KEBAHAGIAAN HIDUP YANG OTENTIK

0
1092

Apa yang terbersit dalam pikiran kita saat membaca status pada lembaran media sosial atau caption foto tawa, ceria dan gembira. Begitupula saat membaca postingan berisi tausiyah, kegaulauan dan kesendirian. Pertanyaannya,  caption foto tentang kebersamaan, keceriaan atau mungkin kegalauan itu sama dengan yang saat itu dirasakan. Atau ia hanyalah sebuah drama kehidupan. Tertawa lebar agar disangka tengah bahagia, sementara kenyataannya tidak demikian.

Dalam dunia linguistik dan komunikasi, dikenal istilah “representasi”. Ia merupakan gambaran sesuatu atau kejadian yang sudah mengalami berbagai perbaikan, editing sehingga nampak seperti kenyataannya. Padahal bisa jadi kejadian aslinya tidak demikian. Gambar memang bisa memunculkan sekian ribu kata, itulah mengapa dikenal pepatah di Barat, A picture is worth a thousand words.

Tentunya sebagai muslim, kita berkeinginan bahwa setiap momen memang betul-betul membawa kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan hanya sekadar pencitraan, mengundang like dari para followers. Hal kecil ini, bila tidak hati-hati dapat mengundang riya. Atau mungkin berpotensi menumbuhkan bibit sifat munafik. Semoga kita dijauhkan dari sikap pamer. Bahkan bisa jadi, momen yang benar-benar indah, justru terkadang membuat lupa untuk diabadikan melalui kamera handphone. Saking menikmati suasana tersebut.

 

Saat ini sesuatu yang otentik, orisinal dan asli nampaknya tidak dapat ditemukan secara mudah, karena ia dikepung oleh sesuatu yang palsu, tidak otentik dan untuk kepentingan representasi tadi. Karena itu, mulai saat ini, di awal tahun 2019 ini, jadikan diri kita sebagai pelopor untuk hal-hal yang otentik, apa adanya. Termasuk dalam hal ini, mengundang kebahagiaan yang otentik tadi. Sebagai muslim, kebahagiaan itu sejatinya sederhana. Tidak kompleks dan mahal. Ia seharusnya bahagia saat ia menjadi muslim. Terlebih lagi, ia menjadi pemeluk Islam yang taat, memiliki keleluasaan waktu untuk mencari ilmu dan tsaqafah Islam, bahkan mengamalkan dan mengajarkannya.

Kebahagiaan yang paling tinggi tentunya bukan berada di dunia yang fana ini. Melainkan saat ia kembali pada kehidupan akhirat. Saat Allah Swt memanggilnya pulang secara husnul khatimah, lalu mendapaatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw, kemudian dikumpulkan di surga Firdaus bersama para nabi, ulama dan keluarganya. Ia berkumpul bersama istri atau suami beserta anak-anaknya. Nampaknya tidak ada kebahagiaan yang melebihi dari suasana tersebut.  Wallahu’alam bishshawwab

 

 

Comments

comments