KEBANGKRUTAN HAKIKI

0
336

Dalam setting pola pikir masyarakat kapitalisme-sekularis seperti sekarang ini, bangkrut dimaknai dengan ruginya saat berbisnis. Modal yang disetorkan dalam satu usaha, tidak mendapatkan keuntungan. Perusahaan berhenti beroperasi, gulung tikar. Bangkrut pun bisa diartikan bila ia memiliki hutang, sementara penghasilannya tidak memadai untuk membayar lunas hutang tersebut. Akhirnya ia harus menjual banyak aset untuk itu. Maka, kondisi-kondisi tersebut menurut tipe masyarakat di atas, disebut sebagai bangkrut.

Ternyata, Rasulullah saw memiliki pemahaman yang berbeda tentang bangkrut itu. Berbeda sama sekali dengan cara pandang manusia saat ini dan juga mungkin berbeda dengan manusia pada jamannya. Ini dapat dilihat pada hadist di bawah ini.

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522).

Para shahabat r.a merespon pertanyaan Rasulullah Saw dengan menjawab persis seperti masyarakat saat ini, bahwa bangkrut bila ia tidak memiliki uang atau aset lainnya. Terang sekali, Rasulullah meluruskan makna bangkrut tersebut. Dari hadist tersebut Rasulullah saw memaknai kebangkrutan sebagai perilaku zhalim yang kemudian ditimpa balasan saat hari kiamat. Amal yang selama ini ia peroleh harus dibagikan kepada setiap orang yang pernah dizhaliminya. Zhalim karena pernah mencerca, membully, menebar kebencian, menuduh tanpa bukti, memakan harta secara illegal, menumpahkan darah, membunuh, memukul tanpa ada alasan syariy. Semuanya itu akan dibalas. Seluruh pahala amalnya habis untuk membayar kezhalimannya, dan dosa kezhalimannya pun masih bersisa. Akhirnya hal itu ditebusnya dengan memikul dosa dan kesalahan orang-orang yang ia zhalimi tersebut.

Dalam hadist riwayat Al-Bukhari no. 2449, Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang pernah berbuat kedzaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatan saudaranya atau perkara-perkara lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari di mana di sana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan, yakni pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal shalih diambillah amal tersebut darinya sesuai kadar kedzalimannya (untuk diberikan kepada orang yang didzaliminya sebagai tebusan/pengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejelekan orang yang pernah didzaliminya lalu dipikulkan kepadanya.” (HR Al-Bukhari no. 2449).

Merenungi dua hadist tersebut, nampaknya perlu sekali untuk menjaga setiap perkataan, perbuatan dan kebijakan (bila menjadi penguasa/pemimpin), agar kita tidak berbuat zhalim terhadap siapapun. Bersegera beristigfar atas kezhaliman yang tidak disengaja dan meminta maaf bila kezhaliman yang terjadi dilakukan secara sengaja, karena bisa jadi kita menjadi salah satu manusia yang mengalami kebangkrutan secara hakiki tersebut. Naudzubillahi min zhalik. Wallahu’alam bishawwab

 

Comments

comments

SHARE
Previous articleMENYAMBUT RAMADHAN
Next articleRAYAP AMAL PAHALA RAMADHAN
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.