BAHAYA VIRUS DUNIA

0
239

Sudah sejak lama umat Islam hidup dalam setting masyarakat kapitalistik. Seluruh ukuran hidup di takar melalui ukuran dunia, materi. Sementara urusan akhirat, selalu menempati urutan ke sekian. Memang, kepentingan untuk hidup, pemenuhan kebutuhan primer, tidak bisa dinanti-nanti. Ia harus real time, saat ini. Lapar bila tidak segera dipenuhi, maka akan sakit. Tidak dengan akhirat. Seolah-olah tidak shalat, tidak zakat saat ini, tidak akan mengakibatkan kematian. Mungkin itu dasar pikiran sederhananya.

Namun dengan senantiasa bekerja dan berjuang demi penghidupan dunia, uang, jabatan, maka kepentingan akhirat terabaikan. Terlebih lagi gaya hidup hedonis dengan pola pikir sekuler akhirnya menjebak umat Islam untuk tidak menggunakan standar nilai Islam, yaitu halal dan haram. Secara alam bawah sadar, ukuran kebermanfaatan, yang penting  menguntungkan, menghasilkan uang, dan sejenisnya, tanpa menimbang kembali apakah hal tersebut dalam perspektif Islam halal atau haram.

Pendidikan, sebagai pondasi penting dalam peradaban manusia, cukup tergerus dengan virus dunia ini. Tengok saja saat memilih sekolah untuk anak-anak kita, pekerjaan, termasuk di dalamnya pertimbangan memilih profesi tersebut. Bisa diakui bahwa pilihan sekolah adalah branded, favorit, terkenal yang sudah terbukti meluluskan sarjana-sarjana yang saat ini sukses di pekerjaannya. Memilih profesi yang mudah diterima kerja di dunia usaha dan industri, sehingga dapat hidup mapan.

Pertanyaan untuk renungan, sudahkah kita sedikit mempertimbangkan saja aspek akhirat dalam memilih sekolah dan profesi tersebut? Sudahkah kita sedikit mempertimbangkan apakah sekolah dan profesi yang dipilih adalah untuk ibadah, jihad, membela umat Islam dari kezhaliman, kemiskinan dan keterbelakangan? Atau sudahkah kita menjatuhkan pilihan sekolah dan profesi tersebut agar bahagia dunia dan akhirat?

Berpikir sekular ini berbahaya, terlebih dalam pendidikan. Ini dikarenakan ada perbedaan tujuan antara pendidikan dan sekularisme. Pendidikan bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, yang dari kata-katanya saja berasal dari istilah agama. Sementara sekular, berbicara tentang dunia, dunia dan dunia. Lalu, bagaimana mungkin bila peradaban yang terbangun adalah peradaban yang cinta dunia, sementara ia adalah fana, terbatas waktu dan pasti akan ditinggalkan. Maka dipastikan, manusia akan berlelah-lelah mengumpulkan setiap jerih untuk dunia, pergi pagi pulang malam hingga subuh, untuk dunia. Pergi dari satu kota, tempat, bahkan negara, demi dunia. Profesional, demi dunia, hanya untuk tahun-tahun yang singkat. Peradaban dengan pondasi cinta dunia ini sejatinya pernah ada pada bangsa-bangsa dulu, sebut saja bangsa Adn, lalu diluluhlantakkan karena kemajuan peradabannya akhirnya menyelisihi aturan-aturan Allah Swt.

Akhirat adalah hal yang pasti, sebagai keyakinan keimanan, abadi, dan pasti akan ditemui oleh setiap manusia. Bukankah setiap saat kita temui manusia yang wafat, lalu harta-harta sepeninggalnya diwariskan atau dihabiskan oleh ahli warisnya? Sementara yang akan menyelamatkan dia di akhirat adalah amal ibadahnya.

Tanamkan dalam cara berpikir bahwa kita adalah makhluk akhirat yang dikirim sementara di dunia. Entah lima puluh tahun lagi, atau dua puluh tahun, atau beberapa bulan saja, Allah Swt akan memanggil pulang. Bila hari ini, beberapa detik ke depan, Allah Swt memanggil kita pulang, kira-kira sudah siapkah kita? Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleBERISLAM TANPA TAPI
mm
Penulis adalah guru dan sekaligus dosen. Doktor Ilmu Pendidikan ini mencintai dunia tulis menulis, khususnya berkaitan dengan isu keIslaman. Memiliki motto, meminjam ungkapan Ustadz Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.