ENSIKLOPEDIA CINTA ( Merenungi Perasaan)

 

“Aku hanya sepenggal perasaan yang  sedang berkeluh pada hati

Aku hanya sekeping rasa yang hendak terbang namun sayap-sayapnya ada yang mematahkan

Aku hanya sehela napas yang hendak menghirup harapan

Harapan yang membuat rasa ku lebih baik

Harapan yang menjadi doa dalam jiwa setiap waktu”

 

Hai rasa,,, apa kabarmu hari ini? Sudahkah lebih baik atau semakin tidak baik. Biarkan saja,,, sudahi berkeluh karena kesendirianmu itu. Jangan berpikir bahwa hidupmu begitu tragis karena sebuah rasa yang ada pada hatimu tidak ada yang  memiliki. Tidak apa-apa jika kamu merasa ini tidak adil bagi hatimu bukan? Namun satu hal yang harus kamu tau, ada tuhan yang memiliki segala rasa untukmu. Dialah pemilik utuh dari perasaanmu karena tanpa izinnya perasaan itu tidak akan ada.

Hi rasa,,, Aku menemukanmu dalam keadaan patah, entah ulah siapa? Ulah dirimu sendiri atau ulah dari orang… ah sudahlah kucukupkan untuk menyebut namanya kerena jika megingatnya perasaan itu semakin menjadi, yang pada akhirnya akan membuatmu tidak terkendali.

Hi rasa… Kamu ada pada hati ini jadi sudah menjadi hak bagiku untuk menjagamu. Tak akan kubiarkan orang lain melukaimu, jika kamu terluka hal yang  sangat sakit akan aku rasakan. Karena itulah saat ini aku tidak berani memanggil namamu. Kamu hanya sekedar rasa yang indah yang pernah aku miliki.

Pergilah… jika dengan pergi dirimu akan lebih baik. Pergi dan tinggalkan jika keberadaanmu hanya akan membuatku patah dan aku menjelma menjadi sosok yang lemah. Mari kita bicarakan baik-baik sebelum semuanya tercatat dalam kisah yang teramat panjang dan kita akan menyemai kesulitan. Kita akan sama-sama menghentikan perjalanan ini serta mengsudahi perasaan-perasaan yang tidak penting lagi.

Aku masih ingat dulu sesuatu yang tidak aku pahami datang, seiring dengan waktu ternyata keberadaannya hampir menenggelamkan hatiku sendiri, aku seakan dihanyutkan oleh rasa ini beruntung aku segera tersadar bahwa semakin lama aku seperti ini akan semakin tidak baik. Aku hanya ingin meminta maaf pada hati dan pikiranku karena akhir-akhir ini aku menyibukannya hanya karena sebuah rasa. Aku tidak menyalahkan dengan keberadaan perasaan ini di hati, hanya perasaan ini ada untuk orang yang tidak tepat dan kehadirannya tidak akan di hargai, akan selalu di sakiti dan terus di sakiti.

Duhai rasa… datanglah kembali nanti di saat semuanya sudah tepat dan keadaan yang sudah siap. Sebelum kau tiba kembali aku akan berbenah dan memantaskan diri untuk menyambutmu lagi. Singgahi hatiku lagi jika aku sudah dipertemukan dengan orang akan menjadi tuan pemilik utuh dari perasaan ini.

Comments

comments