MEMELUK LUKA

0
361

Setiap kita pasti pernah terluka. Bisa karena harapan tidak sesuai kenyataan. Vonis dokter atas penyakit kita. Gagal dalam wawancara. Dipecat. Tidak naik pangkat. Dikhianati seseorang yang sangat kita percaya, atau  kegagalan semisal dalam urusan dunia. Sejujurnya, luka dapat dijadikan “indikator” keteguhan iman kita. Apakah dengan luka tersebut kita kembali terbangun, merangkak meski luka tersebut masih basah dan perih. Apakah kita menunggu luka mengering, lalu mulai berencana untuk move on. Apakah kita menyerah kalah, berputus asa, menyalahkan takdir Allah Swt yang sudah tertulis sekian lalu pada lauhul mahfudz.

Dalam satu hadist riwayat Muslim, dikisahkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah. Jika kau ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak Allah pasti dilakukan. Sebab kata seandainya itu dapat membuka perbuatan setan’”

Hadist di atas, mengajarkan kepada kita bahwa mengeluh terhadap takdir/qadha yang ditetapkan Allah Swt merupakan ciri lemah. Terlebih dengan kata-kata, “Coba jika tidak melakukan ini, mungkin tidak gagal” atau “Seandainya mengikuti saran si Fulan, mungkin berhasil”, lalu menyalahkan Allah Swt karena usahanya tidak beroleh hasil yang sesuai. Berputus asa, depresi dan bunuh diri. Jelas itu bukan penyikapan yang berdasarkan keimanan.

Luka bisa jadi obat pengetuk perasaan diri yang sombong. Pengingat bahwa kita tidak ada apa-apanya. Mengundang nikmat syukur. Bukankah nikmat sehat baru terasa saat sakit. Nikmat berhasil kuat disyukuri saat gagal. Nikmat lapang baru teringat dikala luka. Harapannya, dengan luka tersebut kita diingatkan dengan Allah Swt Yang Maha Kuat dan Perkasa atas segala apapun. La Hawla wa la quwaata illa billah!

“Dan janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat-Nya melainkan kaum yang kafir” (Q.S Yusuf: 87). Rahmat Allah Swt banyak tiada terkira, hingga saking banyaknya kita melalaikan satu demi satu setiap rahmatNya tersebut. Seorang muslim seharusnya menyadari bahwa ia berada dalam dua domain. Pertama, domain yang ia dapat kendalikan dan kelola (mukhayyar). Ia akan begitu cermat dalam merencanakan dan memutuskan sebuah perbuatan. Karena seluruh keputusan dan perbuatannya akan terkena hisab. Kedua, domain yang ia tidak dapat kelola (musayyar). Pada domain ini, ia pasif, tidak dapat menentukan hasil. Pada domain ini, ia wajib untuk bersabar dan berhusnuzhan terhadap ketetapan Allah Swt. Dengan itu, ia akan memperoleh pahala.

Inilah sikap muslim yang dikendalikan atas  Imani-nya. Kesadaran akan ketundukkan dirinya kepada Allah Swt. Sehingga sebesar apapun luka yang ia terima, tidak akan menjadikan ia lemah, putus asa dan berhenti berharap. Terlebih seluruh luka tersebut diakibatkan oleh urusan remeh temen yang disebut dunia. Selama luka tersebut tidak menjerumuskan pada siksa neraka, maka nikmatilah, peluklah. Semoga Allah Swt menjadikan kita sebagai mukmin yang kuat. Aamiin!

SHARE
Previous articleHAKIKAT PERPISAHAN
Next articleDUNIA DAN VISI HIDUP MUSLIM
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.