HIDUP YANG BERKAH

0
1020

Barakallah, semoga Allah memberi keberkahan. Kata yang familiar bagi kita semua. Saat khatib menutup khutbah pertama atau kedua. Begitupula saat selesai ijab-kabul terjadi. Barakallah wabaraka ‘alaika doa yang senantiasa disampaikan kepada kedua mempelai. Inti dari kedua doa ini sama. Mendoakan keberkahan. Lalu pertanyaan sederhana adalah apa sesungguhnya arti dan makna berkah tersebut. Bagaimana meraih kehidupan yang tidak saja berkelimpahan, melainkan penuh dengan keberkahan.

Berkah seringkali dimaknai sebagai ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Imam Nawawi menyebutnya sebagai kebaikan yang banyak dan abadi. Ini yang sesungguhnya dicari oleh manusia. Dan berkah ini adalah sejatinya kebahagiaan. Betapa sering kita temukan, manusia kaya raya. Namun kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia. Justru sebaliknya. Banyak kekhawatiran. Dari mulai takut miskin, takut hartanya habis, takut mati atau takut anak istrinya tidak menikmati kekayaannya. Pelariannya adalah dengan mabuk, narkoba dan tak mustahil bunuh diri.

Siapa tidak kenal Michael Jackson. Raja pop sepanjang jaman ini. Memiliki harta berlimpah. Namun popularitas dan hartanya tidak membuat dirinya tenang. Berkali-kali ia menderita penyakit fobia, kecemasan dan berujung pada ketergantungan pada obat penenang. Akhir cerita sang legendaris ini adalah tewas over dosis disebabkan penyakit kecemasan yang dideritanya.

Hampir sama dengan cerita mendiang sang raja pop. Di Korea Selatan, keluarga pemilik perusahaan Samsung, Lee Kun-hee, tidak jauh berbeda. Ia memiliki seorang putri yang hidup berlimpahan harta dan kemewahan. Selepas menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Ewha, ia lantas melanjutkan studi di salah satu universitas di New York, AS. Beberapa saat kemudian, tersiar kabar Lee Yoon-Hyung, putri sang pemilik Samsung ini tewas bunuh diri.

Tentunya kontras sekali bila dibandingkan dengan kisah para shahabat r.a. Beberapa diantara mereka memiliki harta yang berkelimpahan. Mereka tetap menikmati hidup hingga akhir hayatnya. Bahkan harta yang mereka kumpulkan, mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat sekitar. Ambil kisah Ustman bin Affan dan air sumur yang dimiliki Yahudi yang melegenda.

Saat Madinah dilanda kekeringan dan hanya tersisa satu sumur Ruumah yang tidak kering. Sayangnya ia dimiliki seorang Yahudi. Si pemilik sumur ini menarif setiap ember yang berisi air. Hingga Rasulullah saw bersabda, “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang sanggup dan bersedia menyumbangkan hartanya demi membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah SWT.” Serta merta Ustman bin Ustman membeli sumur dengan harganya tinggi. Sayangnya, Yahudi ini enggan menjualnya dengan alas an ia tidak akan memiliki penghasilan bila ia menjual sumur tersebut. Lalu Ustman menawarkan untuk membeli setengah dari sumurnya. “jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu, kemudian lusa menjadi milikku, begitu pun seterusnya. Bagaimana?” jelas Utsman.

Singkatnya, Yahudi ini menyetujui. Utsman segera mengumumkan kepada para sahabat Nabi bahwa setiap selisih satu hari sumur Ruumah berhak diambil airnya oleh para pengikut rasul, secara cuma-cuma, tanpa pungutan atau pun imbalan. Utsman disepakati menjadi pemilik sumur di hari pertama. Para sahabat mengambil air dengan leluasa. Bahkan sebagian besar dari mereka berinisiatif mengambilnya sesuai takaran kebutuhan selama dua hari. Keesokan harinya, di saat sumur itu kembali menjadi milik Yahudi, lelaki itu tak mendapati satu orang pun yang datang membeli air untuk memenuhi kebutuhannya. Menjelang petang, rupanya ia putus asa. Si pemilik sumur kembali mengunjungi Utsman dan berkata, “Wahai Utsman, belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin.” Sahabat Utsman setuju, lalu dibayarnya seharga 20.000 dirham, kemudian ia wakafkan untuk keperluan umat Islam di Madinah, hingga hari ini.

