MENGAKHIRATKAN DUNIA

0
745

Sejatinya manusia adalah makhluk akhirat yang Allah simpan beberapa saat di dunia, lalu kemudian, entah sepuluh, dua puluh, enam puluh atau lebih, Allah akan panggil ia pulang ke kampung asalnya, yaitu akhirat. Dunia dan akhirat bukanlah tentang pilihan hidup bahagia seperti yang kita sering dengar. Ingin bahagia dunia atau akhirat? Atau mengejar dunia atau akhirat? Melainkan, baik dunia maupun akhirat adalah proses perjalanan hidup manusia. Akhirat pasti akan dialami oleh semua makhluk hidup. Sehingga, pola pikir kita seharusnya adalah menjadikan kehidupan dunia untuk akhirat. Kebahagiaan di akhirat ditentukan oleh cara hidup kita di dunia. Cara pandang muslim dalam melihat kehidupan, karenanya, tidak memisahkan antara dunia dan akhirat. Berbeda tentunya dengan sekulerisme. Ide ini yang begitu mempengaruhi cara pandang hidup muslim saat ini. Mengejar dunia tanpa batas dan lelah, seolah-olah kehidupan akhirat tidak pernah ada.

Dalam satu hadist dari Anas ra. pula, berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Akan didatangkan orang yang ternikmat kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat, lalu dicelupkan dalam neraka sekali, lalu dikatakan: Hai anak Adam, apakah kamu melihat kebaikan sekalipun sedikit? Apakah kamu pernah merasakan suatu kenikmatan sekalipun sedikit? Ia berkata: Tidak. demi Allah, ya Tuhanku. Juga akan didatangkan orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli surga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam surga, lalu dikatakan padanya: Hai anak Adam, apakah engkau melihat suatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Apakah engkau pernah merasakan suatu kesukaran sekalipun sedikit? Ia menjawab: Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah aku melihat suatu kesengsaraan sama sekali.” (HR. Muslim).

Memiliki pandangan bahwa hidup untuk kepentingan akhirat, akan menjadikan dunia seperti akhirat. Dengan kata lain, mengakhiratkan dunia. Kebahagiaan yang dicari bukanlah kebahagiaan yang membutuhkan pengakuan orang lain, jumlah like dalam media sosial atau membeli barang-barang branded agar diakui kaya oleh orang lain. Bukan itu. Ia bekerja profesional, mempertajam keahliannya, bukan untuk mengejar pangkat, jabatan dan sekaligus pujian dan upgrade sosial, melainkan hanya demi merealisasikan kewajiban dia sebagai manusia, yaitu beribadah secara optimal. Bekerja profesional sebaik-baiknya menjadi wujud ibadah sosial yang tidak kalah penting dengan ritual. Puja-puji manusia, promosi jabatan, uang, kata-kata baik yang disampaikan oleh rekan, keluarga atau manusia, tidak memiliki nilai apapun, kecuali hanya ridha Allah Swt yang ia tuju.

Mari mengakhiratkan dunia!

(Mengakhiratkan dunia, kata yang dikenalkan oleh Mbah Nun dalam salah satu Maiyahnya)  

Comments

comments

SHARE
Previous articleTAMAN DUNIA DAN TAMAN SURGA
Next articleJANGAN ZHALIM, PLEASE! ALLAH TIDAK SUKA
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.