DNA MANUSIA TERBAIK

0
491

Manusia telah didesain secara sempurna oleh Yang Maha Sempurna. Dia memberikan potensi akal yang luar biasa. Dengan potensi akal tersebut, manusia tidak hanya dapat survive, bertahan hidup. Ia bahkan dapat berkreasi, membentuk peradaban yang maju pada setiap jamannya. Seluruh pancaindera yang Allah Swt anugerahkan kepada manusia tidak ternilai harganya (priceless). Manusia tidak akan pernah mau menukar pancainderanya ini dengan barang termahal dan termewah. Oleh karenanya, dengan mentaffakuri potensi manusia ini, sukses adalah fitrah manusia, DNA yang inheren melekat pada tubuh manusia.

Allah Swt mengingatkan pada Quran surat At-Tiin, Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; Maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya” Dalam ayat ini, jelas dikemukakan bahwa Allah Swt menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwin), sempurna. Potensi yang terbaik ini tinggal dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin. Dari sinilah kita dapat menyebut bahwa tidak ada manusia bodoh. Semua manusia cerdas bila ia memiliki energi untuk belajar. Baik belajar melalui media pendidikan formal atau melalui pengalaman dan otodidak.

Kebodohan diakibatkan oleh kemalasan berpikir. Ketidakberdayaan mendobrak kesulitan yang menghimpit selain bersembunyi pada keputusasaan. Akibat dari kebodohan ini muncullah ketidakadilan, penindasan dan perbudakan. Orang pintar dan kaya memanfaatkan orang bodoh dengan alasan ekonomi. Akses terhadap ilmu dipersulit dengan biaya yang mahal. Orang miskin tidak mampu bersaing karena mereka sudah lemah secara daya saing dan ekonomi. Sehingga berputar-putarlah kemiskinan dan kebodohan  pada kelompok ini.

Padahal Allah Swt menekankan bahwa sebaik-baik makhluk adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, sebagaimana dalam Al-Quran, surat Al-Bayyinah ayat 7. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7). Semantara pada ayat sebelumnya Allah menyebutkan orang-orang kafir sebagai seburuk-buruknya makhluk (sarrul bariyyah).

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”

Pada Surat Al-Bayyinah, predikat sebaik dan seburuknya manusia dilekatkan pada posisi keimanan. Ia disebut sebaik-baiknya makhluk bila beriman dan beramal shalih. Sementara itu seburuk-buruknya makhluk bila ia kafir. Dalam konteks sukses, tentu saja anak tangga untuk meniti pada beriman dan beramal shalih adalah ilmu. Sementara ilmu tidak mungkin diraih bila ia malas.

Allah Swt dalam Al-Quran, surat Ali Imran ayat 110 lebih menegaskan ciri umat terbaik (khairul ummah) sebagai manusia yang melakukan amar makruf nahyi munkar serta beriman kepada Allah Swt.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110). Mengomentari ayat ini, Umar bin Khaththab r.a berkhutbah ketika haji, Barang siapa yang suka dirinya menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102).

Konteks Kekinian

Mungkin bisa jadi terdapat perasaan aneh dan mustahil bila membandingkan kondisi umat Islam saat ini dengan apa yang dijanjikan Allah Swt dalam banyak keterangan baik Al-Quran maupun Al-Hadist. Betapa tidak, negara-negara maju dan industri masih didominasi oleh negara Eropa dan Amerika. Negeri-negeri Islam masih disebut sebagai negara berkembang, bahkan tidak sedikit digolongkan sebagai negara gagal atau berpotensi bubar diakibatkan konflik politik berkepanjangan dan juga kemiskinan.

Sumber daya alam dan ekonomi jikapun ada dan sedang dieksploitasi, belum secara merata menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat. Malah yang menikmati proyek tersebut hanyalah segelintir investor dalam negeri, sisanya di kirim ke negara luar. Di lain pihak, keadilan belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat level bawah yang kebanyakan darinya adalah muslim. Dalam hal politik pun sama. Meski secara kuantitas, umat Islam menjadi mayoritas, namun sebagai kekuatan politik, tidak bisa berbicara banyak.

Merenungkan kriteria yang tadi disebut dalam Al-Quran, permasalahan akut terjadi pada tubuh umat Islam sendiri. Meski DNA manusia terbaik ini melekat, namun ia belum memiliki kekuatan yang mampu memberdayakannya. Kekuatan yang dimaksud adalah menjadikan syariat Islam yang tertuang dalam Al-Quran dan Assunnah sebagai sumber pijakan dalam berpikirnya.

