ANTARA VALUE DAN HERD MENTALITY

0
263

Perbedaan manusia satu dengan yang lain adalah dari cara ia memandang dunia. Saat ia menjadikan dunia, dan kekayaan materi sebagai tujuan hidupnya, ia akan menghabiskan 24 jam waktu, usia dan kehidupan untuk mencari pundi-pundi dunia. Selaras dengan itu, sukses dalam perspektifnya adalah kaya harta. Anak keturunannya menikmati harta yang ia turunkan. Bisnisnya harus menjadi nomor satu. Keuntungan yang didapat dari perusahaannya harus terus meningkat.

Tentunya berbeda dengan manusia yang memandang dunia sebagai tempat singgah sementara.  Materi tidak ia jadikan sebagai tujuan hidupnya. Alasannya sederhana. Karena ia tidak abadi. Ia akan ditinggalkan cepat atau lambat. Harta yang ia kumpulkan akan habis atau dibagi dengan ahli waris. Sementara si pengumpul harta tidak akan membawa serta materi yang ia usahakan ke negeri akhirat. Tidak.

Dari dua perspektif di atas, tidak sulit kita menjatuhkan pilihan bahwa contoh terakhir dimana dunia hanya tempat singgah sementara adalah pola pikir yang benar. Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Jawabannya ringkas. Mengumpulkan amal shalih sebanyak-banyaknya hingga ajal menghampiri kita.

Dalam semangat mengumpulkan amal shalih tersebut, kita harus mengenal konsep nilai (value). Konsep nilai inilah yang akan lebih membedakan kita dengan yang lain. Sederhananya, dalam minuman. Harga kopi hitam di jalan berkisar Rp. 3000. Bila kopi hitam ini dituangkan di dalam cangkir cantik berwarna putih dengan logo siluet perempuan berambut panjang dengan dasar hijau kemudian diberi nama American Coffee atau Black coffee, harga kopi tersebut akan naik drastis. Terlebih diminum bersama klien bisnis senilai milyaran dollar di tempat yang nyaman. Padahal sama-sama kopi hitam. Hanya beda merk (branded), beda gelas kopi itu dituang dan tempat ia diminum.

Inilah value. Ia meningkat mengikuti wadah, keunikan branded, tempat serta dengan siapa ia diminum. Hidup pun demikian. Banyak value dalam hidup yang patut diselami. Agar kita memiliki cara pandang unik terhadap dunia. Tidak terjebak pada mob/herd mentality.  Keinginan berbuat sesuatu atas dasar viralnya perbuatan itu. Video goyang ubur-ubur sempat viral. Banyak yang mengikutinya. Disebut ketinggalan jaman bila tidak punya diri sendiri tengah goyang ubur-ubur. Muncul goyang dengan lampu senter handphone dengan lagu dugem berjudul Cinta Sampai Mati. Sempat ramai juga aksesoris seperti batu akik, daun janda bolong, gelombang cinta, anturium, ikan koi. Semua orang seolah harus mengikuti tren tersebut bila tidak ingin disebut ketinggalan jaman.

Memahami value dunia berarti mencegah masuk dalam herd mentality. Salah satu nilai dalam dunia yang unik adalah hidup untuk akhirat. Bekerja untuk pencapaian, nilai dan akhirat. Bukan untuk uang. Bekerja untuk kemajuan dan kemaslahatan manusia, bukan untuk pangkat dan jabatan. Bekerja selayaknya tidak memerlukan lagi uang. Berani memberikan sumbangan besar bahkan saat ia sedang membutuhkan uang. Rela kehilangan harta dan nyawa demi perjuangan meraih akhirat. Ini yang unik.

Dunia bagi yang memiliki value tidak menarik, bahkan digambarkan seperti nenek tua. Sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau menuturkan, “Pada hari kiamat nanti, dunia dibentangkan dalam wujud orang tua berambut kelabu, berkulit biru, dengan taring-taring yang mencuat dan fisik yang jelek.” Wanita tersebut memandang para makhluk. Para makhluk ditanya, “Apakah kalian mengenal wanita ini?” Mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Allah dari wanita ini.” Dikatakan kepada mereka, “Dia adalah dunia, yang karenanya kalian bermusuhan, memutus hubungan kekerabatan, saling hasad dan saling membenci, kalian juga tertipu olehnya. Kemudian wanita itu pun dilemparkan ke dalam jahanam.” Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku dimanakah para pengikut dan golonganku?” Allah, “Susulkan juga para pengikut dan golongannya.”

Popularitas, ingin dipandang ada, selalu mengikuti tren, meski tidak paham apa maksudnya, sindrom herd mentality. Tidak sepenuhnya jelek memang. Namun larut atas hal tersebut tanpa memperdalam maksud dan tujuan, menunjukkan kepandiran kita terhadap dunia. Yakinlah kita akan merugi. Minimalnya menghabiskan waktu tanpa ada nilai. Sementara itu, mereka yang memegang value, akan melihat dari sisi yang unik. Kebermanfaatan bagi dirinya dan masyarakat. Manfaat yang tidak menyelisihi norma agama. Mereka yang memiliki value dalam hidup, akan tidak mainstream, unik. Penuh dengan konsep dan visi.

Harapan kita, masyarakat akan maju bila ia mulai menggeser cara pandang dunia dari sekadar simbolisme materi kepada value. Ia tidak gagap terhadap perubahan, justru mengikuti setiap lompatan disrupsi. Bahkan, ia akan berselancar dalam perubahan yang kompleks dan cenderung chaos dengan cara pandang value. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments