Tentang Cinta

0
1987

Dalam masalah cinta terdapat banyak sekali definisi. Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada orang yang dicintai. Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah kehendak yang tidak berkurang karena dibenci dan tidak bertambah karena perbuatan baik.

Ada yang mengatakan, cinta adalah mabuk yang tidak bisa sembuh  kecuali dengan bertemu orang yang dicintai. Juga ada yang mengatakan, cinta adalah kebersamaan hati dan jiwa bersama orang yang dicintai tanpa terpisahkan, karena seseorang itu bersama orang yang dia cintai.

Abu Umar az-Zujaji ketika ditanya tentang hakikat cinta, beliau mengatakan bahwa cinta adalah engkau mencintai apa yang dicintai Allah dalam hamba-hamba-Nya dan membenci apa yang dibenci Allah dalam hamba-hambanya.

Maka perhatikan apa yang Allah katakan tentang cinta di dalam kitab paling sahih.

“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran[3]: 31)

Pertanda kecintaan orang-orang mu’min kepada Allah ialah bila mereka menaati perintah-Nya dan lebih memprioritaskan ketaatan demi meraih ridho-Nya. Dan pertanda kecintaan Allah kepada orang-orang mu’min ialah dengan pujian Allah kepada mereka, memberikan pahala, ampunan-Nya serta nikmat-Nya kepada mereka. Juga salah satu tanda kecintaan seseorang ialah bila menaati apa yang disukai oleh kekasihnya dan menjauhi apa yang tidak disukai olehnya.

Maka perhatikan bagaimana kondisi kita saat ini. Apakah benar-benar sudah menempatkan cinta kepada Sang Maha cinta? Sudahkah kiranya kita menyatakan cinta, bukan hanya sekedar dengan lisan yang pandai berbohong, melainkan dengan bukti nyata yang tercermin dari pribadi yang mencinta?

Sesungguhnya cinta itu tidak tampak dari orang yang mencintai melalui kata-katanya, namun tampak dari tabiat-tabiat dan tindakannya. Ini memang benar, sebab tanda keadaan atas cinta ialah lebih besar dari pada tanda melalui ucapan. Bahkan yang menandakannya secara hakiki adalah bukti keadaan, bukan kejelasan kata-kata. Adalah beda antara orang yang berkata hanya dengan kata-kata,”sungguh aku mencintaimu”, namun tidak ada bukti dari keadaan dirinya, dengan orang yang diam tidak bicara namun nampak jelas bukti-bukti dan keadaannya yang semuanya menyatakan cintanya.

Cinta memang manis. Jatuh cinta tentu indah. Namun, jangan sampai terlalu salah dalam menempatkan cinta yang berlebihan. Bila agama tak jadi pegangan, maka ketika terlanjur cinta, mata hati tertutup, akal sehat tak terbuka, tak sanggup bedakan salah dan benar, baik dan buruk, semua benar dan baik tersebab cinta yang salah.

Seseorang pernah ditanya tentang cinta kepada Allah, maka ia menjawab, “Menghapuskan semua ambisi diri, membakar semua status dan kebutuhan, dan menenggelamkan diri di dalam lautan isyarat yang menunjuk kepada-Nya”.

Seorang sahabat mulai Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan bahwa barang siapa yang merindukan surga, niscaya akan bersegera mengerjakan kebaikan, dan barangsiapa yang takut neraka, niscaya akan menahan hawa nafsu dari keinginannya, dan barang siapa yang yakin dengan kematianya, maka semua kesenangan yang ada terasa tiada berarti baginya.

Hati-hati dalam menempatkan cinta, apabila dia salah maka akan berujung kepada syirik mahabbah (syirik cinta). Cinta kepada makhluk hakikatnya dan seharusnya diletakkan setelah kecintaan kepada Sang Pemilik makhluk, Rabbul ‘izzati. Kecintaan kepada makhluk hanya sementara, sedang kepada-Nya kekal selamanya.

Ya Allah Ya Ilahi Rabbi

Relakan Aku Dengan Ketentuan-Mu

Sabarkan Aku Atas Bala-Mu

Syukurkan Aku Atas Nikamt-Mu

Aku Mohon Kesempurnaan Nikmat-Mu

Kelestarian Keselamatan-Mu

Dan Ketetapan Cinta dan Kasih Sayang-Mu

Wallahu ta’ala a’lam.

Comments

comments