QUM YAA AKHI, UKHTI,. RAMADHAN AKAN PERGI, BESOK TIDAK AKAN ADA LAGI!

0
403
time concept, selective focus point, special toned photo f/x

Ramadhan tinggal menghitung hari akan segera meninggalkan kita. Tamu agung ini akan pamit. Entah kita akan bertemu lagi dengannya tahun depan dalam kondisi yang sama dengan sekarang ataukah tidak. Tentunya, tidak cukup mengatakan sedih atau merasakan berat hati ia akan pergi tanpa melakukan percepatan kuantitas dan kualitas amal ibadah kita. Yang terpenting adalah semakin dipenghujung waktu, kita seharusnya semakin mempercepat, mempergesit dan mendayagunakan seluruh sumber daya kita untuk menghidupkan hari-hari Ramadhan ini.

Yaa Akhi dan Ukhti, tirulah Umar bin Khaththab pada penghujung akhir Ramadhan yang sepulang Isya mengerjakan shalat malam hingga waktu subuh. Begitupula, Ustman bin Affan r.a yang setelah panjang berpuasa di siang hari, beliau menghabiskan malamnya dengan shalat. Mempersedikit tidur. Pada setiap rakaat shalatnya, beliau mengkhatamkan seluruh Al-Quran.  Tidak hanya Umar atau Abu Bakar, dua shahabat terbaik Rasulullah saw yang dijamin masuk surga, dalam kitab syarah riwayat Abu Thalib Al-Makki yang mutawatir menyebutkan bahwa 40 tabi’in terbiasa melakukan shalat subuh pada waktu Ramadhan dengan wudlu shalat Isya.

Yaa Akhi dan Ukhti. Anda bisa meniru Qatadah yang membaca seluruh Al-Quran tiap tiga malam dalam bulan Ramadhan dan pada sepuluh malam terakhir selalu mengkhatamkan seluruh Al-Quran pada tiap malamnya. Atau meniru Ashym rahimahullah yang menghabiskan setiap malamnya beribadah kepada Allah hingga waktu Subuh lalu saat matahari terbit ia berdoa, “Ya Allah, hamba tidak pantas meminta surga-Mu, tapi hamba memohon kepadaMu agar Engkau menyelamatkan hamba dari Jahannam.” Atau bisa meniru pula Syaddad rahimahullah, seorang shahabat yang ia biasa berbaring namun tidak tidur sepanjang malam sambil miring ke kanan dan kiri hingga waktu fajar, lalu berdoa, “Ya Alllah, ketakutan terhadap neraka Jahannam telah mengusir kantukku.”

Yaa Akhi dan Ukhti, seberapa lelah kau khatamkan Al-Quranmu? Imam Syafii biasa mengkhatamkan Al-Quran 60 kali dalam satu Ramadhan. Atau seperti Imam Abu Hanifah Rahimahullah yang sering menangis sedemikian rupa ketika membaca Al-Quran sehingga tetangga merasa iba terhadapnya. Demikian pula dengan Abu Hurairah rahimahullah menangis jelang akhir hayatnya dan berkata, “Duhai perjalanan yang akan teramat panjang. Duhai bekal yang teramat sedikit.”

Banyak contoh lain yang menunjukkan betapa luar biasanya upaya ibadah para shahabat, ulama dan umat Islam jaman dahulu dalam melepas Ramadhan. Tidak terbersit dalam perasaan mereka keyakinan meski sedikit bahwa amal-amal mereka pasti diterima Allah Swt, terkecuali mereka tutup dengan harap dan doa selama enam bulan pascaramadhan. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous article
Next articleBERISTIQAMAH PASCA RAMADHAN
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.