Batas Kecukupan

0
108

Manusia memiliki default tamak, rakus dan tidak pernah cukup. Ini merupakan penampakan dari naluri mempertahankan diri (gharizah baqa). Allah Swt menggambarkan salah satu sifat buruk manusia, yaitu tidak pernah merasa cukup (QS. At Takatsur, ayat 1). Kita pun demikian. Penghasilan berapapun, tidak pernah merasa puas. Selalu kurang. Setiap ada barang baru di toko online, kita ingin segera memilikinya. Padahal, barang sejenis sudah kita punya. Saat kita beli barang baru tersebut, alih-alih bahagia, kita merasa biasa-biasa saja.

Hedonic treadmill begitu kira-kira sebutan orang yang sulit puas dan tidak dapat bahagia atas yang ia miliki. Tubuh terus menuntut lebih dan lebih. Sehingga, batas kecukupan menjadi tidak terhingga. Bahayanya, manusia memiliki kecenderungan terkena hedonic treadmill  jika tidak segera dikembalikan pada lintasan yang seharusnya. Rasulullah Saw pernah mengingatkan:

“Belum beriman seseorang diantara kamu sampai kamu menundukkan hawa nafsumu pada (ajaran Islam) yang aku bawa” (HR. Hakim).

Dalam hadist ini, Rasulullah memberikan solusi, batas merasa cukup adalah ajaran Islam.
Selain itu, Islam mengajarkan konsep “merasa cukup”, yaitu qanaah. Dalam konsep ini, manusia dilatih untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus dipenuhi pada batas cukup. Lapar dipenuhi dengan makan. Porsi makan yang cukup. Kenyang. Tidak berlebih. Dalam kualitas makan, Islam mengatur dengan konsep thayyib dan halal. Artinya, bila lapar dipenuhi dengan menu makan yang berlebih, mahal, terlebih lagi flexing di media sosial. Tentunya, sudah keluar dari konteks kebutuhan makan. Ia menjadi life style, keinginan. Ini harus dihindari.

Standar menu makan yang cukup, kisaran harga dan tempat makan, tentunya relatif. Namun jelas, Islam tidak memaksakan makan dengan menu, harga dan tempat yang di luar jangkauan kita. Makanlah berdasarkan kemampuan kita. Tidak perlu memaksakan diri.

Saat ini, dimunculkan “paksaan pencapaian” bahwa jika usia 20 tahun, 30 tahun atau 42 tahun belum memiliki saldo tabungan satu milyar, investasi, maka disebut gagal. Sehingga banyak orang yang terobsesi dan tidak sedikit yang tertekan saat di usia itu belum memiliki apa-apa. Padahal, pertanyaan sederhananya, darimana asal batasan atau standar pencapaian tersebut. Manusia memiliki jalan hidup yang berbeda, pengalaman hidup dan nasib yang tidak sama. Kita tidak dapat menyamakan kondisi orang lain dengan kita, dan juga sebaliknya. Do not put yourself in someone’s shoes. Begitu pepatah Barat mengingatkan. Kata-kata motivasi seperti, “Jika saya dapat menjadi milyarder, maka anda pun pasti bisa”, tidak sepenuhnya benar. Kita dapat menjadi orang yang unik sesuai minat kita. Tidak perlu harus menjadi milyarder. Karena itu kembali pada pilihan kita.

Batas kecukupan harus dibangun dengan mengubah pola pikir terhadap kehidupan. Kita harus memandang pekerjaan sebagai bagian kewajiban, minat, passion, pencapaian karya. Bekerjalah seperti kita tidak membutuhkan uang. Bekerjalah untuk karya dan pencapaian. Bukan untuk uang. Bekerjalah karena kita menikmati dan mencintai pekerjaan kita. Sementara itu, uang perlu diposisikan hanya sekadar alat tukar untuk kebutuhan kita. Konsep ini mengajarkan keikhlasan dalam bekerja dan sekaligus memberikan batasan bahwa uang hanya akan dibelanjakan pada kebutuhan (need) bukan keinginan (want) apalagi untuk gaya hidup. Sekilas hampir sama dengan konsep “bekerja untuk uang”. Namun sebenarnya memiliki implikasi yang berbeda.

“Bekerja untuk karya” berarti memposisikan uang sebagai “hamba”. Ia akan melayani kita dengan baik. Sekaligus kita memberi batasan kecukupan kita. Rasa cukup (qanaah) pasti akan senantiasa menjaga sensasi bahagia. Terhindar dari hedonic treadmill. Sementara, “bekerja untuk uang” artinya menjadikan uang sebagai “tuan”. Dan uang adalah tuan yang jahat. Kita akan terjebak dengan hedonic treadmill, rasa yang tidak pernah puas, jauh dari kata cukup, bahkan ujungnya terjerambab pada situasi sulit karena kita akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Pepatah mengatakan “uang adalah hamba yang baik, sekaligus tuan yang jahat”.

Dalam urusan dunia, batas kecukupan adalah terpenuhinya kebutuhan. Itupun kita harus selalu melihat ke bawah, tidak ke atas. Bukan sebuah dosa, bila kita tidak berjanji tentang di usia berapakah memiliki rumah mewah, kendaraan bagus atau pekerjaan mapan.  Tidak seperti para entertainer di televisi yang dibayar berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus juta, kehidupan glamor dan rumah bak istana. Yang sebaiknya kita lakukan adalah jalani kehidupan dengan sebaik-baiknya sesuai batas kemampuan kita dan nikmati seluruh proses pencapaian tersebut. Rasakan sensasi bahagia pada setiap karya yang tengah dan telah dibuat. Bersyukurlah bila karya tersebut membawa pada kebaikan. Wallahu’alam bishshawwab.

Comments

comments

SHARE
Previous articleBahagia Itu (Harus) Sederhana
Next articleIDUL FITRI DAN KETAATAN
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.