TAMAN DUNIA DAN TAMAN SURGA

0
1041

Fitnah dunia benar-benar menguji jiwa dan akal umat Islam saat ini. Tujuan hidup di dunia, misalnya. Tidak sedikit yang menghabiskan seluruh daya dan upaya untuk menaklukan dunia. Sering kita mendengar orang tua berkata, “Alhamdulillah, sekarang mamah sudah tenang. Kalian sudah bekerja, sudah punya rumah, kendaraan dan menikah”. “Saya bersyukur, anak saya masuk di Fakultas Kedokteran”. “Anak saya jadi PNS” atau “Alhamdulillah, plong, anak saya diterima di kepolisian” dan ungkapan-ungkapan lain yang senada.

“Dia itu sewaktu di sekolah, nakalnya tidak ketulungan. Sekarang jadi pejabat. Jadi orang. Saya bersyukur tidak mengeluarkannya dari sekolah”, ungkap seorang pensiunan kepala sekolah. Taman dunia. Dengan pekerjaan tetap, gaji besar, terpenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, menjadi sukses yang tak ternilai. Ya, taman dunia begitu hebatnya menarik perhatian umat Islam. Segala cara dilakukan untuk bisa meraih sukses menurut batasan taman dunia. Bahkan, ibadah pun, bila memungkinkan digunakan untuk menaklukan taman dunia, ia akan tempuh. Tidak sedikit orang tua yang mengejar lembaga pendidikan Tahfidz Al-Quran, yang dikemudian waktu tergelincir niatnya. Lolos perguruan tinggi ternama memanfaatkan jalur hapalan Al-Quran. Lagi-lagi, niat harus berjuang untuk terus lurus. Sedikit tergelincir. Ya sudah, nikmat taman surga terganti oleh taman dunia.

Cita-cita anak-anak kita, semuanya diucapkan untuk bermain-main di taman dunia. Ingin menjadi dokter, insyinyur, pengusaha, pejabat dan profesi elit lainnya. Entah adakah terbersit porsi pahala untuk mereguk taman surga. Apalagi jaman sekarang, banyak profesi yang seksi, namun syubhat di mata agama. Umat Islam tidak menimbang dulu bagaimana hukum profesi tersebut dalam kacamata agama sebelum ia meniatkan masuk dan bekerja pada profesi tersebut. Semuanya diukur dengan jumlah gaji yang akan di dapat.

Seandainya kita menyadari betapa singkatnya hidup di dunia dengan segala kenikmatan dan kesedihannya, dibandingkan dengan nikmat dan siksa akhirat, mungkin yang lebih kita khawatirkan bukanlah profesi anak kita, rumah-rumah yang belum mereka miliki, atau kendaraan yang bisa menaikkan gengsi mereka. Bukan. Melainkan amal yang kita miliki saat kita berpulang. Amal yang kita lakukan di waktu yang sangat singkat. Termasuk segala hal yang akan kita pertanggungjawabkan di pengadilan hakiki kelak. Sihir taman dunia begitu hebat seakan-akan kita semua akan kekal hidup di sini. Padahal Allah Maha Penyanyang terus mengingatkan kita dengan tanda-tandaNya. Rambut memutih, kulit keriput, penyakit seperti asam urat, darah tinggi, diabetes, dan yang sejenisnya. Itu tanda bahwa cepat atau lambat kita akan pulang.

Mau kemana kita sesungguhnya? Tentunya kita semua mengharapkan taman surga. Tidak berhenti pada harap saja, melainkan ada upaya totalitas, all out untuk meraih itu. Sukses dunia saja kita kerahkan jiwa raga dan biaya demi anak kita mencapai cita-cita yang mereka inginkan. Dari mulai mereka bangun tidur hingga tidur kembali. Lalu, bagaimana mungkin bila kita tidak melakukan sebegitu rupa untuk menggapai taman surga. Untuk masuk ke perguruan tinggi, pekerjaan bergengsi, menjadi artis, musisi kelas dunia, biaya dan usaha yang ditempuh begitu ekstra dan dilakukan dengan air mata dan darah, bagaimana mungkin bila untuk taman surga kita menggunakan  cara-cara minimalis? Berteman akrab dengan dosa, meremehkan syariat Allah Swt dan bahkan menganggap hari kemudian itu tidak ada.

Sebelum akhirat menjadi nyata dan dunia tinggal cerita, tidak ada cara lain untuk melakukan revisi terhadap pola pikir kita. Mindset kita atas apa yang sejatinya perlu diperjuangkan hingga tetes darah penghabisan. Bila Allah Swt bertujuan menciptakan makhlukNya ini untuk beribadah, seharusnya kita memiliki visi untuk ibadah dalam hidup. Hingga nafas terakhir menutup semua cerita. Hidup untuk Yang Maha Hidup. Astagfirullah…

Comments

comments

SHARE
Previous articleMINDSET SUKSES DUNIA AKHIRAT
Next articleMENGAKHIRATKAN DUNIA
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.