RAYAP AMAL PAHALA RAMADHAN

0
256

Shaum di jaman kini terasa cepat. Bukan karena waktu Magrib pukul 18.00 kurang atau disebabkan banyaknya aktivitas yang dilakukan. Namun karena perasaan betah dan menikmati kehidupan dunia yang menyebabkan kita merasakan waktu begitu cepat berganti. Saking cepatnya, tiba-tiba kita baru sadar bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang kedua puluh, ketiga-puluh atau bahkan ke empat atau lima puluh. Kondisi seperti ini bagi kita yang berorientasi shaum gugur kewajiban, mungkin akan merasa senang. Selepas sahur, tiba-tiba akan segera berbuka. Tiba-tiba akan segera berlebaran.  Namun bagi yang berorientasi terhadap amal kebaikan dan pahala, maka waktu yang cepat ini akan dirasa merugikan karena ia ingin berlama-lama dalam ibadah shaum. Ia ingin menghabiskan waktu melakukan segala macam ibadah dalam bulan suci ini. Bahkan bila dapat meminta kepada Allah Swt, ia menginginkan seluruh bulan selama satu tahun adalah bulan Ramadhan. Benar-benar ia ingin mengambil seluruh keutamaan yang ada dalam Ramadhan.

Kita lalu diingatkan oleh sebuah hadist yang berbunyi,

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani).

 

Bisa dibayangkan, bulan dimana pahala dilipatgandakan berkali-kali lipat, namun yang didapat hanya lapar dan haus, sama sekali tidak mendapatkan faidah dan pahala dari apa yang dilakukannya saat bulan Ramadhan. Dalam konteks hari ini, betapa banyak, rayap genit yang terus menggerogoti amal Ramadhan. Mari kita lihat. Pertama, saat sahur, terdapat satu waktu dimana Allah Swt akan mengabulkan setiap doa yang panjatkan. Sementara, disaat yang bersamaan, televisi di tengah keluarga kita menghadirkan tontonan yang menghibur penuh dengan gelak tawa. Kita lalu menyia-nyiakan waktu terbaik tersebut. Kedua, setelah sahur dan shalat subuh, kita menarik selimut untuk tidur kembali. Terbangun pukul 10.00 pagi dengan kondisi lemas, lalu setelah bangun ia bermain dengan handphonenya. Bermain game, tik-tok, media sosial serta aplikasi yang lain. Ketiga, setelah mandi, kemudian kita siap-siap untuk ngabuburit, entah itu pergi ke pusat perbelanjaan, alun-alun, pasar, tempat-tempat keramaian yang lainnya hingga adzan magrib tiba. Setelah berbuka, dilanjutkan dengan menonton tayangan hiburan di televisi, hingga larut malam. Begitu sehari-hari kita lewatkan di Ramadhan ini tanpa target yang jelas kecuali hanya diisi oleh perpindahan waktu makan, tidur dan kegiatan. Subhanallah.

Setiap detik Ramadhan adalah kebaikan. Entah detik yang mana dari kebaikan itu yang akan menyelamatkan kita di yaumil akhir nanti. Dengan dosa menumpuk yang kita punya, bukankah hanya Ramadhan peluang dosa-dosa ini diampuni? Tentunya diampuni dosa-dosa tersebut saat ia benar-benar mengakui seluruh dosa dan memohon ampun kepada Allah Swt sambil terus mengejar rahmat Allah Swt pada momen terbaik ini.

Marilah kita lakukan secara khusu’ ibadah wajib, memperbanyak amalan sunat, perbanyak pula membaca Al-Quran, berdzikir, bersedekah, sedikit mengucapkan kata-kata yang sia-sia serta melakukan muhasabah, menuntut ilmu. Selain itu, terus menyebarkan kebaikan kepada siapapun. Wallahu’alam bishawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleKEBANGKRUTAN HAKIKI
Next articleDoaku masih untukmu
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.