PETA HIDUP SUKSES

0
305

“Sukses dunia dan akhirat”, “Semoga sukses” atau “aku ingin menjadi orang sukses” kalimat-kalimat yang senantiasa diucapkan, diharapkan dan bahwa ingin diwujudkan. Namun saat dikejar batasan “sukses” atau definisi sukses yang dimaksud, maka tiba-tiba kalimat-kalimat seolah-olah kehilangan maknanya. “Iya, sukses itu apa ya?” begitulah kira-kira ungkapan kebingungan tersebut.

Banyak definisi sukses seperti, “sukses adalah melakukan hal terbaik” atau “sukses adalah mampu membedakan keinginan dan kebutuhan” Setiap orang berhak mendefinisikan dan menentukan suksesnya itu. Yang menjadi masalah bukan pada definisi sukses apa yang dibuat dan diyakini serta ingin dicapai, namun apakah sukses yang dimaksud tersebut jelas-jelas tergambar atau hanya jadi sebatas wacana tak tergambar dalam benak.

Maka untuk menentukan sukses dalam hidup, perlu dipahami terlebih dahulu makna mendasar tentang hidup (life’s philosophy), seperti dari mana kita berasal (life’s origins) dan untuk apa kita hidup (life’s purpose) lalu untuk apa hidup ini akhirnya kita persembahkan (life’s dedication).

Bila sukses dipahami sebagai memberi terhadap sesama, menjadi filantropis (dermawan), maka ia akan mengerahkan segenap daya upayanya menjadi orang yang akan dapat berderma dengan harta yang ia miliki. Ia akan berpikir bagaimana ia mendapatkan harta tersebut. Tentunya, ia bercita-cita menjadi pengusaha, owner perusahaan beromset triliunan agar ia bisa memberikan hartanya untuk menolong sesama. Ia akan mendirikan yayasan sosial, lembaga pemberi beasiswa atau sarana apapun untuk mendermakan hartanya tersebut. Tidak mungkin ia menjadi orang yang kekurangan bila ia memiliki mimpi menjadi seorang filantropis, kecuali ia harus banyak memiliki karya untuk menopang mimpinya tersebut.

Kata-kata sukses tidak boleh menjebak kita pada bayangan yang abstrak. Seperti, “Ingin menjadi manusia yang baik”, sementara kata “baik” ini tidak jelas ukurannya. Termasuk pula, kalimat, “Ingin berguna untuk bangsa, negara dan masyarakat” sementara makna dan ukuran “berguna” itu abstrak dan sulit untuk diukur. Lebih baik diganti dengan “Ingin berprofesi sebagai dokter kemanusiaan, yang membuka layanan kesehatan di Papua atau perbatasan Indonesia”. Atau “Menjadi guru di tempat terpencil”. Ini jauh lebih terukur.

Tentunya, dalam perspektif muslim, sukses itu tidak dimaknai sekadar sukses dunia an sich. Melainkan harus melihat secara jauh ke depan (beyond). Aktivitas kebaikan sejatinya tidak akan hanya berakhir di dunia bila kita niatkan untuk ibadah. Ia akan menjadi pundi-pundi amal di akhirat. Meringankan beban dosa dan membuka rahmat Allah Swt. Karenanya, buatlah definisi dan ukuran sukses yang jauh ke depan. Tidak semata-mata sukses dunia, misalnya “menjadi milyarder, kaya-raya” sementara terdapat fase kehidupan lain (akhirat) yang tidak tersentuh.

Sedari sekarang, marilah kita mencontoh pola pikir para shahabat yang seluruh hasil karyanya masih dapat kita saksikan sekarang. Bahkan diantaranya menjadi pelajaran berharga, warisan ilmu yang luar biasa bagaimana memperlakukan dunia secara unik. Mereka adalah contoh-contoh manusia sukses penduduk surga, terkenal di bumi dan mahsyur di langit. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleHIDUP UNTUK YANG MAHA HIDUP
Next articleBERISLAM TANPA TAPI
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.