Misalnya, disaat Allah Swt berfirman dalam Q.S Al-Isra, ayat 7. Allah Swt berfirman,  “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7). Masih banyak umat Islam menjadikan keyakinan kapitalisme sebagai keyakinan dalam berbuat baik tersebut. Berbuat baik supaya mendapatkan keuntungan materi. Tersenyum agar konsumen atau pembeli datang. Melayani supaya barang dagangan laku terjual. Disaat keuntungan tersebut tidak tercapai, ia berhenti berbuat baik. Mengeluh dan bahkan mengomel. Tidak menghubungkan antara perilaku baik tersebut dengan Allah Swt. Lupa dengan konsep pahala.

Sering kita temui ungkapan, “Dia baik bila ada butuhnya saja”. Bila tidak butuh, maka tidak baik, tidak sopan, tidak bersilaturahmi. Kebaikan dikonversikan menjadi nilai-nilai material khas kapitalisme. Inilah yang menyebabkan potensi menjadi umat terbaik tereduksi.

Benar memang bahwa tujuan berbisnis adalah keuntungan. Untuk mendapatkan keuntungan tersebut disyaratkan pelayanan yang prima, ramah (friendly) dan membantu (helpful). Namun tidak berarti disaat tidak sedang berbisnis  lalu nilai-nilai kebaikan ini hilang. Ramah dan helpful bila dibayar. Tersenyum karena terikat kontrak. Tidak begitu. Dalam Islam, nilai-nilai akhlak mengikat hingga ajal menjemput. Ada atau tidak ada keuntungan disana. Terikat kontrak atau tidak. Akhlak harus menjadi bagian karakter dalam diri umat Islam.

Mari kita perhatikan sabda Rasulullah Saw berikut ini, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, maka ia bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? Dan apakah amal yang paling dicintai Allah azza wa jalla?” Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani). Hadist ini sangat terkenal dan tidak sedikit umat Islam mengamalkannya. Namun kembali, tantangannya adalah nilai-nilai kapitalisme-sekulerisme yang berhadapan dengan keikhlasan. Membuka lapangan pekerjaan, pondok pesantren dan lembaga pelatihan untuk membedayakan kalangan tidak mampu, bisa jadi akan menghasilkan banyak keuntungan (benefits) baik secara materi maupun jejaring (networking) dan pengaruh. Ada yang istiqamah dengan tidak mengambil keuntungan materi dari hasil membuka pemberdayaan tersebut. Namun tidak sedikit yang terseret arus materialistik dengan mengambil keuntungan lembaga sosial tersebut.

Karena menjadi center of excellent dan influencer, tidak sedikit pihak luar yang mencoba mendekat untuk dukungan politik atau hal lainnya. Ini yang menjadi tantangan. Bermunculanlah fenomena lembaga-lembaga sosial dengan proposal yang disebar untuk menjaring keuntungan. Bukan berarti keuntungan material ini tidak penting. Tidak begitu. Hanya saja, sayang bila niat awal yang suci dan tulus, ikhlas terkotori oleh hal remeh temeh bernama dunia.

Sebaliknya, bila fokus kita untuk kebaikan orang lain, disertai keyakinan bahwa Allah Swt pasti membalas kebaikan kita, yakinlah bahwa sukses akan menjadi darah dan nadi kita. Terlebih definisi sukses dalam perspektif Islam, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadist di atas, adalah bermanfaat (membantu/helpful) bagi yang lain. Bila Allah Swt sudah mencintai makhlukNya, maka yakinlah bahwa bantuan Allah Swt akan setiap saat datang menghampiri baik diminta ataupun tidak. Bila muslim yang lain harus terus meminta secara berdarah-darah dan bahkan ada yang Allah Swt tolak permohonan doanya, disebabkan seluruh atribut dan prilaku yang ia lakukan jauh dari apa yang Allah cintai, maka seorang hamba yang dicintai Allah Swt belum berdoa, baru terbersit, Dia sudah mengabulkan segala hajat kita. Bisa dibayangkan, bila sekian milyar penduduk bumi muslim dicintai oleh Allah Swt dipastikan rahmat dan keberkahan akan Allah Swt kirimkan pada seluruh penjuru negeri. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleHIDUP YANG BERKAH
Next articleMENYAMBUT RAMADHAN
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.