Bahagia Itu (Harus) Sederhana

0
104

Rasa bosan karena melakukan aktivitas itu dan itu saja. Kesal karena rekan kita dapat mencapai keinginan-keinginannya. Karir melesat. Kuliah di universitas ternama. Profesi dengan gaji tinggi. Sementara kita, begini-begini saja. Saat reuni pasca lebaran, rekan-rekan kita membanggakan seluruh pencapaiannya. Datang dengan mobil mewah. Jam tangan dan parfum bermerk. Gadget dengan spesifikasi terbaru. Pameran pencapaian ini dengan mudah dilihat sebentar lagi. Kita menduga bahwa pencapaian atas kesuksesan itu pasti membawa kebahagiaan.

Mindset kita perlu di restart. Kita perlu mendefinisikan ulang makna kebahagiaan. Secara biologis, perasaan lega, relax, tenang, dapat menghirup nafas panjang, merupakan respon tubuh bahwa kita tengah bahagia. Sayangnya kita tidak menyadari itu. Keluarnya hormon endorphin di dalam otak saat kita berolahraga, membantu rekan, bahkan bersedekah, memberi sebagian harta atau uang, yang membuat tubuh kita mendapatkan sensasi yang tidak tergambarkan, adalah bahagia. Mungkin bagi segilintir orang, dengan memamerkan harta, flexing, atau banyak orang yang memijit tombol like pada foto-foto flexing akun sosial media kita, memberikan sensasi yang sama: puas, lega. Namun tentunya, hal ini berbeda dan bahaya.

Pertama, saat kita terobsesi bahwa bahagia itu dengan pamer kemewahan, maka kita tengah membawa sensasi bahagia pada harga yang mahal, high cost. Akhirnya, kita sulit untuk mensyukuri segala sesuatu yang kita rasakan setiap saatnya. Sehat, dapat beraktivitas, menolong, berpikir, dan beribadah.

Kedua, sensasi bahagia pada titik tertentu ada batasnya. Ada yang hanya buka puasa dengan satu biji kurma dan nasi hangat dengan telur goreng sudah bahagia. Namun ada yang baru merasa bahagia saat ia berbuka di restoran hotel berbintang. Artinya, saat ia berbuka di restoran yang bukan hotel berbintang, akan merasa biasa-biasa saja. Sensasi bahagianya sudah hilang.

Ketiga, Rasulullah saw mengajarkan arti bahagia dengan sangat sederhana. Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051, Tirmidzi no. 2373, Ibnu Majah no. 4137).

 

google.com

 
Dari tiga hadist tersebut, Rasulullah Saw tidak memberikan syarat atau standar tinggi untuk bahagia. Cukup dengan rasa aman, diberikan sehat dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka bahagia pasti didapat. Dalam hadist berikutnya, Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk selalu melihat kondisi orang yang berada di bawah kita. Semisal, kita memiliki motor, perlu disyukuri karena masih ada yang tidak memiliki motor. Tidak punya kendaraan, perlu bersyukur karena masih dapat berjalan disaat ada yang duduk di kursi roda atau bahkan terbaring di tempat tidur.

Dari paparan tersebut, bahagia itu (harus) sederhana. Tidak perlu kemewahan atau menitipkan kebahagiaan kepada pengakuan pihak luar yang tidak dapat kita kendalikan. Dalam perspektif Islam, saat kita mampu terikat dengan aturan dan perintah Allah Swt, menjalankan apa yang diwajibkan dan menjauhi yang dilarang, sejatinya kita tengah bahagia. Begitupula, bila hari ini, kita tidak sedang bersedih. Maka kita tengah bahagia. Tidak sedang kesulitan uang, maka kita tengah bahagia. Sedang mengerjakan shaum di hari-hari terakhir tanpa kendala, maka kita tengah bahagia. Jadi bahagia itu sederhana. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleJABATAN
Next articleBatas Kecukupan
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.