Ustman sebagai sosok yang memiliki banyak harta tidak menjadikan harta sebagai tuhannya. Ia keluarkan sesuai kebutuhan umat Islam dengan orientasi akhirat. Contoh lain yang tidak kalah hebat dari Ustman adalah Laits bin Sa’ad. Seorang cendekiawan kaya raya yang hidup pada masa Khilafah Bani Umayyah. Semasa dengan Imam Malik. Ia memiliki pendapatan pertahun bila dikonversikan pada masa sekarang adalah 700 milyar rupiah. Yang hebat sesungguhnya bukan dari jumlah penghasilan pertahunnya, melainkan ia menghabiskan 700 milyar ini setiap tahun. Hingga ia tidak terkena nishab dan haul zakat mall. Ia bagikan hartanya ini kepada umat Islam. Adakah seorang muslim yang bisa meniru seperti dua sosok ini Ustman bin Affan da Laits bin Sa’ad?

Hidup berkah tidak terletak pada berapa jumlah kekayaan yang dimiliki. Melainkan apakah jumlah ketaatan yang kita miliki mampu menambah ketaatan kepada Allah Swt. Ini karena berkah bermakna “Albarokatu tuziidukum fi thoah” Berkah itu menambah taatmu kepada Allah Swt.

Mengejar keberkahan berarti menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam setiap perbuatan kita. Sekaligus menyadari bahwa hidup memiliki prinsip fana (tidak kekal). Prinsip ini berlaku bagi apapun. Contoh sederhana. Saat Ramadhan, kita ingin berbuka dengan sirup, kemudian dengan kolak. Tidak hanya itu, kita pesan juga nasi, sayur, ayam bakar. Beberapa cemilan pun siap disantap. Namun apa yang terjadi saat adzan berkumandang. Hanya dengan segelas air dan kolak pisang, nafsu ingin makan ini dan itu seketika hilang. Inilah fananya dunia.

Bahkan barang yang kita miliki. Misalnya mobil. Tidak pernah digunakan, hanya diparkir di garasi. Tidak dinyalakan selama enam bulan. Dipastikan akan rusak. Rumah besar mewah pun sama. Bila tidak ditempati, digunakan dan hanya didiamkan begitu saja. Maka ia akan fana. Pelan-pelan akan lembab, rusak dan hancur. Inilah sunnatullah dunia. Oleh karenanya, memahami secara jernih hakikat dunia akan membawa kepada pencarian berkah sebagai sesuatu yang harus di raih.

Sakit akan menjadi berkah bila sakit ini menambah kesabaran dan ketaatan kepada Allah. Sebagaimana yang menimpa Nabi Ayyub a.s. Usia pendek pun bisa menjadi berkah bila ia habiskan seperti Mushaib bin Umair untuk berdakwah, mencerdaskan suku Aus dan Khazraj di Madinah, lalu syahid saat perang Uhud.

Negeri yang berkah tidak harus subur dan hijau. Mekkah merupakan tanah suci yang penuh berkah yang jutaan umat Islam mengunjunginya setiap saat. Tidak sedikit yang ingin diwafatkan di tanah suci ini.

Pendidikan yang berkah tidaklah harus di dapat dari sekolah mahal terkemuka atau universitas luar negeri kelas dunia. Melainkan pendidikan yang menjadikan para lulusannya shalih dan menjadikan ibadah sebagai tujuan aplikasi ilmunya.

Penghasilan yang berkah tidak harus dengan banyaknya angka nol di belakangnya. Bermata uang dollar atau Euro atau bahkan tidak berseri. Melainkan penghasilan yang didapat secara halal, dengan keringat, darah dan air mata untuk menghidupi keluarga. Meski jumlahnya tidak harus ratusan juta. Penghasilan tersebut melancarkan seluruh kewajiban ibadah. Ia gunakan untuk nafkah halal keluarga. Ia belikan baju menutupi aurat anak dan istrinya. Ia keluarkan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia keluarkan sebagian rizkinya untuk sedekah, infak dan zakat bahkan menabung untuk keperluan haji.

Serta anak yang berkah tidaklah harus yang cantik dan tampan. Setelah dewasa menduduki jabatan tinggi bergengsi. Melainkan menjadi anak yang senantiasa taat kepada perintah Allah Swt dan RasulNya. Mendoakan orang tuanya. Tidak bertindak koruptif.

Disinilah perlunya merenungkan kembali setiap aspek kehidupan kita. Jangan-jangan kita terlalu jauh terjebak dalam memperjuangkan dunia. Menuruti hawa nafsu dan keinginan dunia yang sejatinya adalah fana. Bila demikian, maka bertaubatlah. Kembalilah ke jalan Allah dan tempuhlah cara-cara yang diridloi-Nya untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleBERPIKIR MENDALAM
Next articleDNA MANUSIA TERBAIK
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.