JABATAN

0
899

Apa yang terlintas dalam pikiran bila hadir kata “jabatan”? Promosi, kesejahteraan, kekuasaan, kesuksesan, amanah. Kata apa yang pertama kali terucap saat mendapatkan “jabatan”? “Alhamdulillah”, “Syukur ya Allah”, terdiam lalu melakukan sujud syukur, “Innalillahi” kemudian melakukan syukuran. “terima kasih” saat rekan dekat, keluarga mengucapkan kata selamat.

Mindset Islam terhadap jabatan bukan momentum memperkaya diri atau mendapatkan tambahan penghasilan. Bukan itu. Bila jabatan hanya diposisikan sekadar lembaran uang dan kesejahteraan, maka ia murah, bernilai rendah dan berjangka pendek. Saat jabatan berakhir, berakhir pulalah lembaran uang dan kesejahteraan itu.

Jabatan menjadi fitnah (cobaan) saat kita salah menggunakannya. Kesempatan melakukan perbuatan haram lebih terbuka karena kekuasaan berada di tangan kita. Kezhaliman dapat kita produksi kapanpun tanpa kita sadari. Oleh karena itu, mindset Islam perlu membentengi kita dalam memperlakukan jabatan tersebut.

Jabatan adalah amanah, tempat belajar berbasis pengalaman (experiential learning), kesempatan melakukan perubahan dan mewariskan peninggalan baik (good legacy). Karena jabatan adalah amanah, maka diperlukan orang-orang amanah dengan kepemimpinan yang kuat.

Mari kita cermati satu hadist Rasulullah Saw yang menolak permintaan Abu Dzar Al-Ghifari sebagai pejabat.  Sambil menepuk pundak Abu Dzar, Nabi SAW berkata, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Pada hari kiamat nanti, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut” (HR Muslim).

Terdapat beberapa poin penting dalam hadist di atas. Pertama, jabatan tidak layak diberikan kepada orang lemah. Bisa ditafsirkan, lemah di sini sebagai lemah kemampuan, kompetensi, termasuk kepemimpinan (leadership). Lemah dalam idealisme dan tekad, sehingga mudah terbujuk untuk menggunakan amanahnya demi kepentingan pribadi.

Kedua, Jabatan tersebut menjadi fitnah di hari akhir kelak. Hisab para pejabat/pemimpin, secara logis, pasti lebih lama dan berat dibandingkan yang dipimpinnya. Kezhaliman selalu bersumber dari pemimpin tidak pernah sebaliknya. Tentunya, siapapun pasti akan menyesal dengan runtutan pertanyaan saat yaumul hisab kelak, saat jabatan tersebut tidak dapat menambah amal shalihnya.

Ketiga, pejabat yang akan selamat adalah yang amanah. Menjalankan apa yang menjadi kewajibannya. Tidak mengambil keuntungan yang bukan haknya. Dengan kata lain, mindset terhadap jabatan adalah untuk memperbanyak kebaikan. Peluang kebaikan dalam posisi sebagai pejabat tentunya lebih besar. Bayangkan kisah seorang perempuan yang masuk surga karena menolong seekor anjing yang kehausan. Memudahkan seekor hewan dari kesulitannya, Allah Swt ganjar dengan surga, bagaimana dengan pejabat yang meringankan penderitaan manusia, hamba Allah Swt dari himpitan kesulitan? Rugi bila tiket surga tidak ia dapat dari amanah kepemimpinan ini.

Contoh baik (best practice) banyak terserak dari perilaku para shahabat bagaimana memegang amanah. Kisah epik Umar bin Khaththab dengan baju lusuh bertambal dan kebiasaan tidur di kebun kurma, serta berpatroli malam untuuk mengecek keamanan rakyatnya, sulit diikuti pejabat saat ini. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang awalnya tetap berjualan saat beliau diangkat menjadi khalifah, lalu para shahabat melarangnya dan kehidupannya dijamin oleh Baitul Maal. Yang menarik, saat Abu Bakar wafat, beliau hanya meninggalkan tikar tua dan uang sebanyak lima dirham, dan banyak sekali contoh serupa pemegang jabatan masa lalu yang dapat menjadi template bagi kita saat ini.

Mindset Islam dalam mempelakukan jabatan adalah sangat berkelas. Ia memandang jabatan sebagai sarana memperbanyak amal shalih, memberikan kesempatan lebih dalam melayani (riayyah), tempat menempa diri untuk mencapai tingkat kebijaksanaan. Itu semua ia tarik dalam perspektif akhirat. Investasi yaumil akhir. Sehingga saat ia meninggalkan jabatan tersebut, bukan sedih, merana, post power syndrome. Bukan. Ibarat seseorang yang baru lulus sekolah, naik kelas, ia bergembira, bersyukur karena ia telah lulus dalam satu tahapan ujian dunia, disamping ia telah memberikan kontribusi, warna, dan corak, sebagai peninggalan baik dan amal jariyyah. Wallahu’alam bish-shawwab.

Comments

comments

SHARE
Previous articleJANGAN-JANGAN INI RAMADHAN TERAKHIR KITA
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.