BERPIKIR MENDALAM

0
716

Kita diingatkan oleh satu paragraf pembuka dalam kitab Nizhamul Islam karya Taqiyyudin an-Nabhani bahwa “kebangkitan manusia diawali dengan berpikir”. Dalam kitab An-Nizhamul Iqtishady (Sistem Ekonomi dalam Islam) tertulis pula pernyataan bahwa bila sebuah masyarakat yang melestarikan cara berpikirnya, kemudian bangunan fisiknya hancur lebur karena perang, maka mereka akan dapat menata kembali keping-keping bangunan yang hancur menjadi peradaban. Namun bila yang hancurnya itu adalah pemikiran, maka mereka akan sulit untuk membangun kembali peradaban yang dulu pernah ada. Allah SWT memberikan petunjuk betapa banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyitir mengenai berpikir, akal, ulul albab dan ayat-ayat yang serupa. Tidak hanya itu, istilah al-uqdatul qubra´ mengenai pertanyaan mendasar “darimana, akan melakukan apa dan mau kemana”—pertanyaan serupa yang pernah diajukan oleh Socrates sekian abad yang lalu—dihadirkan kembali oleh an-Nabhani. Lagi-lagi untuk mengajak kita berpikir, merenung mengenai arti hidup, visi hidup.

Manusia dikendalikan oleh cara berpikirnya (mindset/paradigma). Ini yang menentukan warna keyakinan atau ideologinya dalam menapaki kehidupan. Bahkan ia akan mendefinisikan beberapa konsep hidup secara berbeda pula. Misal, konsep bahagia. Bagi masyarakat kebanyakan, bahagia diukur dari seberapa besar kebutuhan hidup mampu ia akses dan manfaatkan. Kebutuhan prime, sekunder bahkan tersier mampu ia lampui, menunjukkan ia berpotensi untuk bahagia. Seorang yang memiliki rumah mewah, lengkap dengan isinya. Mobil bermerk dan penghasilan tinggi, akan dianggap bahagia dalam hidup. Berlibur ke negara manapun yang ia inginkan tanpa dibatasi uang dan waktu. Bahkan banyak masyarakat yang memimpikan kehidupan seperti itu.

Orang tua pun nampaknya mendambakan kehidupan yang tidak hanya cukup, melainkan berlebih bagi anak-anaknya. Oleh karenanya ia tekankan pada anak-anaknya untuk hidup rajin, di sekolahkan pada sekolah yang prestisius. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan, ia akan bayar. Begitu seterusnya. Hingga kemudian, secara tidak sadar ia mendefinisikan kebahagiaan sebagai sukses. Sementara sukses itu dibentuk dari berpendidikan tinggi di sekolah terkemuka, kemudian memiliki usaha atau karir dengan bayaran yang tinggi. Dapat disimpulkan dari cara pandang ini, bahwa kebahagiaan adalah sukses. Dan sukses adalah pekerjaan yang mapan.

Tidak ada yang salah dengan cara pandang seperti ini. Namun bila direnungkan secara lebih mendalam adalah bagaimana dengan bekal hidup kita nanti pascakematian. Bagaimana dengan Allah Swt dengan segenap aturan-aturanNya? Apakah pencapaian kehidupan ini sesuai dengan standar halal dan haramNya atau dipandang secara aspek pragmatis an sich?

Disinilah sesungguhnya pembahasan Al-Uqdatul Qubra ini. Bila kita cermati pesantren, lalu kita tanya pada santri tersebut pertanyaan yang relatif sama tentang kehidupan ideal apa yang diinginkan. Apakah berlimpah harta namun jauh dari Allah. Harta terkumpul tanpa melihat halal dan haramnya. Ataukah kehidupan yang sesuai dengan aturan Allah Swt. Maka dipastikan, bila santri ini terdapat keyakinan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Terdapat pengadilan yang sangat adil yang disana seluruh perbuatan manusia akan di hisab, dimintai pertanggungjawaban. Maka jawaban santri ini tentu saja akan memilih hidup yang berkah, aman dan jauh dari dosa. Ini dikarenakan ia dipengaruhi oleh cara berpikir tentang dunia dan pascadunia ini berakhir.

Seringkali kita pun bertanya-tanya, apakah masih terselip malu dan takut pada seorang pendosa atau orang yang sengaja mencari penghidupan dari jalan yang haram. Maka jawabannya adalah malu dan takut sesungguhnya fitrah. Namun syaraf malu dan takut ini akhirnya dikalahkan dengan kebutuhan, keterdesakaan dan kebiasaan. Bila seseorang sudah terbiasa melakukan keburukan, maka lambat laun, malu dan takut kepada Allah ini akan sirna. Terlebih Allah Swt, akhirat, siksa neraka dan hisab tidak pernah menjadi kosakata dalam mindsetnya. Yang ada adalah dunia, dunia, dunia.

Mengubah seseorang dari kehidupan yang buruk kepada kehidupan yang mencerahkan adalah dengan mengubah cara berpikirnya. Sebagai muslim, seharusnya terbentuk cara pandang Islam. Bukankah shalat fardlu yang kita lakukan sebanyak lima kali sehari berfungsi untuk mengingatkan kepada kita untuk senantiasa berkomunikasi dengan Allah Swt baik pada waktu lapang maupun sempit. Belum lagi dengan ibadah shalat sunatnya.

