang kita usahakan. Kita takut kehilangan orang tua, anak, harta benda, jabatan dan kehidupan. Padahal kita berasal dari ketiadaan. Sebelum Allah ciptakan kita, sejatinya kita tidak ada, hingga Allah takdirkan kita menjadi manusia. Suatu saat, Allah ambil pula seluruh yang Dia pinjamkan. Lalu, atas dasar apa kita mengklaim bahwa seluruh harta dan kepemilikkan itu adalah milik kita secara mutlak dan merasa tidak akan pernah ditinggalkan.

Ada banyak ayat yang mengingatkan kita atas siapa sesungguhnya pemilik segala sesuatu itu. Dia-lah Allah Swt yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Allah Swt berfirman:

“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk)” (QS. An-Nuur, 42)

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”(QS. Al-Baqarah, 284).

Pekerjaan, jabatan dan segala macam aset yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan. Entah itu sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun. Yang jelas, pasti akan kita tinggalkan karena kita adalah makhluk yang akan meninggalkan dunia. Tanda-tanda kefanaan itu muncul pada fisik kita. Kecantikkan atau ketampanan yang sempat Allah Swt anugerahkan dan pinjamkan lambat laun akan digantikan dengan kulit keriput—meski berbagai perawatan, vitamin, obat dan operasi dilakukan untuk menghambat penuaan tersebut. Belum lagi nikmat sehat, nikmat tidur nyenyak, atau nikmat makan, lambat laun dan pasti akan digantikan dengan segala keterbatasan. Penyakit datang silih berganti. Tidur tidak se-nyenyak dulu. Badan yang atletis, rambut hitam klimis dan tatapan, pendengaran dan langkah yang tegap, lambat laun akan hilang digantikan sosok tua dan ringkih.

Seseorang dengan semua status yang dimiliki seperti pendidikan dan gelar yang panjang, harta kekayaan dan aset yang triliunan, rumah yang besar dan megah, perusahaan, jabatan beserta mobil mewah akan sama dengan seseorang yang berpendidikan rendah, karyawan biasa dengan rumah kontrakan yang kecil. Semuanya berakhir sama, yaitu kematian.

Saat mati, maka semuanya ditinggalkan. Posisi yang ditinggalkan akan segera digantikan. Semuanya berjalan alami dan biasa-biasa saja. Rumah yang besar akan berpindah tangan. Nama kita pun akan dilupakan seiring waktu dan pergantian generasi. Yang tersisa hanya satu yaitu amal perbuatan.

Karena itu, bila saat hidup, kita pernah kehilangan harta dengan berbagai sebab, yang mengakibatkan kita marah, sedih bahkan mungkin depresi, bisa jadi itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa perasaan memiliki yang penuh akan menghasilkan kehilangan yang menyakitkan. Bukankah Allah Swt dan RasulNya mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan Innalillahi wa innailaihi raajiuun disaat kita mendapatkan musibah dan kehilangan. Lalu berdoa dan berharap semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.

Inilah perbuatan yang dilandasi iman dan takwa. Ia akan menjadi pribadi yang kokoh. Kaya raya tidak hura-hura, miskin tidak putus asa, berhasil tidak sombong dan bila gagal tidak kecewa. Karena hura-hura, putus asa, sombong, atau kecewa pada hakikatnya tidak akan menambah amal shalih, sementara target dan fokus seorang muslim adalah amal shalih.

Adalah wajar apabila Rasulullah saw kemudian mempredikati muslim yang berorientasi akhirat sebagai sosok yang cerdas. Jadi cerdas menurut Rasulullah saw bukanlah IPK summa cum laude, gelar profesor doktor atau mahasiswa universitas kelas dunia, melainkan sosok yang disaat semua pinjaman Allah Swt tersebut bisa ia optimalkan untuk bekal akhirat kelak. Sebagaimana Hadist Riwayat Ibnu Majah berikut:

“Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya.” Orang itu bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak  persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Jadi, simpanlah dunia di tangan, karena esok lusa ia akan dilepaskan dan ditinggalkan. Dengan cara itu, kita tidak akan pernah memiliki rasa kehilangan. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleMEMBIASAKAN KEBAIKAN “KECIL”
Next articleBERPIKIR MENDALAM
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.