MEMURNIKAN IKHLAS

0
829

Mari kita cermati Surat Ali Imran ayat 173 berikut:

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

 

Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah ditulis, “Ketika Nabi kembali dari Uhud menuju ke Madinah dan mendengar bahwa Abu Sufyan beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum musyrikin hendak kembali menyerang Madinah, maka beliau menyeru kembali para sahabatnya untuk bersiap perang. Maka mereka berangkat dengan kondisi masih terluka, demi memunuhi panggilan Allah dan RasulNya, dan menaati Allah dan rasulNya, hingga akhirnya sampailah mereka pada suatu tempat yang bernama Hamra’ al-Asad. Lalu datanglah seseorang kepada mereka seraya berkata, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu,” mereka bertekad untuk menghancurkan kalian, sebagai suatu tindakan menakuti dan menggentarkan mereka. Akan tetapi hal itu tidaklah menambah bagi mereka kecuali iman kepada Allah dan bertawakal kepadaNya, “dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami’, “ maksudnya, cukuplah Dia dari segala hal yang mengkhawatirkan kita, “dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung,” yaitu Dzat yang diserahkan kepadaNya urusan hamba-hambaNya dan yang memenuhi kemaslahatan bagi mereka.”

Bagian akhir ayat ini menjadi salah satu zikir dahsyat umat Islam, “Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir” yang artinya, Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.

Zikir ini terkandung makna yang luar biasa mendalam. Seorang muslim yang muttaqin, bertakwa, ia memiliki keyakinan dan ideologi bahwa di dunia ini tidak diperkenankan menyandarkan harap kecuali pada Allah Swt. Menitipkan harapan, angan dan cita-cita kepada rekan, saudara atau sahabat yang memegang kekuasaan dan jabatan, dalam perspektif ini, sejatinya telah menghina Allah Swt. Bukankah, bersandar kepada makhluk hanyalah akan menambah kekecewaan. Makhluk hanyalah kumpulan ketidakpastian.

Mindet mengenai orang dalam, “tenang ada paman saya, Bapak saya pejabat” atau yang sejenisnya, sama sekali tidak membuat diri kita pasti sukses dan menghasilkan akhir yang sesuai dengan harapan. Semuanya tidak pasti. Mengapa kita tidak meminta harap, berkeluh kesah pada Yang Menciptakan paman, bapak atau pejabat-pejabat yang sedang berkuasa? Apakah karena Allah Swt tidak dapat kita lihat, lalu kita simpulkan Dia tidak ada? Bila demikian, siapakah yang kita sembah selama ini?

Pemikiran mustanir (cemerlang) yang dapat mengaitkan Dzat Allah yang tidak dapat kita lihat, namun sejatinya ada dan hadir dalam keseharian kita (idrak sillah billah). Artinya, bila harapan tidak terwujud, tidak sesuai dengan keinginan kita, tetap ikhlas, menerima, dan berkeyakinan bahwa itu yang terbaik menurut Allah Swt.

Prinsip “Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir” ini sejatinya memurnikan ikhlas dan sekaligus tawakal. Dunia hanyalah sepenggalan nafas, yang itupun umat Islam jadikan sebagai sarana memperbanyak amal shalih. Hakikat kaya raya, sejahtera dan kebahagian adalah akhirat. Bukan dunia. Karena itu, bagi kita, tidak perlu terbebani dengan tuntutan dunia, keinginan ini dan itu yang tidak hanya akan memperpanjang hisab di hadapan Allah Swt.

Mungkin dalam hati kita terbesit tanya, “Dapatkah kita kaya raya, hidup senang di dunia, bila hanya berharap pada Allah Swt?” Maka hadist berikut menjawab keraguan itu.
“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran membayangi kedua matanya. Dan dunia tidaklah datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya dan menjadikan kekayaan memenuhi hatinya, serta dunia mendatanginya dalam keadaan hina (tunduk).” Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleBANDINGKAN ANDA HARI INI DENGAN ANDA KEMARIN
Next articleTAHUN BARU, MINDSET BARU?
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.