Memang tidak cukup dengan shalat. Seorang muslim harus senantiasa mengupgrade kemampuannya, kompetensinya, dan pengetahuannya dalam Islam. Ia harus memahami bahwa akidah Islam mampu memproduksi karakter muslim yang unik dan khas. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan karakter non-muslim. Ini disebabkan ajaran Islam mengatur semua hal baik secara umum dan secara detail dalam kehidupan. Bisa dibayangkan, Islam mengatur tata cara memotong kuku hingga mengatur cara bernegara. Masuk kamar mandi ada doanya dan adabnya. Akan tidur pun sama. Ada doa dan adabnya. Bangun tidurpun juga begitu. Menikah, menggauli istri hingga persoalan mendidik anak, diatur dalam Islam. Bahkan dalam konteks ekonomi, politik dan bernegara. Bagaimana kualifikasi seorang pemimpin, memilih pemimpin hingga pengaturan karakter pemimpin. Semua itu terdapat adab dan aturannya.

Lalu bila saat ini kita hanya mengira bahwa Islam seperti agama yang lain, hanya mengatur aspek spiritualitas belaka, bisa jadi ada yang keliru dengan diri kita dalam keberIslaman. Kita tidak pernah menganggap penting kehidupan setelah kematian. Seringkali kita mengatakan hiduplah secara adil dan seimbang. Namun nyatanya, hidup kita selalu tidak pernah seimbang. Bila kita bekerja selama delapan jam satu hari, maka pertanyaannya, sudahkah kita belajar Islam selama delapan jam sehari? Sudahkan kita membaca Al-Quran selama waktu tersebut.

Bila untuk mengakses sosial media kita habiskan waktu selama empat jam sehari, lalu sudahkah kita berdakwah, menebar kebaikan sesuai dengan waktu yang kita habiskan untuk bermain gadget tersebut? Jawabannya bisa jadi tidak. Kita tidak pernah memperlakukan urusan dunia dan akhirat secara seimbang. Bisa jadi bobot urusan dunia menghabiskan 80 persen lebih dibandingkan urusan akhirat.

Agenda pengajian bisa dengan mudah dibatalkan atau digeser bila berbentrokkan dengan pekerjaan atau acara lain seperti syukuran pernikahan atau reuni. Kita jarang sekali memprioritaskan untuk kehidupan akhirat. Sementara justifikasi kita adalah kehidupan seimbang. Bisa jadi kita belum mampu konsisten atas jawaban kita mengenai kehidupan setelah kematian.

Muslim yang menjawab al uqdatul qubra secara konsisten dengan keberIslamannya, akan memiliki konsep hidup yang berbeda. Kebahagiaan dan sukses tidak semata-mata dicapai saat sang anak lulus perguruan tinggi terkemuka, mendapatkan posisi leader dalam perusahaan, namun menjadikan shalih sebagai parameternya. Bahagia bila anaknya shalih, senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Bekerja secara amanah. Menjauhi gaya hidup yang bertentangan dengan Allah dan RasulNya. Ini yang menjadi parameter penting dalam konsep bahagia dan sukses. Sukses hidup bukan dilihat dari berapa banyak mobil yang dimiliki, rumah besar yang ditempati. Namun, Sudah berapa besarkah kontribusi dirinya bagi manusia. Apakah ia menjadi orang-orang yang menebarkan kebaikan sebagaimana yang diminta oleh Allah Swt dan RasulNya, ataukah ia menjadi hamba setan. Menarik manusia pada jurang kesesatan. Terjebak pada hirup pikuk dunia dan kehidupan yang buruk.

Dengan mengubah cara berpikir, sesungguhnya manusia bisa kembali mendapatkan kemuliaan asalkan ia mau menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai rujukkan dalam berpikirnya. Umar bin Khaththab dapat menjadi contohnya. Dengan pola pikir jahiliyyah ia tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Betapa keras dan kejam peringainya. Namun saat hidayah datang. Ia menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman. Serta-merta cara berpikirnya berubah. Ia menjauhi kebiasaan jahiliyyah. Menangis bila mendengar ayat-ayat tentang akhirat. Saat Umar bin Khaththab menjadi khalifah ke dua, menggantikan Abu Bakar Ash Siddiq. Ia menjadi seorang khalifah yang sangat rendah hati, hidup bersahaja dan secara penuh melayani umat. Hingga salah satu cerita tentang memanggul gandum untuk salah satu keluarga miskin, menjadi cerita melegenda. Sulit dibayangkan Umar bin Khaththab berlaku seperti itu bila pemikirannya masih menggunakan pola pikir jahiliyyah. Oleh karenanya, jaga dan pertahankan pola berpikir Islam dengan senantiasa mengkaji tsaqafah Islam dan mengamalkannya secara konsisten. Wallahu’alam bishshawwab.

Comments

comments

SHARE
Previous articleMEMILIKI KEHILANGAN
Next articleHIDUP YANG BERKAH
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.