Menyontek Saat Debat, Pendidikan Tak Baik Untuk Remaja

0
1064

Debat perdana Capres-Cawapres pada Kamis 17 Januari 2019 meninggalkan sorotan publik yang sangat tajam. Hal ini lantaran pasangan calon di forum debat memperlihatkan bagaimana ketika memaparkan program-program dan menjawab pertanyaan dilakukan dengan cara menyontek kertas yang sudah ia persiapkan.

Sontak hal itu menjadi viral di media sosial. Hari ini dari berbagai media menyoroti aksi menyontek yang dilakukan oleh paslon tersebut. Bukan tanpa alasan. Ini adalah debat untuk menentukan mana yang layak dipilih oleh publik. Dan tidak lupa juga sebelum debat berlangsung, kisi-kisi sudah diberikan oleh KPU (Komisi Penyelenggaraan Pemilu).

Tentu hal ini menjadi paradoks dengan apa yang diajarkan di dunia pendidikan. Bagi yang mengenyam pendidikan di level apapun tentu pelajaran utama yang sering ditekankan adalah untuk tidak menyontek. Apakah itu pada saat kuis maupun ujian.

Menyontek adalah suatu perilaku yang menunjukkan ketidakpercayaan diri. Ketika ketidakpercayaan itu muncul maka ia akan mencari asupan untuk membuatnya semakin yakin. Atau kalau tidak terhindar dari rasa malu.
Bayangkan perilaku menyontek ini tidak lagi hanya dilakukan oleh pelajar saja, tetapi juga Capres-Cawapres Republik Indonesia. Ini miris. Bagaimana akan memimpin kelak, jika sedari awal saja sudah tidak percaya diri. Bagaimana dia memberikan kepercayaan diri untuk kaum remaja sebagai penerus bangsa, jika dirinya saja harus membawa contekan. Padahal kisi-kisi sudah diberikan.

Terlepas dari debat Capres-Cawapres, tentu ini adalah bentuk pendidikan yang salah untuk kaum remaja. Seharusnya remaja diajarkan untuk berlaku jujur dan penuh percaya diri menghadapi situasi apapun. Bukan karena apa, tapi karena ia yakin akan kemampuannya.
Menjadi pertanyaan, kalau calon pemimpin kita mengajarkan seperti ini, kepada siapa lagi kita harus mencontoh?

Penulis: Budi Santoso
Follow IG di: @budisantoso1318

Comments

comments