BERISTIQAMAH PASCA RAMADHAN

0
415

Sejatinya, yang tersulit setelah memurnikan iman bukanlah melaksanakan ibadah shaum, shalat, zakat atau haji. Melainkan beristiqamah. Itulah mengapa Rasulullah saw senantiasa berdoa, “Wahai Dzat Membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu” (H.R. Tirmidzi). Doa ini selalu beliau ucapkan setiap saat, mengindikasikan bahwa istiqamah adalah hal tersulit. Begitupula saat Allah Swt menurunkan Al-Quran surat Al-Hud ayat 12, Allah berfirman, “Maka beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat bersama kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” Rasulullah saw merasakan beban yang berat hingga rambut beliau memutih.

Begitupula dengan kita. Mempertahankan suhu ruhiyyah Ramadhan, bukanlah hal mudah. Para shahabat Rasulullah radiyallahu anhum terus melakukan amalan yang biasa dilakukan saat Ramadhan sambil terus berdoa semoga amal ibadahnya di terima Allah Swt selama enam bulan berikutnya. Nampaknya inilah ciri-ciri orang bertakwa yang Allah abadikan dalam Al-Quran Surat Al Mu’minun, ayat 60. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” Sementara kita, nampaknya begitu yakin bahwa seluruh amal ibadah akan diterima Allah Swt. Padahal bisa jadi kita saat kita beribadah rayap-rayap dosa terus menggerogoti amalan kita. Entah itu karena niat yang tidak lurus, terselip perasaan takabur, popularitas dan ingin disebut agamis.

Meski tergolong aktivitas yang sulit, terdapat upaya yang dapat dilakukan untuk tetap ber-istiqamah pascaramadhan, yaitu: Pertama, carilah sahabat yang shalih. Setiap kita membutuhkan sahabat. Bahkan para nabi dan rasul pun dalam berdakwah senantiasa ditopang oleh para sahabatnya. Nabi Musa a.s didukung oleh Nabi Harun a.s. Nabi Isa dengan Nabi Yahya dan Nabi Zakariyya ditambah para hawariyyun. Nabi Muhammad Saw berdakwah menyebarkan ajaran Islam bersama para shahabat besar. Semuanya tidak ada yang sendiri. Maka begitupula kita. Tidak mungkin menapaki dunia dan berupaya konsisten menjalankan seluruh syariat Islam secara sendiri ditengah cobaan dan fitnah yang membabi buta seperti sekarang ini tanpa kehadiran sahabat  shalih yang mengingatkan perkara wajib, sunat serta memperingati perkara syubhat dan haram. Sahabat yang membersamai tidak hanya di dunia namun juga di akhirat.

Kedua, memperbanyak istigfar. Rasulullah Saw dan para shahabat senantiasa mengucapkan istigfar setiap saat dan waktu, padahal mereka adalah sosok manusia yang telah dijamin surga, dan Rasulullah saw dimaksumkan dari dosa  besar dan kecil, namun tetap melantunkan istigfar. Kita barangkali harus melakukannya mengingat dosa kecil dan besar yang senantiasa hadir dilakukan secara sadar. Dosa-dosa ini yang sesungguhnya menghalangi kita dari sikap istiqamah. Bila kita saat Ramadhan mampu membaca Al-Quran satu hari satu juz, maka minimal di luar Ramadhan kita pun harus mampu membaca Al-Quran satu hari satu juz dan mengkhatamkannya satu bulan satu kali. Bila ternyata satu juz tidak bisa, minimal lima lembar, bila tidak bisa pula, maka minimal satu lembar. Bila masih berat, maka minimal satu ayat. Dan bila itu pun tidak bisa, maka beristigfarlah karena dosa-dosa kitalah yang menghalangi kita untuk mampu membaca Al-Quran.

Ketiga, mengikuti majelis ilmu. Seringkali mengalokasikan waktu secara mengikuti majelis ilmu, taklim, halqah senantiasa terlewat dalam agenda kita. Padahal perkara ini adalah pekara yang utama dilakukan bagi kita. Syekh Baaz menyatakan, “Jika seseorang tidak menghadiri halqah ilmu, tidak pernah mendengar khutbah, dan tidak perhatian dengan apa yang dinukil dari para ulama, maka akan semakin bertambah kelalaiannya dan boleh jadi hatinya akan mengeras seperti batu dan dia termasuk orang-orang yang lalai” (Majmu Fatawa:12/324). Bila untuk bekerja di sektor formal atau pemerintahan saja, kita membutuhkan waktu lebih dari 16 tahun untuk menyelesaikan studi, lalu bagaimana untuk urusan akhirat? Sementara urusan akhirat adalah perkara yang sangat besar dimana para shahabat tidak segan menukar kekayaan dan kebahagiaan dunia untuk kemuliaan akhirat.

Keempat, membuat daftar amalan yang harus dilakukan. Daftar ini berisi aktivitas ibadah yang senantiasa dilakukan saat Ramadhan. Karena Ramadhan membentuk kebiasaan baru, maka daftar ini dapat digunakan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Lalu, secara konsisten menjalankan aktivitas yang sudah ditulis dalam daftar tersebut. Para ahli pengembangan diri menyebutkan bila kebiasaan baru ini secara konsisten dapat dilakukan selama minimal 40 hari, maka ia akan menjadi habit yang ternanam secara kuat.

Semoga seluruh ibadah pada Ramadhan diterima Allah Swt dan kita semua digolongkan menjadi orang-orang yang bertakwa. Aamiin. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments