Meneropong Ilmu Dalam Perspektif Tsaqofah

0
939

Masa yang paling pas bagi seorang manusia untuk belajar suatu ilmu adalah masa muda. Bahkan Imam Syafi’i menekankan untuk setiap manusia yang baligh untuk mempelajari agamanya. Artinya ketika masa muda sudah datang, setiap insan manusia harus selayaknya belajar dan mencintai apa yang ia pelajari yakni ilmu.

Kita bisa membagi suatu ilmu menjadi dua kategori yang dilihat berdasarkan perspektif tsaqofah. Tsaqofah artinya adalah suatu ilmu dan pengetahuan yang didasarkan pada suatu akidah tertentu. Ilmu yang terkategori tsaqofah misalnya ilmu fikih, hadits, tafsir, sistem ekonomi, politik, dan sebagainya. Itu adalah ilmu sekaligus tsaqofah yang di dalamnya terdapat akidah dan nilai-nilai islami. Begitu pun ketika kita mempelajari suatu ilmu yang terdapat akidah dan nilai-nilai agama lain, maka itu adalah tsaqofah dari agama tersebut.

Artinya apa? Artinya ilmu yang terkategori tsaqofah ialah tidak netral. Tidak netral bukan artinya ia tidak memihak antara A dan B. Melainkan ketika kita mempelajari dan mengamalkannya, maka kita akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Karena tidak boleh bagi umat Islam untuk melakukan aktivitasnya yang didasarkan pada ilmu yang tercampuri tsaqofah-tsaqofah di luar Islam.

Berbeda dengan ilmu yang tidak terkategori tsaqofah, maka ia bebas untuk dipelajari dan diamalkan kepada siapapun. Contohnya adalah matematika, statistik, kimia, teknik industri, perkapalan, perminyakan, penerbangan, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak terdapat unsur akidah atau nilai-nilai dari suatu agama tertentu maka itu bukanlah tsaqofah. Dan itu bebas-bebas saja untuk digunakan oleh siapapun.

Bagi umat Islam yang terikat pada cara berpikir dan berperilaku Islami, maka sudah sepantasnya yang ia konsumsi adalah yang berasal dari Islam. Ia mempelajari berbagai pemikiran Islam, hingga pada pengaplikasiannya.

Pertanyaannya adalah bagaimana ketika kita mempelajari tsaqofah di luar Islam? Selama itu sebatas untuk kita pelajari sebagai sarana untuk mengetahui kebthilan-kebathilannya, jelas tidaklah mengapa. Yang tidak boleh adalah ketika kita mempelajari tsaqofah di luar Islam, kemudian kita implementasikan dan kita katakan bahwa tsaqofah inilah yang paling benar dan tsaqofah Islam adalah salah.

Jadi sebagai sebuah fakta, memang benar bahwa ilmu terbagi menjadi dua kateori besar tadi, satu tsaqofah dan non-tsaqofah. Tsaqofah pun ada tsaqofah Islami dan non-Islami. Maka sebagai umat Islam, satu-satunya tsaqofah yang layak dipelajari dan diamalkan adalah tsaqofah Islam.

Penulis: Budi Santoso

 

Comments

comments