IDUL FITRI DAN KETAATAN

0
69

Kurang dari lima hari, Ramadan tahun 2022 meninggalkan kita. Tidak terasa. Suasana Ramadan tahun ini pastinya berbeda dengan tahun sebelumnya. Setelah pandemi Covid 19 menerpa negeri kita awal tahun 2020, baru tahun ini, pemerintah membolehkan kembali mudik. Diprediksi 83 juta masyarakat melakukan mudik. Tentunya, ini menggembirakan.

Meski Ramadan akan hadir pada setiap tahunnya hingga hari kiamat nanti, dengan pesan yang sama:  meraih derajat takwa, namun suasana, momen dan situasinya pasti akan berbeda. Setidaknya, usia kita berbeda. Ramadan tahun depan, Insyaallah, akan kita lakukan di usia lebih tua satu tahun dibanding saat ini. Begitu seterusnya, untuk tujuan yang sama, yaitu la’allakum tattaquun, “Agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah, 183).

Takwa merupakan sesuatu yang terukur. Menjalani, melaksanakan, mengikuti secara taat perintah Allah Swt dan menjauhi secara sadar larangan Allah Swt. Dua perbuatan ini bila diikuti akan mendapatkan pahala dan berdosa bila dilanggar. Konsep pahala dan dosa ini ghaib. Kita tidak dapat mengkonkritkan pahala dan dosa. Namun, hal ini merupakan konsekuensi  keimanan seorang muslim terhadap hal ghaib. Ia membenarkan apa-apa yang tidak tampak selama ia dinyatakan Allah Swt dan RasulNya dalam Al-Quran dan Al-hadist.

Takwa inilah yang membentuk standar perbuatan seorang muslim, yaitu halal dan haram. Inilah yang dilatih dalam shaum Ramadan selama satu bulan penuh. Sayangnya, sebagian kita hanya menjalankan aktivitas Ramadan sebagai rutinitas. Tidak menambah nilai (value) dalam perilakunya. Terjebak pada simbolisme ritual. Menahan lapar dan dahaga, namun tidak mengubah pola pikir untuk mentaati seluruh aturan-aturan Allah Swt. Karena itulah, shaum tidak mampu menghentikan sikap koruptif, tamak dan perbuatan-perbuatan negatif lainnya. Kita adalah orang yang sama sebelum dan sesudah Ramadan. Padahal, Idul fitri merupakan perayaan bahwa kita seharusnya kembali fitri. Bersih, sebagaimana nasihat Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada putrinya.

“Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, Akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan.”

Takut kepada hari akhir hanya adalah ciri  orang-orang bertakwa. Imam Ibnu Rajab lebih lanjut mengingatkan,
“Dan bukanlah hari raya itu milik orang yang berhias dengan pakaian yang indah dan kendaraannya mewah, tetapi hari raya itu adalah milik orang yang telah diampunkan baginya dosa-dosanya.”

“Bukanlah hari raya itu milik orang yang berpakaian baru, akan tetapi (sebenar-benar) hari raya adalah milik orang yang ketaatannya bertambah.”

Dalam setting masyarakat kapitalis kini, berlomba-lomba menunjukkan pencapaian sosial adalah keharusan. Selalu kita disuguhi situasi keramaian pusat belanja mengalahkan masjid. Tuntutan THR. Sikap konsumtif masyarakat makin menjadi menjelang Idul Fitri. Bahkan festivalisasi kekayaan dan pencapaian ditunjukkan pula saat silaturahmi atau acara sejenis seperti reuni akbar, family gathering. Memang hal itu kembali pada masing-masing kita, namun bila tidak berhati-hati, aktivitas pasca Ramadan ini bisa larut pada riya, menggerogoti amal ibadah yang telah kita lakukan.

Para shahabat sendiri setelah selesai menjalani ibadah Ramadan, mereka senantiasa berdoa agar amal ibadahnya diterima Allah Swt dan diikuti dengan harapan bertemu Ramadan berikutnya. Aktivitas yang mungkin tidak mainstream untuk saat ini. Oleh karenanya, kita harus terus merenung, mengkaji diri dan ajaran Islam yang dipraktikan para shahabat agar Ramadan ini memberikan dampak pada nilai diri dan kehidupan. Tidak hanya sekadar gugur kewajiban dan tidak memberikan perubahan apapun dalam kualitas hidup kita.

Semoga kita semua adalah orang-orang yang kembali fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleBatas Kecukupan
Next articleANTARA VALUE DAN HERD MENTALITY
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.