BERISLAM TANPA TAPI

0
216

Iya, itu idealnya, saya tahu kita harus sabar, tapi kan sulit…”, “Tapi kan Allah tahu keterbatasan kita, jadi ga usah fanatik-fanatik deh.”. “saya tahu kerudung itu wajib, tapi kan gimana dengan kerjaan saya” “tapi kan, tapi kan, tapi kan…” ekspresi-ekspresi serupa, meski tidak persis, biasa kita dengar atau mungkin kita sendiri yang mengatakan demikian. Satu sisi, akal kita tidak mampu membantah aturan Allah Swt karena itu memang logis, demi kebaikan diri dan manusia, namun sisi lain ia berbenturan dengan keadaan kita sendiri, entah kita memang belum siap atau kondisi di luar diri kita yang memaksa kita menomor-duakan perintah Allah Swt tersebut.

Nampaknya kita semua sepakat bahwa bila muslim mengenakan kerudung dan gamis akan lebih tampak anggun, berwibawa dan rapi, dibandingkan mereka yang mengenakan rok mini ketat, kaos ketat yang tembus ke dalam hingga tanpa lengan. Namun aturan Allah Swt yang mewajibkan muslimah mengenakan kerudung dan gamis ini tidak serta merta dituruti. Entah ditolak dengan berbagai alasan atau dengan syarat atau dengan tapi.

Tidak hanya tentang aturan pakaian, dalam praktik ekonomi juga demikian. Kita semua mengetahui bahwa riba adalah sesuatu yang sangat terlarang. Meminjam uang dengan penambahan pengembalian. Hati keci kita sejatinya menolak dan menganggap itu merupakan praktik kapitalisme yang jauh dari rasa keadilan. Betapa tidak, pemilik uang cukup menyimpankan uangnya di bank untuk didepositokan, uang tersebut lalu didistribusikan ke bagian kredit untuk disalurkan pada mereka yang akan berbisnis, entah itu skala kecil hingga besar. Pebisnis kecil, entah dia rugi atau untung, harus mengembalikan pinjamannya ditambah dengan bunganya sesuai tenor yang disepakati. Meski hati kecil menolak, lagi-lagi, kata tapi menjadi alasan pembenar untuk tidak menuruti perintah Allah Swt.

Dalam ibadah juga nampaknya begitu. Allah Swt menganjurkan bahkan mendorong umat Islam bersedekah. Bahkan Allah Swt berjanji menambahkan minimal 10 kali lipat bahkan lebih sedekah yang diberikan. Lagi-lagi, kata tapi menjadi alasan untuk tidak bersedekah atau bersedekah sekadarnya. Membaca Al-Quran juga demikian. Shalat Dhuha, Tahujud dan shaum sunnah terlepas begitu saja dari hari ke hari. “Saya ingin melakukannya, tapi susah. Tapi sibuk. Tapi lupa. Tapi gimana dengan anak-anak, siapa yang urus?”  Betapa banyak tapi dalam keberIslaman kita. Seakan-akan perintah Allah Swt itu adalah beban, kewajiban, bukan kebutuhan. Allah Swt baru kita panggil saat dada mulai berat karena kekecewaan-kekecewaan dunia. Gagal berbisnis, dikhianati, dipecat, tidak dipromosikan, pensiun. Sementara itu, rahmat dan karunia Allah Swt tidak pernah memiliki syarat dan tanpa dihalangi oleh kata tapi.

Allah Swt berfirman:

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui (QS al-Baqarah [2]: 216).

Kaidah fiqh menyatakan “Haysu kaana al-syar’u fastsamatil maslahah” (dimanapun ada syariah, maka di sana pasti ada maslahat).

Seharusnya ada dalam pola berpikir kita keyakinan bahwa seluruh aturan Allah Swt baik itu yang melarang manusia untuk berbuat atau memerintahkan berbuat sesuatu sejatinya adalah untuk kebaikan kita. Maha Rahman dan Rahimnya Allah Swt yang membuat aturan hidup bagi manusia, khususnya bagi muslim, untuk kemaslahatan, rahmat untuk seluruh alam semesta. Bisa jadi manfaatnya secara serta merta dapat dirasakan dan diterima secara logis sekarang, namun bisa jadi, logika manusia tidak atau belum menjangkau hal tersebut.

Kata-kata tapi sesungguhnya tidaklah bernilai bila kita mengkaji kembali pada keimanan kita. Bila kita telah mengazamkan pada diri kebenaran kalimat tauhid, Laaillaha illallah, Muhammadurrasulullah (Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah), maka artinya kita secara sadar telah berserah diri, menyerahkan diri, tunduk kepada aturan Allah Swt sebagai konsekuensi tauhid kita. Bagaimana mungkin, kita menentang perintah dan larangan Allah Swt disaat kita secara sadar memegang prinsip-prinsip tauhid.

Bila Allah Swt memanggil, maka yang lain adalah kecil. Tinggalkan seluruh kepentingan dunia. Tidak ada yang lebih penting dari panggilan Rabb Semesta Alam. Pundi-pundi kekayaan hanya berguna saat hidup di dunia, entah itu 10 tahun, 20 tahun atau beberapa tahun ke depan lagi. Setelah itu, pundi-pundi kekayaan itu ditinggalkan, beralih tangan, diperebutkan.

Maka, jika kosakata tapi ini menghambat kita untuk tunduk, menjadi belenggu dalam “sami’na waato’na”, coba periksa lagi keimanan kita. Setipis apakah gerangan kadar iman kita, jangan-jangan dunia telah membawa jauh diri kita. Sehingga secara tidak sadar, dengan kata tapi ini, kita tengah menuhankan tuhan-tuhan kecil atas nama kebahagiaan dunia. Mari kita beristigfar bersama-sama. Astagfirullahaladzim

Comments

comments

SHARE
Previous articlePETA HIDUP SUKSES
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.