Kopi Boleh Pahit, namun hidupmu jangan

0
1934

kopiTentang hari ini.
Izinkan aku bersajak.
Yang tak ku mengerti dari kopi, mengapa ia memiliki rasa yang sama meskipun diolah dengan cara berbeda?

Aku tak mengerti.
Tentang rasanya.
Tentang aromanya.
Namun aku mengerti dengan kejujurannya.

Kejujurannya bahwa ia menyediakan rasa yang pahit.
Panas.
Dingin.
Ia tetap sama.
Aku tak dapat mengelak.
Aku cemburu dengannya.

Mengapa demikian?
Ini begitu membingungkan.
Ada teka-teki.
Antara hati dan kopi hari ini.
Hati?
Iya, hati masih bisa berbohong.

Hati masih bisa mengelak.
Hati masih bisa memunafikkan rasa.
Meskipun telah timbul rasa sesak yang mencengkram di dada.
Hati masih bisa berkata “aku baik-baik saja”

Padahal, hati tetap masih menghadapi hal yang sama.
Apakah itu?
Rindu?
Cinta?
Kagum?
Semua itu hadir didalam diamku.
Sayang, mereka menyiksa.
Dan aku tetap ingin merasakannya.
Aneh, aku tak bisa berkata jujur pada dunia.
Dosakah yang kini ku lakukan?
Aku kira, ini fitrahku sebagai hambaNya.
Akankah aku tetap menjadi seorang pecundang?
Atau berhenti untuk mencari apa yang semestinya harus ku lakukan?

Aku kembali bertanya.
Hingga tak terasa.
Segelas kopi hari ini telah habis bahkan senja pun tak ikut serta di dalam sajak yang biasanya lebih nikmat jika keduanya saling menyatu.

Makassar-04November2016

Comments

comments

LEAVE A REPLY