Apakah Seorang Imam Harus Berasal Dari Organisasi Tertentu?

0
1489

 

Baru-baru ini kita dapati dalam sebuah pemberitaan bahwa ada seorang kyai yang mengatakan bahwa Menteri Agama, KUA, dan Imam Shalat harus dari organisasinya. Jika bukan berasal dari organisasi tempat ia memimpin, maka salah semua.

Pernyataan tersebut pun menuai banyak kritik. Khususnya ulama-ulama yang berbeda organisasi dengannya. Menjadi pertanyaan apakah seorang yang menduduki posisi menteri agama, KUA, dan imam shalat harus dari suatu organisasi tertentu dan tidak boleh yang lain?

Coba kita kupas satu per satu. Untuk posisi menteri agama. Kita tahu bahwa di Indonesia, organisasi massa yang berbasis massa Islam, atau organisasi Islam jumlahnya sangat banyak. Ada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, al-Irsyad, Front Pembela Islam, Persis, dan lain sebagainya. Sedangkan posisi menteri agama bukan saja menaungi seluruh lapisan organisasi berbasis agama, melainkan juga menaungi agama-agama lain.

Maka dalam hal ini, terlalu egois bahwa jika posisi sekelas menteri yang berfungsi mempersatukan seluruh organisasi berbasis massa Islam, dan seluruh agama yang diakui di Indonesia hanya dari satu golongan saja. Jika itu yang terjadi, tentu itu yang disebut sebagai intoleransi sesama muslim dan intoleransi antar umat beragama.

Yang kedua yaitu KUA dan Imam Shalat. Yang perlu diketahui bahwa KUA dan Imam Shalat bukanlah jabatan politik yang bisa diundi berdasarkan pungutan suara. KUA dan Imam Shalat adalah posisi yang mana kemampuan dan kedalaman ilmu agama yang lebih diutamakan. Bagaimana mungkin posisi yang sangat sakral tersebut harus diperebutkan sesuai dengan latar belakang organisasi. Ini jelas kekeliruan.

Rasulullah Saw bersabda mengenai kriteria Imam shalat:

“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an. Jika mereka setara dalam bacaan al- Qur’an, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim no. 673 dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)

Jadi terlepas persoalan yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, sangat perlu juga kita untuk berpikir kritis. Agar tidak terjebak pada nuansa fanatisme keorganisasian. Untuk itu utamakan landasan kita berdasarkan Islam yakni Al-Quran dan As-Sunnah bukan berlandaskan organisasi yang kita ikuti. Wallahu’alam.

Comments

comments